Selasa, 29 Mei 2012

Sepotong Realisme Sosialis, Manikebu, Lekra

Dunia politik berbeda dengan dunia kesenian, keduanya memiliki aturan tersendiri. Tetapi bila politik berhasil menyelinap ke kesenian, maka jangan tanya bila terjadi penyimpangan. Begitulah yang terjadi di Rusia pada tahun 1917-an, juga di Indonesia pada tahun 1950-an. Sebelum eksesnya sampai ke Indonesia, revolusi di Rusia, dengan tangan kekuasaannya telah menunggangi segala otonomi berbagai aspek yang ada di dalam masyarakat. Atas dasar kemajuan, masyarakat yang sejahtera, di negeri sosialis itu, ucapan seorang Stalin yang dikultus harus didengar dan tak terbantah. Memang tak dapat dimungkiri jika konsep realisme sebenarnya rentan oleh kepentingan-kepentingan politik. Tetapi apa boleh buat, di masa tersebut, tak ada wilayah mana pun yang tak tersentuh politik. Begitu pun di Indonesia pada masa demokrasi terpimpin, ketika presiden Soekarno menganggap Manikebu sebagai kontrarevolusioner. Namun kemudian, Goenawan Mohamad mencoba meluruskan hal itu, bahwa apa yang diusung oleh humanisme universal sebenarnya menyimpan suatu semangat untuk memihak. Jadi bukan untuk ”mengaburkan sasaran perlawanan”. Konflik-konflik yang berkembang saat itu tiada lain karena anggapan masing-masing rumusan adalah yang paling benar. Sekalipun Manikebu beralasan bahwa dunia itu bukan sorga dan mengakui adanya keterbatasan, tetapi di situ terkandung juga suatu manifesto yang disodorkan ke publik sebagai pernyataan sikap. Apalagi ditambah dengan rumusannya Lekra yang begitu kontradiktif dengan Manikebu. Perseteruan di antara kedua kubu itu bersifat politis. Melalui Lekra, Pram gencar menyerang Manikebu, terutama Jassin yang dianggapnya sebagai biang propaganda humanisme universal yang menurutnya melempem, gentar dan terhadap revolusi yang tengah berlangsung. Tetapi ada baiknya, sedikit kita apungkan pengertian ”politik” yang nyatanya jamak, tidak mengandung ketunggalan makna. Menurut Lukacs, yang dimaksud ”politik” dari Gottfried Keller ketika mengomentari seni realis ialah ”tindakan, pikiran, dan emosi manusia yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dan perjuangan komunitas”. Sementara itu, Joebaar Ajoeb, sekertaris umum Lekra, mengatakan lain. Ia mengartikan bahwa kata ”politik” yang terselip dalam semboyan ”Politik adalah Panglima”, diartikan sebagai ”wawasan, bukan lembaga atau orang, apapun ia.” Barangkali tanpa menilik dengan teliti, kadangkala timbul syak wasangka yang berujung pada kesalahpahaman. Dan yang perlu kita tahu bahwa tak ada satu pengertian yang definitif mengenai politik. Seni untuk masyrakat Dengan keterbatasan bahan bacaan kala itu, banyak di antara pengarang-pengarang Lekra yang gandung kepada realisme sosialis. Kedua bentuk terminologi yang digabung itu, realisme dan sosialis, lahir karena kecenderungan budaya kapitalis. Realisme yang pada awal saya katakan, rentan oleh kekuasaan, pada waktu itu berbeda dari konsep realisme klasik yang mendasarinya. Kembali pada uraian Lukacs, teori realisme klasik itu berlatar pada kesanggupan daya akal budi menangkap realitas sebagaimana adanya. Lalu Pram membagi realisme menjadi dua: realisme-Barat atau borjuis dan realisme sosialis. Menurut Pram, realisme-Barat, memiliki kecenderungan yang dengan realitas melawan realitas itu sendiri agar memenangkan idealisme. Sebaliknya realisme sosialis yang diagungkannya itu, menempatkan realitas sebagai bahan-bahan untuk menyempurnakan pemikiran dialektik. Pada titik ini, kalau kita meneruskan gagasan kedua aliran ini, maka kita sampai pada persoalan ”seni untuk seni” dan ”seni untuk masyarakat.” Plekhanov, seorang Marxis dari Rusia, punya pikiran yang menarik dalam kasus ini. Ia merumuskan pertanyaan demikian: ”Dalam keadaan-keadaan sosial paling mendasar bagaimanakah para seniman dan orang-orang yang sangat berminat pada seni beranggapan dan dirasuki oleh keyakinan akan seni untuk seni?” Untuk menjawab pertanyaan itu, Plekhanov mengisahkan tentang Pushkin yang pada saat tertentu memercayai teori seni untuk seni. Ada suatu hal yang mendasari perubahan sikapnya itu: keluhan terhadap jerat kekuasaan. Pada tahun 1826, ia ditekan oleh kaisar Nikolas I dengan tangan kanannya, Benkedorf, seorang polisi. Selama sisa hidupnya itu, ia menulis di bawah kendali. Tetapi pada akhirnya, kaisar pun insaf. Ia menyadari kekeliruannya. Ia kemudian menghormati Pushkin bukan untuk hal-hal besar yang pernah ditulisnya semasa hidupnya yang pendek, melainkan apa yang mungkin ditulisnya ketika Pushkin berada di bawah kendali dari kekuasaan. Barangkali di tengah-tengah kobaran revolusi itu, bagi penganut paham realisme sosialis, perubahan sikapnya Pushkin itu dapat dimaafkan dan dimaklumi. Adakah sama halnya ketika Pram menyerang kubu Manikebu yang dicerca tak revolusioner itu? Bukankah para penandatangan Manikebu dalam Penjelasan Manifes Kebudayaan membedakan antara realisme sosialis yang ”merupakan kelanjutan pemikiran Stalin dan yang berangkat dari jalan pikiran Maxim Gorki. Dan, jalur realisme sosialis Gorki-lah yang ”menempuh politik sastra universal” yang segaris dengan arah pikiran Manikebu. Terlepas dari realisme sosialis-kah ataupun humanisme universal-kah yang harus dijadikan rumus kesenian. Dengan merujuk pikiran Chernyshevsky, fungsi seni ialah untuk memproduksi kehidupan dan untuk melakukan penilaian atas gejala-gejalanya. Bahwa aliran-aliran kesenian pada dasarnya juga berfungsi untuk dan kembali pada masyarakat itu sendiri. Tidak ada satu pun konsep yang mutlak, apalagi tangan kekuasaan yang mencampuri kegiatan kreativitas seniman. Itu hanya membuat kesenian seperti kata benda, bukan kata kerja. Sumber : http://majeliskantiniyah.wordpress.com

Tidak ada komentar: