Senin, 30 Juni 2014

Penyadaran dari Sebotol Kecap






Hari Sabtu, Mei 2014. Seperti hari sebelumnya, saat masa libur saya selalu menyempatkan untuk mengisi hari dengan bersih-bersih rumah. Bahkan sesekali saya menghibur diri dengan memasak.

Sementara isteri saya, mengantar kedua anak saya sekolah. Mereka baru akan kemballi ke rumah setelah lepas pukul 11. 30 WIB. Di tengah keheningan itu, saya menyibukkan diri dengan sejumlah aktifitas rumah. 

Biasanya tumpukan pekerjaan itu dilakukan isteri saya, jauh sebelum fajar menjelang. Tapi sudah menjadi tradisi di dalam rumah tangga saya, ketika Hari Sabtu dan Ahad, saya menggantikan “posisi” isteri saya. 

Pendapat sejumlah orang yang mengatakan; “Perempuan selalu identik dengan memasak, mencuci dan mengurus anak” sudah sejak menikah di tahun 2004, atau bahkan sejak saya merantau 1990-an, pola pikir seperti itu sudah jauh dari benak kami. 

 Bagi saya, urusan sumur, dapur dan kasur, bukan hanya urusan perempuan, tetapi menyangkut tanggungjawab bersama dalam rumah tangga. Jadi di rumah saya, urusan dapur, sumur dan kasur, “tidak mengenal kelamin”. Sebab perbedaan laki-laki dan perempuan hanya persoalan haid, melahirkan dan nmenyusui. 

Selebihnya menjadi tanggungjawab bersama antara suami dan isteri. Saat rumah dalam keadaan “sepi” saya kemudian membereskan apa yang bisa saya lakukan. Dari depan sampai belakang. Ketika pekerjaan usai, saya kemudian baru mengambil sepering nasi, sayur dan sambel tomat hasil dari “olahan” saya. Tak lupa segelas air putih dan kopi pahit tanpa gula, selalu mendampingi sarapan pagi saya. 

Tapi saat saya hendak memulai sarapan, saya merasa ada yang terlupa. “O, iya kecap manis, ternyata belum melengkapi sarapan pagi itu,” ucap saya dalam hati. Entah berapa kali saya harus bolak balik ke dapur untuk mencari kecap. Saya benar-benar lupa. Sebab ketika saya membereskan dapur, biasanya semua benda yang sebelumya teratur, pasti saya “bongkar” dan kemudian saya rapikan lagi. 

Tapi kali itu saya benar-benar lupa dimana meletakkan sebotol kecap, yang biasanya diatas meja makan. Karena saya tidak mau pusing, saya melanjutkan sarapan sampai tuntas. Setelah cuci tangan, saya harus mengeringkan tangan dengan lap makan. Ketika itu saya baru ingat, lap tangan masih saya letakkan diatas lemari es. Saya lupa membereskan. “Allahu Akbar!” ujar saya spontan. Ternyata botol kecap yang saya cari persis berdampingan dengan lap tangan. Ketika itu, batin saya tersentak dan tersadar. 

Ternyata Tuhan sedang menunjukkan letak botol kecap, dengan cara “memerintahkan” saya mengambil lap makan. Keterlupaan saya terhadap botol kecap, ternyata ditunukkan Tuhan melalui lap tangan. 

Demikian bijak Tuhan memberikan “petunjuk” kepada hamba-Nya. Seringkali, dalam keseharian, apakah saya, Anda dan siapapun mengalami ke-alpaan terhadap sesuatu yang wajib ketemu. Tetapi saat dicari, benda yang ‘wajib ketemu’ itu tidak juga ditemukan. Hingga akhirnya kita sering memarahi ke semua anggota keluarga. 

Menyalahkan rekan kerja. Tidak jarang, emosi kemudian meledak. Tetapi setelah beberapa menit, atau beberapa hari kemudian, ketika kita tidak mencarinya, Tuhan selalu menunjukkan dengan “jalan lain” sama seperti saya, untuk menemukan botol kecap, saya “dipaksa” untuk lebih dulu mencari lap makan. Saat itu Tuhan seolah sedang berkata pada saya ; keterlupaanmu sengaja Aku ciptakan untuk setiap mahluk, supaya mahluk ciptaan-Ku sadar dan mengerti tentang keterbatasannya. “Hanya Aku yang Maha Tahu,” kata Tuhan pada saya. 

