Tampilkan postingan dengan label KOLOM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOLOM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Mei 2012

Pak Menteri, Seprainya Tolong Dirapikan Dulu

Oleh Imron Supriyadi
Suatu ketika, saya punya waktu libur yang cukup di rumah. Liburan itu kemudian saya manfaatkan untuk ikut melakukan bersih-bersih ruang tamu, ruang makan sampai tempat tidur.

Apa yang saya lakukan sebagai hiburan, setelah dalam beberapa pekan saya disibukkan oleh pekerjaan yang tidak berhubungan dengan kamar tidur.

 Meski saya tidak pernah kursus di lembaga pendidikan perhotelan, saya mencoba belajar bagaimana merapikan tempat tidur, membersihkan kamar dan ruang lainnya. 

Setelah saya membersihkan lantai ruangan dengan sapu dan kain pel, saya kemudian merapikan tempat tidur. Usai bersih-bersih, saya berdiri mengamati lantai yang sudah mengkilat dan harum. Isteri saya ikut nimbrung di belakang saya melhat hasil pekerjaan saya. Ia tersenyum. Sementara kedua anak saya, Anisa dan Muhammad Kahfi, sudah asyik bermain di ruang lain. “Kok, tempat tidurnya belum dirapikan?,” tanya isteri saya setengah mengkritik. “Setelah ini, baru merapikan tempat tidur,” jawab saya tanpa menimbang kalimat apa yang akan muncul dari mulut isteri saya. “Mestinya tempat tidur dulu di rapikan, baru lantai yang disapu,” isteri saya meluruskan pola kerja saya pagi itu. “Memang ada undang-undang yang mengatur harus merapikan tempat tidur dulu baru menyapu lantai?” jawab saya setengah tidak menerima. “Bukan masalah undang-undang! Tapi kalau membersihkan tempat tidurnya belakangan, nanti lantainya kotor lagi oleh debu dari atas seprai. Belum lagi kertas-kertas kecil bekas mainan anak-anak kita juga jadi sampah,” isteri saya berargumen meluruskan sistem kerja saya yang dinilai tidak efektif. “Memang tidak boleh, kalau menyapu lantai dulu baru merapikan tempat tidur?” kata saya masih belum terima dengan aturan yang setengah dibuat-dibuat. “Itu namanya dua kali kerja. Lantai sudah bersih, nanti kotor lagi, terus disapu lagi. Tidak efesien. Terlalu banyak menyita energi,” kata isteri saya agak bersungut kesal. “Jadi menurutmu bagaimana? Apa karena alur pekerjaanku dianggap salah kemudian sia-sia?” tukas saya memandang kearah isteri saya. “Bukan sia-sia. Tapi kurang tepat. Pekerjaan Ayah sudah baik tapi belum benar, atau sebaliknya sudah benar tapi belum baik,” kata isteri saya mengutip istilah Budayawan Emha Ainun Nadjib, “Jadi?!” kata saya mulai kesal. “Ya tidak jadi-jadian, Kok jadi!?” isteri saya tidak lebih kesal dari saya. “Kalau bekerja di pemerintahan seperti yang Ayah lakukan, kasihan rakyat,” kata isteri membuat saya terkejut. “Kok sampai sejauh itu?” “Lho, kenapa heran. Selama ini kan rakyat selalu jadi sasaran yang dipersalahkan. Kalau ada tindakan anarkis, rakyat yang jadi korban. Konflik politik di tingkat atas, rakyat juga yang jadi bingung. Kalau para wakil rakyatnya suka ngomong bohong, atau debat soal yang tidak ada kaiatannya dengan rakyat, kotorannya juga tertumpah di hati rakyat. Hukum di negeri ini juga begitu, kan? Kalau sudah ke bawah seperti pisau, tajam. Tapi kalau keatas jadi tumpul. Rakyat malah diajak kong kalikong jual beli pasal, supaya tuntutannya menjadi ringan atau bisa bebas tanpa tuntutan. Itu kan yang megajari dari para pengelola negara yang duduk diatas kursi. Kotorannya masih juga rakyat yang nanggung. Makanya, kalau seprainya dibersihkan belakangan, nanti kotoran dari tempat tidur akan balik lagi ke lantai yang sudah disapu,” kata isteri saya nyerocos. “Jadi menurutmu bagaimana?” saya kembali memancing argumentasi. “Yang dibersihkan dan dirapikan harus bagian atasnya dulu. Pak Menteri, Pak Presiden, dan aparat penegak hukum, harus membersihkan seprai tempat tidur dulu, supaya rakyat yang sudah bersih-bersih di bawah tidak dikotori lagi oleh debu-debu seprainya Pak Menteri dan Pak Presiden. Kalau kebersihan itu tidak dilakukan dari yang paling atas dulu, nanti lantai di bawah yang sudah bersih, hanya akan menjadi tong sampah. Apa mau kalau rakyat hanya menjadi tumpahan sampah dari pengelola negara yang tidak bermoral?” isteri saya terus menyerang. “Pekerjaan besar hanya akan baik, kalau diawali menyelesaikan dengan baik pekerjaan kecil. Jadi menyelesaikan pekerjaan dengan cara yang baik dan berkualitas hari ini, juga menjadi penentu hasil di masa depan. Kalau dari awal salah cara dan metode, jangan harap hasilnya akan baik dan benar. Mosok kita sebagai rakyat kecil mau terus-terusan jadi tong sampah dari seprainya Pak Menteri dan Pak Presiden, nggak lah yaw!” tegas isteri lagi. “???” Saya tercenung. Palembang, 10 Agustus 2011

Tuhan, Mohon Maaf Saya Batal Ke Makkah

Oleh Imron Supriyadi

Amin Rais, tokoh reformasi Indonesia pernah mengaku belum menunaikan ibadah haji, ketika dirinya sempat membaca kisah yang dituturkan tokoh sosialisme Islam, Ali Syariati. Dalam tulisannya, sosiolog muslim ini mengisahkan tentang orang yang mendapat haji mabrur.

Suatu kali, Tuhan memerintahkan salah satu malaikat –Nya untuk mendata ulang siapa saja umat muslim yang hari itu digolongkan sebagai haji mabrur (diterima) dan haji mardud (tertolak).

Setelah dilakukan pendataan, dari jutaan manusia muslim yang lolos sebagai haji mabrur ternyata hanya dua orang. Salah satunya yang mabrur tidak pergi ke Makkah. Kontan saja kisah ini membuat sebagian umat muslim heran, termasuk juga Amin Rais. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pergi ke Makkah bisa masuk dalam golongan haji mabrur?

Ali Syariati, berkisah tentang seorang yang hendak menunaikan ibadah haji. Tetapi ketika hendak membayarkan ongkos perjalanan haji (ONH-sekarang) dalam perjalanannya bertemu dengan perempuan tua renta yang memiliki beberapa orang anak. Keadaan perempuan itu tak berdaya. Untuk menghidupi diri dan anak-anaknya, keluarga itu harus mengais rejeki dari uluran tangan para tetangga.

Melihat itu, seseorang yang hendak membayarkan ONH-nya, dia urungkan. Semua biaya haji yang akan dibayarkan kemudian diserahkan kepada perempuan itu, sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan. Hari itu juga seseorang itu pulang, dan batal berangkat ke Makkah. Niatnya menunaikan ibadah haji dia tunda sampai mendapat panggilan kedua. Tetapi niatnya menunaikan ibadah haji tetap tertambat dalam ruang batinnya.

Yang terjadi kemudian, ketika Tuhan memerintahkan malaikat untuk mendata ulang tentang siapa yang masuk golongan haji mabrur, ternyata salah satunya adalah seseorang yang telah membantu perempuan tua dengan kerelaan dan ke-ikhlasan memberikan ONH-nya kepada perempuan itu, meski dia harus batal berangkat ke Kota Suci Makkah.
**
Ketika kisah ini saya sampaikan kembali di sebuah pertemuan jamaah masjid di Palembang, kontan saja mengundang banyak tanggapan dari sejumlah jamaah.

“Wah, itu ndak bener. Mosok ndak berangkat ke Makkah kok dapat Haji Mabrur. Rumusnya dari mana!? Buku yang anda baca itu yang mesti dikaji ulang, jangan-jangan aliran sesat!” protes Haji Kusni.

“Itu bener, Ji. Umat islam sedunia, sampai hari ini kan belum ada kesepakatan baru untuk menentukan kota lain selain Makkah untuk ibadah haji. Ini kok malah ada yang tidak berangkat ke Makkah tapi dapat haji mabrur. Ndak bener, itu,” sergah yang lain.

“Tapi ada juga yang mengganti Makkah dengan tujuh kali beribadah di masjid Demak. Kata mereka kalau sudah tujuh kali datang ke Masjid Wali Songo itu, nilainya sama dengan kita menunaikan ibadah haji ke Makkah,” timpal lainnya lagi.

“Nah, itu tambah rusak! Itu namanya keblinger,” tegas Haji Kusni.

“Dalam hukum fiqh memang begitu. Kalau orang tidak berangkat ke Makkah tidak mungkin akan bisa menunaikan ibadah haji. Ini malah dapat haji mabrur. Kalau tidak berangkat ke Makkah sudah pasti akan mengurangi prasyarat ibadah haji. Dasar hukumnya jelas, haji hanya ditunaikan di Kota Makkah. Titik!” kata jamaah lain.
“Yang kita bicarakan ini bukan berangkat fisik, Pak,” saya menyela.
“Lalu apa?” Haji Kusni penasaran.
“Saya sepakat kalau Kota Makkah sebagai pusat menunaikan ibadah haji. Tetapi yang kita bahas ini keberangkatan seseorang yang punya niat baik untuk berbuat. Berbagi rejeki bagi sesama mahluk Tuhan, menurut saya keberangkatan ruh kebaikan menuju kecintaan-Nya. Jadi bukan berangkat secara fisik yang ke Makkah. Maksud saya, ada nilai plus yang menurut Tuhan, nilainya bisa sebanding dengan haji mabrur, meskipun dia tidak berangkat ke Makkah, ” saya mencoba menjelaskan pesan dari kisah yang ditulis Ali Syariati.

“Wah, ya tidak bisa begitu. Jadi apa arti keberangkatan kami yang sudah tiga kali ke Makkah, kalau ada orang yang dapat haji mabrur tetapi tidak pergi ke Makkah. Kalau begitu, kita cari orang miskin saja, kemudian uang ongkos hajinya kita berikan pada mereka, dan kita tidak perlu ke Makkah. Kan beres!” timpal yang lain.

“Itu akan lebih bagus, ketimbang anda pulang pergi ke Makkah sampai dua atau tiga kali. Wajib hajinya kan hanya satu kali. Itu juga kalau kita mampu. Kalau suatu ketika anda punya rejeki lebih, sementara anda punya niat ke Makkah dan ketemu dengan keluarga miskin yang memerlukan uluran tangan kita, kenapa anda tidak mengambil jatah mabrur dengan memberikannya kepada orang miskin itu?” saya memancing argumentasi jamaah lain.

“Jangan sembarangan kalau biacara. Biaya haji itu sekarang sudah 35 juta. Uang segitu itu banyak. Cara mendapatkannya juga tidak mudah. Enak saja kalau tiba-tiba diberikan kepada orang miskin. Saya ingin bertemuTuhan di Makkah, bukan dengan orang miskin di pinggir jalan!” tegasnya.

“Uang 35 juta yang anda punya tidak akan bisa membayar detak jantung dan napas kita dalam satu hari saja. Jadi, mencintai orang miskin dengan cara berbagi rejeki kepada mereka, akan lebih baik ketimbang kita memilih ibadah ritual pribadi ke Makkah sampai berulang kali. Bukankah orang miskin juga mahluk Tuhan yang perlu dicintai? Mencintai orang miskin, sama halnya kita mencintai yang menciptakan orang miskin. Jadi kalau ada orang yang mendapat haji mabrur, tetapi tidak berangkat ke Makkah, karena orang itu bukan mencintai kemiskinan, tetapi karena dia cinta pada Dzat yang Maha Pencipta orang miskin,” saya mengakhiri perdebatan. Semua diam. Mereka saling pandang, bermain dengan pikirannya masing-masing. Saya permisi pulang. **

Jl.Swadaya - Palembang, 7 Juli 2011

Penulis adalah Jurnalis dan Pelaku Sastra di Palembang

Senin, 16 Januari 2012

SUFISME CALEG GAGAL

Oleh Imron Supriyadi

Hasil pemilu 9 April 2009, telah membuat sebagian calon legislatif (Caleg) yang gagal, menjadi tidak rasional. Sebagian dari mereka kemudian membuang akal sehat, dengan melakukan hal-hal diluar logika normal manusia pada umumnya. Penutupan Sekolah Dasar karena merasa berjasa atas pembangunannya, pembongkaran saluran air rakyat, karena atas bantuannya, pengambilan kembali ambal masjid yang diberikan pada masa kampaye, melarikan diri dari tanggungjawab utang piutang, sampai mengakhiri hidup dengan gantung diri. Tragis. Tetapi inilah realitas yang tengah kita hadapi saat ini.

Kesal, kecewa akibat gagal dalam pen-calegan adalah manusiawi! Tetapi jika dirunut, semua ini akibat dari kecenderungan manusia yang selalu mengukur urusan gagal dan berhasil, dengan “logika sebab dan akibat” (kausalitas). Sehingga dalam memahami kalah-menang pemilu menjadi kalkulasi untung-rugi; berapa yang diberikan, dan berapa yang diperoleh. Ketika tidak ada kesesuaian antara pengeluaran dan pendapatan, yang timbul kemudian stress dan depresi. Atau sebagian mencurigai pihak lain; mengapa ini bisa terjadi? Ada apa dibalik kekalahan? Apakah ini rekayasa? Ada manipulasi suara? KPU yang tidak profesional? Semua cenderung menyalahkan pihak lain. Ini semua terjadi, karena sebagian caleg dan tim-suksesnya memahami realitas politik dalam perspektif kausalitas tadi.