 Komplek Polygon – Palembang, 13 Mei 2014

Mutiara Hati Kebohongan

24 Desember 2013. Pukul 10.35 WIB. Isteri saya pulang dari menjemput, Kahfi, anak saya yang kali itu masih di TK Nol Kecil. Wajah isteri saya kali itu tampak lelah, karena sejak pukul 08.00 – 10.30 WIB harus menunggu Kahfi di sekolah. Sebagai suami, saya kemudian menyodorkan segelas air putih sebagai pelega dahaga tenggorkan isteri saya. “Kok msih di rumah,” tanya isteri saya. “Besok koran tidak terbit karena Hari Natal, jadi hari ini libur,” jawab saya. “Jadi hari ini dan nanti malam, ayah full di rumah?!” isteri saya tampak girang, karena bila hari kerja, waktu saya hampir separuh malam, tersita untuk mengurusi surat kabar harian Kabar Sumatera. Risikonya saya setiap hari harus pulang pagi. Karena besok Hari Natal, kali itu saya punya waktu panjang untuk bercengkrama dengan keluarga. Untuk mengisi hari kosong, seperti biasa saya melakukan apa saja yang bisa saya lakukan, yang penting saya jangan tidur. Kebetulan ada tugas pribadi yang harus saya selesaikan hari itu, sehingga saya punya waktu banyak untuk bertemu dengan isteri dan anak-anak saya. Di tengah ke-asyikan saya menulis, tiba-tiba isteri saya mengajak bercerita. “Bu, Yayah, guru Kahfi tadi menggerutu,” seketika isteri saya membuka pembicaraan. Sesaat, saya kemudian menghentikan jemari saya yang sibuk dengan laptop. Sebagai suami, kapan dan dalam kondisi apapun perasaan saya, kali itu saya berkewajiban mendengar cerita atau bahkan keluhan isteri saya. Meskipun tema yang dibicarakan kadang-kadang tidak terlalu menarik. “Memang kenapa kok sampai Bu Yayah menggerutu?” tanya saja memancing cerita. Isteri saya masih mengibas-ngibaskan jilbabnya yang sudah dilepas, untuk mengurangi hawa panas di dalam rumah karena kali itu kipas angin juga sudah rusak. “Bu Sar, salah satu wali murid sempat janji sama Bu Yayah,” lanjt iseri saya. “Memang janji apa, kok sampai seserius itu,” tanya saya lagi. “Katanya Bu Yayah, wali murd yang namanya Bu Sar mau membuatkan bolu-lah, mau membawakan sayur masakan dia-lah. Sampai Bu sar akan membawakan dan oleh-oleh untuk Bu Yayah, karena suami Bu Sar baru pulang dari luar kota,” lanjut isteri saya lagi. “Lantas apa masalahnya, sampai Bu Yayah menggerutu?” kata saya setengah ingin tahu. “Ya, itu tadi. Janji tinggal janji. Bu Sar tidak pernah menepati omongannya. Makanya, Bu Yayah kesal. Kata Bu Yayah ; dia itu banyak janji bohong. Katanya mau bawakan saya ini dan itu, tapi cuma ngomong doang! Dasar perempuan!” ujar isteri saya menirukan Bu Yayah yang kesal pada Bu Sar. “Salah Bu Yayah sendiri! Hari gini kok masih percaya dengan janji. Jangankan Bu Sar, sekelas anggota dewan, kiai yang berpolitik, bupati, wali kota, gubernur dan presiden saja, sekarang masih suka bohong, apalagi level wali murid?!” saya menimpali. “Temanya kok jadi lebar, sampai gubernur segala! Ini cuma cerita Bu Sar dan Bu Yayah di sekolah,” isteri saya agak kesal dengan celoteh saya yang agak melebar. “Lho, maksud ayah kalau janji bohong itu mau diibaratkan ikan, pasti busuknya dari kepala dulu. Jadi kalau kepalanya sudah busuk, seluruh badannya juga akan busuk. Sama dengan janji bohong tadi. Kalau dari pucuk pimpinan saja sudah busuk alias mengajari janji bohong, rakyatnya akan meniru juga pembohong,” saya buat analogi yang menurut saya agak sesuai. “Tapi, ya tidak bisa begitu. Masak, keburukan orang di bawah kemudian jadi pembenaran kebohongan! Nggak wajar. Itu tergantung orangnya. Sudah, ah! Kok jadi ngelantur!” isteri saya kian kesal. Wajahnya mulai bersungut. Hampir saja ia beranjak dari tempat duduk dan ke kamar. Tapi tidak jadi, karena saya bahunya saya tahan. “Oke! Oke! Say, jangan marah dulu. Ayah siap dengar!” Saya mencoba menenangkan isteri saya yang kekesalnnya mulai menebar. “Terus, apa kata Bunda?” saya memancing dialog lagi. “Tadi Bunda cuma ngomong sama Bu Yayah : Bu, kalau kita berharap dengan manusia memang begitu. Kan Bu Yayah sendiri yang bilang, katanya banyak wali murid yang bercerita, kalau janji Bu Sar itu tidak prnah ditepati. Jadi kenapa Bu Yayah masih percaya?” ujar isteri saya setengah menyalahkan Bu Yayah. “Bener kata Bunda tempo hari, kalau kita berharap dengan manusia, tidak bisa dipegang omongannya. Banyak yang meleset,” Bu Yayah seketika inat lagi dengan obrolan sebeumnya dengan isteri saya. “Itu risiko, Bu. Makanya lain waktu kita jangan berharap dengan mahluk, karena banyak bohongnya,” tambah isteri saya. “Maksud Bunda mahluk halus?” Bu Yayah berseloroh. Sepertinya Bu Yayah belum nyambung dengan arah jawaban isteri saya. “Ah! Bu Yayah ini, kok mahuk halus. Maksud saya, lebih baik kita berharap dengan yang menciptakan mahluk. Pasti tidak pernah bohong!” ujar isteri saya mengutip dari Kiai Madjid yang pernah didengarnya saat masih tinggal di Tanjung Enim. “Ah, Bunda ini seperti ustadzah saja,” ujar isteri saya menirukan Bu Yayah. Saya yang mendengar hanya manggut-manggut. Dalam hati, saya berharap agar cerita isteri saya kali itu, bisa memberi pelajaran dan mutiara hati bagi saya, atau kepada siapapun, agar setiap perilaku fisik dan batin dalam menghidupi keluarga, untuk selalu berhara kepada Sang Pencipta Mahluk dan bukan pada mahluk ciptaan-Nya.** Jalan Swadaya – Palembang, 27 Desember 2013 Pukul. 02.03 WIB.