Secara sadar atau tidak, asumsi negatif terhadap hasil pemilu, sebenarnya sudah keluar dari term politik itu sendiri, yang mengatakan; politik tidak bisa dihitung seperti matematika (bukan kausalitas). Pengamat politik selalu mengatakan; konstelasi politik tidak bisa dihitung dengan logika; satu ditambah satu sama dengan dua. Bukankah kalimat ini sudah sedemikian mengkristal bagi sekian banyak politisi kita? Lantas mengapa harus menuduh salah terhadap institusi KPU? Atau mengapa harus mengkambinghitamkan pihak lain, bila politik memang bukan rumus matematika yang menerapkan hukum kausalitas?

Paradigma politik non matematik dalam konteks politik ini, bila kemudian dipahami dalam konteks hakikat (bukan syariat), maka langsung atau tidak, membahas politik maka tidak lepas dari dunia sufi. Sebab, ketika politik dikatakan; tidak bisa diukur secara matematik, maka ia akan berpulang pada keyakinan terhadap kekuatan gaib diluar batas logika manusia, bukan hukum kausalitas. Ketika, dunia politik terkait dengan kesadaran sufistik, maka kegagalan caleg, sebaiknya bukan menciptakan tuduhan-tuduhan dan asumsi buruk terhadap pihak lain, justeru membangkitkan kesadaran, bahwa realitas politik tidak kemudian dipandang dari perspektif politik murni (hukum kausalitas) tetapi juga dalam perspektif norma hukum ke-gaiban langit yang selama ini sering diabaikan dalam politik.

Dijelaskan oleh Syeh Ibnu Athoillah, dalam Kitab-nya Al-Hikam, melalui Kiai Imron Jamil asal Jombang, dalam konsep tasawuf tatanan dunia, (baca; realitas politik-red) memang tidak didasari dengan hukum kausalitas. Antara sebab dan akibat merupakan kutub berbeda yang tidak berbanding lurus sebagaimana yang selama kita pahami.
Fakta sejarah membuktikan, betapa hukum kausalitas dalam konteks politik tidak selalu berbanding lurus; setelah Habibie menggantikan Soeharto, Gus Dur menjadi presiden Indonesia. Dalam logika politik, saat itu perolehan suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), tidak signifikan untuk mengangkat Gus Dur. Secara fisik-pun, Gus Dur tidak memenuhi syarat dari kriteria presiden. Tetapi ketika Tuhan mengatakan; jadi, maka jadilah (Kun Fayakun), maka yang muncul adalah ‘akibat’ yaitu Gus Dur menjadi presiden, meskipun tanpa ‘sebab’ politik yang rasional.

Namun dalam perjalanan waktu, Tuhan kemudian menciptakan keduanya. (Sebab dan akibat). Gus Dur jatuh oleh parlemen sebagai ‘akibat’ dugaan terlibatnya Gus Dur dalam kasus Bruneigate. Walapun saat itu, Mahkamah Agung sudah menyatakan Gus Dur bebas dari Bruneigate, tetapi ketika Tuhan berkehendak Gus Dur harus turun (sebagai akibat), maka melalui Dekrit Presiden, Gus Dur lengser, kemudian mengusung Megawati naik menggantikan presiden.

Ketika ranah politik dipahami dalam perspektif sufistik, maka akan menguatkan pemahaman, ‘kebijakan langit’ tidak menciptakan realitas dunia dengan hukum kausalitas. Tuhan menciptakan sebab dan akibat dengan ruang yang berbeda. Tidak setali tiga uang. Analoginya, sebab sebagai kutup positf, dan akibat sebagai kutub negatif. Ketika dalam realitas politik beberapa caleg yang gagal mempertemukan keduanya (positif-negatif), yang terjadi kemudian bukan terangnya bola lampu neon dan cerahnya batin dan pikiran caleg, melainkan menjadi dua kutub yang konsleting atau terjadinya hubungan arus pendek.

Akibatnya, depresi, stress atau lebih parah lagi, sampai bunuh diri.
Padahal diluar kesadaran, sebagian caleg sering begitu ringan mengatakan; manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan. Tetapi dalam banyak hal, ketika hasil jerih payah tidak sebanding dengan perjuangan dan pengorbanannya, sebagian kita kemudian sering menuduh atau mencurigai pihak lain yang salah. Dan yang lebih parah lagi, sebagian kita berburuk sangka kepada Sang Pengatur Bumi. Ketika ini terjadi, ada nilai ketauhidan, yang bergeser, walau sehelai rambut sekalipun. Akhirnya berlari ke dukun dan lainnya.

Dalam konteks kegagalan caleg ini, ada tiga hal yang perlu menjadi bahan renungan. Pertama; dalam kebijakan langit ada yang disebut nilai kepantasan. Artinya bagi caleg yang gagal, adalah kepantasan lebih baik di mata Tuhan, (bukan dimata manusia), ketimbang harus duduk di parlemen tetapi banyak mudharat bagi yang bersangkutan. Dengan kata lain, kegagalan akan menjadi nikmat dan rahmat, ketika kagagalan dijadikan sebagai bentuk pemeliharaan Tuhan terhadap caleg gagal, agar terhindar dari peluang berbuat dosa (korup) atau membohongi rakyat. Logikanya, kalau anak kita sedang sakit pilek, maka kita tidak akan membelikan minuman es, meskipun anak kita sampai menangis. Kita melarang karena kita sayang dan takut pilek anak kita bertambah parah. Pelarangan minum es terhadap anak kita juga bagian pemeliharaan kita, supaya anak kita tidak bertambah sakit. Kita ingin anak kita sembuh dan sehat. Pun demikian halnya kebijakan langit. Ketika sebagian caleg gagal duduk di parlemen, sebenarnya Tuhan sedang mencegah, supaya pileknya para caleg tidak lebih parah dari sebelumnya. Tugas caleg gagal adalah, bagaimana menyembuhkan pilek-nya agar dikemudian hari lain di mata Tuhan mendapat posisi kepantasan untuk duduk di parlemen. Kita sering menganggap diri kita pantas menjadi mahluk yang berhak mendapat kedudukan, jabatan dan kekayaan, tetapi kita sendiri tidak pernah sadar bagaimana kita harus lebih dulu memantasi diri untuk menjadi hamba yang terpilih di mata Tuhan.

Kedua; Pengorbanan yang telah diberikan, seharusnya dimaknakan kecintaan Tuhan terhadap seorang hamba, bukan malah sebaliknya. Banyaknya harta yang telah dikeluarkan dalam kampaye, telah menjadi sarana Tuhan untuk melakukan pencucian harta di rumah kita, yang mungkin selama ini ada hak orang lain, tetapi tidak pernah kita berikan. Gagal dan banyaknya korban materi untuk rakyat, adalah bahasa langit untuk memaksa hamba, agar bersedia mengeluarkan hartanya untuk orang lain, yang selama ini di tahan di dalam rumah. Mengutip Andrea Hirata dalam Novel Laskar Pelangi ; yang seharusnya kita bangkitkan adalah, bagaimana kita bersiap diri untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan bersiap diri untuk menerima sebanyak-banyaknya.

Ketiga; kerugian berkorban materi untuk rakyat pada masa kampaye, bukanlah menjadi sesuatu yang merugikan. Mengapa harus merasa rugi berbuat baik pada masa kampaye? Toh, ketika kita lahir juga telanjang. Maka, menjadikan pengorbanan dan kegagalan caleg untuk kembali pada ketelanjangan rohani di hadapan Tuhan, akan menjadi lebih berarti ketimbang sekedar keluhan dan penyesalan. Ketika kebaikan dan pengorbanan di-ikhlaskan sebagaimana kita membuang air besar (tidak diingat dan tidak disebut-sebut), maka kebaikan itu akan menjadi istana surga, melebihi dari sekedar kedudukan sebagai anggota parlemen.

Ketiga; bagi yang lolos menjadi anggota dewan, Tuhan sedang memberi tugas kepada mereka menjadi panitia bumi di parlemen, untuk ikut mengelola negara dan mewakili rakyat. Ketika nanti anggota dewan tidak memegang amanat, maka suatu ketika Tuhan dengan secepat kilat akan segera memecat panitia di parlemen dengan membenturkan mereka pada kasus korupsi, pembakalan hutan, suap menyuap tender dan lain sebagainya. Melalui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Tuhan akan mamnjangkan tangan-Nya di bumi. Demikianlah, bahasa Tuhan untuk mempertemukan kembali seorang hamba yang lupa amanat, agar kembali ke pangkuan-Nya.

Oleh sebab itu, apapun hasil dari semua perjalanan kampaye 2009, berhasil atau gagal sebaiknya dihadapi dengan kecintaan kepada Sang Maha Pencipta. Sehingga baik dan buruk dari hasil jerih payah, bukan membuat lalai dengan amanat-Nya, tetapi mengantarkan kita pada ketaatan dan kedekatan, bukan pada pengingkaran Tuhan. Kita mempunay kewajiban untuk terus berjuang, berdoa dan berihtiar, tetapi soal hasil akhir, kapan, dimana, jumlahnya berapa, itu bukan urusan kita. (*)

BTN Karang Asam
Tanjung Enim, 17 April 2009
*) Penulis adalah Pekerja Seni


Senin, 26 Desember 2011

Persahabatan Mati Lampu


Oleh Imron Supriyadi

Suatu ketika, di tahun 2002, saya lupa bulan apa. Di Er-Te saya sedang mendapat giliran mati lampu. Dan sebelumnya, PLN memang sudah memberitahu tentang giliran mati lampu ini, sekalipun, tidak jarang pemberitahuan itu melenceng dari jadwal. Nah, menurut jadwal giliran, seharusnya malam itu di Er-te saya tidak mendapat giliran mati lampu. Oleh karena meleset dari jadwal itulah, kemudian beberapa warga uring-uringan, marah-marah, kesal dan lain sebagainya.


Tetapi di sisi lain, saya juga melihat, beberapa warga keluar dari rumah, menuju warung membeli lilin, ada juga yang tandhang atau mencari sahabat ke rumah tetangga. Saya melihat, mereka kemudian berkumpul, sambil menunggu hidupnya lampu, dengan ngobrol dan bercengekarama seadanya.

Saya tidak tahu persis, anda masuk di bagian mana. Apakah anda masuk di kelompok yang marah-marah dan kesal, atau masuk kelompok orang yang biasa saja menghadapi mati lampu.
Nah, dari peristiwa mati lampu, sebenarnya ada nilai yang mungkin selama ini tidak pernah kita pikirkan, tetapi justeru muncul di saat mati lampu. Mungkin, selama ini kita selalu disibukkan oleh bermacam aktifitas kantor atau pekerjaan keseharian. Sehingga, sepulang dari kantor, anda tidak pernah melakukan silaturahmi ke para tetangga, karena sudah terlalu lelah dengan pekerjaan satu hari penuh. Demikian juga, oleh karena kita sering berbelanja di Supermarket, anda pun sangat jarang membeli lilin di warung tetangga, yang mungkin membutuhkan keuntungan dari tangan kita.

Inilah yang saya katakan, dari mati lampu, ada nilai dan pesan sosial yang mungkin selama ini kita lupakan. Sebab, dari mati lampu, dalam masing-masing warga tiba-tiba muncul semangat kebersamaan untuk berkumpul dengan tetangga, berbagi kesejahteraan dengan warung sebelah dengan membeli lilin, atau bahkan kita pun memiliki emosi yang serupa, yaitu kekesalan terhadap musuh yang sama yaitu : mati lampu.( baca; kegelapan).

Kenapa di saat mati lampu kemudian kita berkumpul, mengerubungi lilin atau lampu minyak? Atau kenapa pula di saat mati lampu kita kemudian lebih memilih mencari teman ngobrol, ketimbang tidur-tiduran di dalam kamar sendirian? Apalagi alasannya, kalau bukan karena anda, saya dan kita tidak menginginkan adanya kegelapan.

Tetapi, semangat kebersamaan dan menyatu dalam satu gerakan emosi, dalam kisah mati lampu, tidak pernah kita petik, untuk kemudian tetap kita lestarikan dalam kedirian kita. Selama ini tidak menginginkan rumah kita gelap, tetapi kita sering berdiam diri di rumah masing-masing yang berpagar tinggi, atau di kamar masing-masing tanpa berfikir, kalau sebenarnya kita membutuhkan sahabat, yaitu orang lain. Setelah kegelapan itu hadir di depan mata, kita baru tersadar, bahwa kita sedang berada dalam kegelapan dan tidak ingin sendirian.

Mati lampu, ternyata bukan sekedar mendorong kita untuk sebatas marah terhadap PLN, tetapi ada nilai dan pesan sosial yang mesti diajarkan pada hati dan pikran kita, yaitu semangat kebersamaan, untuk melawan kegelapan. Apakah kegelapan di rumah kita, kegelapan di dalam dada kita, di dalam hati nurani kita atau bahkan kegelapan dalam sistem bangsa dan ketatanegaraan kita. Mestikah kita membiarkan kegelapan, jika kita bisa membeli lilin dan mengumpulkan kayu bakar dalam satu “ikatan api” kebersamaan untuk melawan kegelapan? **


Palembang, 2002

Jangan Usir Ayam Di Ruang Tamu


Oleh Imron Supriyadi

Saya atau juga anda, mungkin lebih sering memilih mengusir ayam dari dalam rumah, ketimbang membiarkannya. Setiap orang, selalu tidak rela jika ada seekor ayam masuk ke dalam rumah. Di teras pun, saya atau juga anda akan cepat-cepat mengusir dengan kasar, tanpa mengetahui tujuan ayam masuk ke rumah kita. Kenapa kita selalu cenderung mengusir ayam dari dalam rumah? Sebab yang pasti, karena kita, selalu berprasangka buruk terhadap ayam yang masuk ke rumah kita. Prasangka itu muncul, karena kebanyakan kita, tidak pernah tahu data ghaib dari Tuhan tentang apa niat ayam masuk ke dalam rumah.

Oleh sebab itu, kita selalu khawatir, jangan-jangan ayam itu akan berak sembarangan, dan mengotori lantai. Kenyataan perilaku ayam yang selalu berak sembarangan di lantai rumah kita, kemudian menjadi satu persangkaan buruk bagi setiap ayam. Padahal, anda atau juga saya tidak mau dikatakan, semua manusia itu jelek. Sama juga ayam, kalau saja kita mengetahui bahasa ayam, maka ayam pun akan protes kalau dikatakan, semua ayam itu jelek.

Tentang ayam ini saya punya kisah sendiri. Tahun 2002, satu hari menjelang Hari Raya Idul Adha, saya berkunjung ke rumah Kiai Abdul Madjid di Tanjung Enim. Seperti tuan rumah pada umumnya, Kiai Majid begitu hormat menyambut saya. Semula saya diam. Saya hanya mendengarkan perbincangan sederhana, antara Kiai Madjid dengan tamu yang datang lebih dulu dari pada saya.

Di tengah asyiknya perbincangan, seekor ayam masuk ke ruang tamu, persis di tempat kami sedang berbincang. Semula saya akan mengusir ayam itu. Tetapi dicegah oleh Kiai Madjid. Ayam itu kemudian berjalan tanpa beban ketakutan. Sementara Kiai Madjid masih berbincang dengan tamu, saya mengamati ayam, sambil di benak saya bertanya-tanya kenapa Kiai Madjid melarang saya mengusir ayam dari ruang tamunya?

Perlahan-lahan, ayam betina yang masuk ke dalam ruang tamu dibiarkan saja. Merasa tidak diusik, ayam ini tiba-tiba mendekat, persis di samping Kiai Majid duduk. Ia memosisikan diri, seperti hendak bertelur di sebuah sarang.

Sembari mengepulkan asap rokok-nya, Kiai Majid hanya melirik, gerangan apa yang akan dilakukan oleh ayamnya ini. Saya juga ikut mengamati. Kiai Majid tak sedikitpun mengusik ulah ayam yang ada di sampingnya. Tak lama kemudian, ayam ini melompat dari atas kursi, dan keluar rumah.

Kiai Majid tersenyum puas, di saat melihat satu butir telur ada di samping duduknya. Ternyata, tidak selamanya, ayam masuk ke dalam rumah akan mengotori dan mengeluarkan tinja. Terbukti, ayam Kiai Majid memberi satu butir telur bukan tinja.

Perilaku ayam Kiai Majid, paling tidak telah menyadarkan kita pada nilai kemanuisaan kita, yang sering mendahulukan prasangka buruk dari pada prasangka baik kepada orang lain. Secara sadar atau tidak, ayam Kiai Majid, telah mengingatkan kita, untuk memupuk berpikir positif atau dalam bahasa agamanya khusnuzhon, berbaik sangka kepada siapapun, termasuk juga pada ayam. Sebab, selama kita mendahulukan sikap buruk sangka, maka selama itu pula kita akan disiksa oleh perasaan kita sendiri.

Dari kisah ini, saya hanya akan menyampaikan pesan dari ayam Kiai Majid, kalau ayam saja bisa memberikan yang terbaik bagi manusia, berupa telur, kenapa kita, yang jelas-jelas manusia, tidak atau bahkan lupa untuk memberi yang terbaik kepada sesama. Padahal, Tuhan sudah menyatakan, Tidaklah engkau akan sampai pada kebaktian atau ketaatan yang sempurna, sebelum engkau memberikan sesuatu yang terbaik..” Mungkin, kita memang harus lebih banyak belajar lagi dari ayamnya Kiai Majid.

Tanjung Enim, Idul Adha 1423 H / 2002

Dialog Sungai

Oleh Imron Supriyadi

Suatu ketika, saya dan teman-teman se-profesi, menyusuri Sungai Musi Palembang. Sekalipun melibatkan unsur pimpinan menejemen, tetapi, perjalanan ini, sifatnya, berjalan santai. Ibarat orang sedang mencari angin, diluar tempat kerja, tanpa schedule, tanpa jam dan batas waktu yang jelas. Katanya, acara jalan-jalan ini sebagai salam kesan dan pesan dari salah satu pimpinan kami yang akan meninggalkan Palembang. Tetapi justeru inilah, yang mebuat saya dan teman-teman, dapat dengan bebas--untuk memaknai perjalanan, dengan segala penglihatannya, baik secara dhohir, maupun batin.
Jam sepuluh pagi menjelang siang, kami berangkat dari Dermaga Benteng Kuto Besak. Terus menyusuri beberapa perkampungan pinggir Sungai Musi, ke arah Pulau Kemaro. Sejak awal keberangkatan, saya sengaja berada diatas atap perahu. Sehingga, saya bisa menikmati alam secara bebas tanpa sekat apapun.
Suatu ketika, perahu yang saya tumpangi berlintasan dengan sebuah perahu kecil tanpa mesin, yang banyak disebut orang dengan sampan. Diatas sampan itu, ada dua orang yang sedang menggayuh dayung. Dan ketika sampan itu tinggal beberapa meter akan berlintasan dengan kami, seketika itu juga si pengemudi perahu mesin yang kami tumpangi, tiba-tiba menurunkan gas. Dengan sendirinya, kecepatan perahu kami berkurang. Dan beberapa detik kemudian, setelah berlalunya sampan itu, si pengemudi, kembali menarik gas-nya dan kecepatannya kembali normal.
Melihat peristiwa ini, ada tanda tanya yang kemudian muncul di benak saya. Karena saya awam terhadap “pergaulan” air, maka saya tanyakan pada awak perahu. Saya turun dan mendekati tukang perahu.
“Mas, kenapa waktu waktu kita berpapasan dengan sampan tadi, parahu kita harus direm gasnya?” tanya saya kepada si tukang perahu.
“O, Itu memang sudah biasanya seperti itu, Pak. Setiap kali ada perahu besar atau perahu mesin yang berlintasan dengan perahu kecil, yang lebih besar harus mengurangi gasnya. Kalau tidak direm gas-nya, nanti sampan kecil itu bisa oleng kena ombak perahu besar, bisa-bisa sampan itu terbalik dan karam,” jawab si tukang perahu.
Kisah ini memberi satu pelajaran lagi bagi hati dan pikiran kita. Ternyata, diatas air ada etika dan hukum tidak tertulis yang sudah menjadi kesepakatan bersama antara pengemudi perahu mesin dengan sampan. Kenyataan “pergaulan sampan dan perahu mesin” menggambarkan betapa berharganya sebuah kesepakatan tidak tertulis, tetapi justeru dapat membentuk satu kesantunan peradaban air. Kenapa saya sebut sebuah kesantunan? Karena pergaulan sebagaimana perahu mesin dan sampan, hampir sangat jarang ditemui dalam pergaulan di darat.

Kalau meminjam bahasa Budayawan Emha Ainun Nadjib, mungkin saya, atau anda sering melihat bagaimana peradaban kendaraan di darat, yang lebih mengutamakan pada kesadaran gas dari pada kesadaran rem. Tetapi, diatas Sungai Musi, justeru sebaliknya, mengedepankan kesadaran rem, dari pada kesadaran gas.
Kesadaran rem seorang pengemudi perahu yang kami tumpangi, sekaligus mewakili keinginan penumpang, yaitu keinginan selamat secara bersama-sama, dan berharap untuk tidak tenggelam ke dalam Sungai Musi. Kesadaran untuk saling menyelamatkan antar satu sama lain inilah, yang saat ini seakan mulai pudar. Kalaupun ada, paling-paling hanya kesepakatan untuk saling menyelamatkan dari jeruji penjara.
Mungkin, karena kita tidak belajar dari kesantunan peradaban sungai ini, kemudian yang muncul dari kedirian kita adalah kegersangan. Muara kecil dalam diri kita yang bernama “hati nurani”, tak pernah kita dialiri oleh kesantunan air, sehingga, dalam keseharian, kita memilih untuk saling mendahukukan emosional kita, merasa ingin menang sendiri, atau merasa paling benar sendiri, lantas mengantarkan kita pada kecenderungan, untuk selalu memandang rendah dan salah pada orang lain.
Kenyataan ini, tentu sebagai akibat dari kealpaan kita untuk berdialog dengan air. Air, tak pernah lagi kita ajak bersentuhan dengan muka kita dan hati kita. Komunikasi dengan siraman air rohani, juga sering kita putuskan. Air muka persahabatan pun sering kita libas dengan persoalan materi. Bahkan, air mata pengakuan kesalahan, tak lagi kita tumpahkan dihadapan Tuhan.
Kalau tukang perahu dan sampan saja bisa belajar dari peradaban dan kesantunan aliran air Sungai Musi, kenapa kita tidak?**


Palembang, 2002



Minggu, 06 Februari 2011

Mesir Anarki, Mesir Peduli


foto : net
Oleh Imron Supriyadi

Dalam dua pekan terakhir Negeri Mesir, setelah sekian lama menjadi ‘air yang tenang’ kini bergolak. Kisruh dan keruh. Sampai hari ini, hampir separo lebih dari masyarakat dunia perhatiannya tersedot ke negeri itu. Ketenangan Mesir kini berubah menjadi lautan darah, doa dan air mata. Dua kubu antara pendukung dan anti Presiden Mubarak saling serang. Dua kepentingan sedang saling tarik menarik. Sistem pemerintahan tak berfungsi.

Dan semua yang selama ini dilarang menjadi boleh. Sejumlah negara, termasuk Indonesia yang memiliki warga dan mahasiswa di Mesir terpaksa harus dipulangkan, demi keamanan jiwa mereka. Mesir yang selama ini banyak dirindukan sebagian mahasiswa, kini berubah menjadi negeri yang mengerikan.

Tetapi apapun yang terjadi, pergolakan Mesir tetap saja menyimpan banyak hal yang patut kita catat sebagai bahan renungan bersama.


Bukan pada gerakan menumbangkan pemerintahan Mubarak. Sebab menurut saya, kalau dalam konteks politik gerakan anti pemerintah, peristiwa reformasi Indonesia 1998 yang kemudian menggulingkan rezim Soeharto pada 21 Mei 1998, sudah lebih dari cukup untuk menjadi pelajaran politik bagi sejumlah pihak, termasuk negara-negara Asia lainnya.

Tetapi dengan pergolakan Mesir, Pertama ; telah membuat sejumlah pejabat negeri ini ikut peduli terhadap nasib Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di negeri itu, sampai di tingkat presiden. Duta Besar (Dubes) Indonesia di Mesir yang selama ini mungkin tidak pernah terdengar ‘suaranya’ kemudian menjadi mediator antara warga Indonesia yang memiliki keluarga di Mesir dengan sejumlah jurnalis di Indonesia. 

Ada suara dan sikap peduli yang didorong paksa oleh realitas Mesir, sehingga Dubes Indonesia di Mesir harus memfungsikan diri sebagai ‘bapak’ dari sekian banyak mahasiswa dan orang tua Indonesia yang memiliki keluarga di Mesir.

Kedua; seorang Presiden SBY dalam kasus ini ikut andil dengan sikap solidaritas memulangkan ribuan WNI di Mesir dengan memfasilitasi ribuan WNI sampai ke kampung halaman. Sebuah bentuk kepedulian yang cukup responsif bagi seorang Presiden yang segera mungkin menyelamatkan jiwa WNI di Mesir. 

Tentu aksi solidaritas ini bukan datang begitu saja. Sikap ini ada kondisi yang memaksa SBY harus melakukan sesuatu demi keselamatan WNI di Mesir. SBY jelas tidak ingin dikatakan Presiden yang tidak peduli terhadap keselamatan warganya di sebuah negara yang sedang carut marut, sebagaimana Mesir saat ini. 

Terlambat satu menit saja mengambil sikap terhadap WNI di Mesir, dalam sekejap, Presiden SBY akan menjadi ‘bulanan-bulanan’ media di Indonesia.

Tetapi Prsiden SBY bukan pejabat kacangan. Bahkan, Jepang sudah menyebut SBY sebagai ‘Presiden Politik’ yang intelek dan cerdas. Berbagai penghargaan dari dunia internasional juga berdatangan. Presiden SBY dianggap sebagai sosok pemimpin yang telah mengembalikan kepercayaan dunia internasional terhadap negeri Pancasila ini.

Kepedulian Presiden SBY terhadap ribuan WNI di Mesir sudah tentu patut disikapi dengan aplaus positif. Meskipun sebelumnya, mantan Pangdam II Sriwijaya ini sempat diguncang oleh sinisme sejumlah pihak, ketika ada pernyataan; selama menjabat Presiden sudah tujuh tahun gajinya tidak mengalami kenaikan. 

Terakhir, putra kelahiran Pacitan 9 September 1949 ini kembali diterpa angin negatif dalam kasus buku SBY yang menyebar di sejumlah sekolah. Jauh sebelum itu, kasus Bank Century dan Monarki Yogyakarta, juga sempat mengguncang istana.

Tetapi lagi-lagi harus diakui, Presiden SBY merupakan Presiden yang penuh siasat dan taktik. Latar belakang militer, menjadi sejarah yang telah mengakar dalam tubuh seorang SBY. Rebut dan Kuasai atau terus berjuang sampai ajal menjemput, merupakan darah militer yang sudah demikian kuat mengalir dalam tubuh SBY.

Kita bisa menengok ke belakang, betapa sebagian pejabat dan rakyat Indonesia menolak George W Bush datang ke Indonesia ketika itu. Parlemen sempat akan menggear hak angket terhadap kunjungan Bush. Tetapi apa yang terjadi, 

Presiden Negara Adidaya Amerika Serikat itu tetap saja melenggang, dan parlemen kita bisa ‘bungkam’ serubu bahasa. Kalau SBY bukan jenderal yang pintar, sangat sulit menekan parlemen menjadi komunitas ‘mulut bisu’ dalam kunjungan Bush ke negeri ini. Sehingga musuh dalam konteks apapun akan dapat teratasi dengan ‘cerdas’ oleh SBY.

Tetapi pergolakan Mesir bukan musuh bagi SBY atau juga bagi kita. Sikap peduli pemerintah Indonesia merupakan ‘pahala’ dari langit untuk Presiden SBY dalam membangun aksi solidaritas dan nasionalisme. Sebab diakui atau tidak, kalau sekiranya Mesir tidak begolak, tidak sedikit WNI yang memutuskan tetap tinggal dan menjadi warga negara Mesir. Tetapi ketika kebijakan langit menciptakan Mesir menjadi lautan jeritan, darah dan air mata, 

WNI di Mesir berbondong-bondong ingin pulang ke Indonesia. Ada spontanitas semangat nasionalisme yang ketika itu muncul. Kerinduan untuk tenang dan sejuk di kampung Indonesia, meski penuh dinamika korup, negeri ini tetap menjadi tumpuan hati bagi sejumlah WNI di Mesir. 

Kata pepatah ; lebih baik makan kangkung di rumah sendiri, dari pada makan dagnig di negeri orang. Tenryata pergolakan Mesir sedikit banyak telah mengembalikan ruh WNI terhadap kepemilikan Indonesia. Meski sesaat tetapi itu lebih baik dari pada tidak.

Persis seperti kasus Manohara, yang dipaksa membangkitkan nasionalismenya terhadap Indonesia, setelah dalam ‘cengkeraman paksa’ dari putra mahkota di Malaysia. Ketika itu, keluarga Manohara sedemikian gencar melakukan kampanye simpatik agar sebagian bangsa ini, ikut memperjuangkan pembebasan Manohara dari putra mahkota di Malaysia. Secara spontanitas, muncul kesadaran kolektif di negeri ini untuk mempertahankan nasionalisme melalui kasus Manohara.

Ketiga; silaturahim internasional. Mesir adalah miniatur dari sejumlah perintah dari langit untuk mengembalikan keeratan silaturrahim, bagi warga Mesir di sejumlah negara. Ada sikap kebersamaan dalam menciptakan musuh bersama, yaitu Mubarak harus segera turun dari kursi presiden. Pergolakan Mesir menjadi luapan emosi kebersamaan (silaturahim) warga Mesir yang tinggal di luar negeri Mesir. Aksi solidaritas secara moral terus berkumandang dan menggelora di jalan-jalan di belahan dunia.

Bagi Indonesia, Mesir menjadi mediator silaturahim nasional, terutama bagi WNI yang selama ini belum sempat pulang kampung. Tetapi dengan Mesir bergolak, ada peluang yang sengaja dicipatakn oleh ‘pemegang otoritas kebijakan bumi’ agar WNI di Mesir harus pulang dan sujud kepada keluarga dan orang tua mereka yang sekian lama telah terpisah. 

Demikian keringnya rohani silaturahim kita terhadap negara, terhadap keluarga, terhadap orang tua, baik bagi WNI dan warga Mesir, sehingga untuk membangkitkan dan menggelorakan silaturahim pada setiap kita, juga pada setiap warga Mesir, Tuhan harus menciptakan pergolakan Mesir lebih dulu. Kalau saja Mesir tidak bergolak, mungkin warga Mesir di sejumlah negara tidak menjadi luapan kebersamaan seperti yang terjadi di sejumlah negara. 

Pun bagi WNI. Kalau saja Mesir tidak bergolak, sangat mungkin kepulangan mereka ‘menghadap’ orang tua dan berkumpula dengan keluarga di negeri ini, tidak akan secepat yang saat ini terjadi. Akan banyak hal yang menjadi pertimbangan, kuliah belum selesai, kontrak kerja masih panjang, izin tinggal di Mesir belum habis dan masih banyak lagi alasan lain yang sangat tidak memungkinkan WNI pulang secepat seperti saat ini.

Demikian halnya pada seorang Presiden SBY. Pergolakan Mesir telah membangkitkan spontanitas kepedulian dan aksi simpatik pada ribuan WNI di Mesir yang jiwanya terancam. Begitu terlupanya sejumlah pejabat negeri ini pada sikap peduli dan silaturahim internasional akiba siduk oleh urusan dalam negeri, sehingga kepedulian dan solidaritas itu harus dipaksa melalui pergolakan Mesir. Mesir adalah merupakan bentuk paksaan dari langit, agar kita dan semua kembali pada sikap saling peduli antar sesama, meski kita berada di tempat dan posisi yang berbeda.

Keempat; TKI juga perlu dipulangkan. Jauh sebelum Mesir terguncang oleh realitas politik, ada komunitas WNI lain yang menurut saya menempati posisi prioritas untuk sesegera mungkin untuk dipulangkan sebagaimana WNI di Mesir, yaitu; nasib dua juta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Negeri Jiran. 

Saya pikir, pergolakan batin mereka sudah lebih panjang dan dahsyat ketimbang WNI di Mesir. Problem yang diderita TKI saat ini, menurut saya tidak lebih kronis dari nasib WNI di Mesir. Sebab, deretan kasus yang menimpa TKI di negeri Jiran, bukan hanya mengancam perut mereka, tetapi juga jiwa, keluarga dan masa depan mereka di Indonesia.

Kalau kemudian kita menyimak data kasus TKI yang pulang ke Indonesia penuh luka dan sebagian lagi tanpa nyawa, mestikah kepedulian seorang Presiden SBY hanya tertuju pada nasib WNI di Mesir? Bukankah TKI di negeri Jiran yang punya nasib tragis juga meski diselamatkan? Kalau Malaysia saja ada sekitar 2 juta TKI, lantas berapa banyak lagi TKI di negeri lain yang memiliki potensi untuk tidakdimanusiakan oleh majikan mereka? Haruskan menunggu ada luka dan kematian TKI baru muncul aksi solidaritas sebagaimana kasus-kasus sebelumnya? 

Menurut saya, bentuk kepedulian bagi WNI akibat pergolakan Mesir tetap saja menjadi bagian penting, tetapi nasib TKI di negeri Jiran tidak juga bisa diabaikan begitu saja. Sebab, derita mereka sudah berdasa warsa, sehingga mereka juga wajib mendapat kepedulian lebih dari WNI di Mesir.
Presiden SBY tidak harus menunggu ada pergolakan serupa yang menimpa di Malaysia, baru kemudian mengambil sikap tegas terhadap upaya pemulangan TKI di negeri Jiran itu, seperti sikap peduli yang dilakukan pemerintah RI pada WNI di Mesir. 


Sebab pergolakan batin jutaan TKI di negeri Jiran itu menjadi perjalanan panjang yang akan terus menyejarah yang menaykitkan, jika tidak sesegara mungkin diakhiri. Kalau hanya dengan alasan TKI mendatangkan devisa negara sebesar 6,3 triliun per tahun, menurut saya pemerintah lebih cerdas bisa menyiasati dengan membuat cara lain untuk mengganti ‘jual beli manusia’ versus TKI dengan pola dan usaha lain di dalam maupun di luar negeri yang lebih manusiawi. Kita mengutuk adanya praktik traficking (jual beli manusia) tetapi kita juga membiarkan ‘jual beli’ TKI ke sejumlah negara.
Sangat mungkin, sejumlah pihak akan membantah kalau pengiriman TKI menjadi bagian traficking. Sebab, yang selama ini dianggap traficking adalah ‘bisnis manusia’ yang tidak mendapat legalitas formal sebagaimana PJTKI yang jumlahnya ribuan di Indonesia. Bagaimana mungkin tidak saya sebut bagian traficking, kalau ternyata PJTKI di Indonesia dan penyalur di sejumlah negara masih juga ‘memakan’ keringat dari para TKI? 

Menurut mereka, taguhan paksa dari jasa TKI itu sebagai profesional fee jasa penyaluran? Boleh saja dikatakan seperti itu, tetapi profesional fee tidak dengan cara menindas, nenipu atau bahkan melasukan pasport dan lainnya. Tetapi faktanya, hanya demi sejumlah rupiah, dan mendukung memasukkan devisa negara, sejumlah PJTKI siap berbuat apa saja, asal ‘jual beli manusia’ versus TKI mendapat legalitas formal dari pemerintah. Ini sama persis dengan larangan pemerintah membuka kompleks prostitusi (pelacuran), tetapi membiarkan ‘pelacuran intelektual’ seperti jual beli skripsi terus terjadi di ribuan kampus di negeri ini.
Oleh sebab itu, terhadap nasib TKI di negeri Jiran, menurut saya masih sangat banyak peluang yang bisa dilakukan jika memang pemerintah memiliki political will dan political action dalam upaya mengentaskan jutaan TKI dari keterkungkugan para juragan atau majikan. 

Membiarkan nasib TKI tetap seperti saat ini, sama halnya kita dan pemerintah Indonesia sedang mengakui di mata internasional, kalau negeri ini adalah negeri eksportir babu alias negeri para pembantu. Kalau pemerintah Indonesia bisa mengalokasikan anggaran tunjangan perumahan dan fasilitas bagi ratusan anggota dewan dengan triliunan rupiah, dari tingkat pusat dan daerah, mengapa tidak ada niat baik untuk mengalokasikan anggaran untuk membangun perusahaan yang kelak mampu menampung TKI yang dipulangkan ke negeri ini?
Menurut saya, masih banyak jalan lain yang bisa ditempuh untuk memberi ruang bagi TKI di negeri Jiran yang dipulangkan. Diantaranya adalah, merubah deal politik antara pemerintah dan investor. Dari tingkat Presiden sampai Bupati, argumentasinya adalah bukan hanya didasari menambah pendapatan negara, atau Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kabupaten dan Kota, tetapi berapa jumlah tenaga pengangguran eks TKI yang dapat diserap di perusahaan, juga menjadi posisi tawar bagi setiap investor yang akan menanamkan sahamnya di Indonesia. 

Sehingga, secara perlahan jutaan TKI yang mengadu nasib di negeri tetangga itu lambat laun dapat berkurang untuk kemudian diberdayakan sebagai tenaga kerja di sejumlah perusahaan yang disediakan pemerintah dari pusat dan daerah. Tidak ada yang tidak bisa, kalau kita memang mau melakukan dan mencobanya. Masalahnya kemudian adalah, tinggal pemerintah Indonesia mau atau tidak. **
Palembang, 5 Februari 2011

Penulis adalah Pelaku Sastra, Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Palembang, redaktur Dapunta.com

Sumber Tulisan : http://www.dapunta.com/mesir-anarki-mesir-peduli.html

Selasa, 25 Januari 2011

KETIKA GAYUS INGIN MENJADI N”NABI”


Oleh Imron Supriyadi

Keinginan Gayus Tambunan, tersangka penggelapan pajak di Indonesia yang berniat menjadi staf ahli Komisi Pemberantsan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Indonesia (Polri) tak lepas dari pantauan warga di kampung saya. Dua pekan terakhir, hampir setiap habis maghrib menjelang isyak, di masjid kampung saya ada saja jamaah yang berbincang soal Gayus.

“Gayus itu sudah gila. Mosok sudah korup kok malah mau jadi staf ahli KPK. Dasar Bocah edan!” ujar Mang Yus agak kesal.
“Iya, aku juga heran, Kok bisa-bisanya Gayus itu ngomong begitu. Apa dia itu tidak sadar kalau sekarang nama dia sedang hancur. E, sekarang malah mau jadi staf ahli. KPK dan Polri lagi! Siapa yang mau menerima orang seperti Gayus!” timpal Mang Sujak seakan setuju dengan Mang Yus.

“Ah, itu kan hanya akal-akalan Gayus, supaya dia dibilang orang yang sudah taubat. Kalau dia diterima jadi staf ahli, otomatis dia akan bebas dari jeratan hukum. Lagi pula, kalau pemerintah mau menerima itu, pemerintah juga gila. Lha, maling pajak kok dijadikan staf ahli? Apa nggak tambah hancur negara ini?,” tukas yang lain.

“Itu kan kerjaan pengacara Gayus, supaya pengacaranya juga ikut tenar. Sudahlah, itu hanya politik jualan Gayus dan pengacaranya saja. Otaknya bukan Gayus, tapi orang-orang dibelakang Gayus,” kata Mang War, salah satu praktisi enterpreuner di Palembang.

Ungkapan beberapa jamaah di masjid kampung saya, tak beda jauh dengan tanggapan sejumlah pejabat di negeri ini. Niat baik Gayus menjadi staf ahli KPK dan Polri dianggap lelucon panggung ludruk yang sama sekali tidak masuk akal sehat kita. Semuanya melihat baik Gayus sebagai dagelan politik Gayus yang ingin dianggap sebagai orang yang sudah menyesal dengan perbuatannya.

Tetapi apakah kita juga akan menolak niat baik anak kita yang sebelumnya terjerat narkoba, kemudian seketika ingin berbalik menjadi orang baik? Atau kita juga akan menghalangi iblis ketika suatu kali iblis datang kerumah kita kemudian ibllis menyatakan bertaubat dan ingin menjadi manusia bermoral sebagaimana nabi?
Kita, selama ini sering memilih membangkitkan suudzon (prasangka buruk) pada sejumlah orang yang punya niat baik. Sehingga prasangka buruk itu kemudian menutup hati kita, lantas mengatakan niat Gayus itu dianggap gagasan orang gila.

Ketika prasangka buruk sudah sedemikian tebal melingkupi akal dan hati kita, maka dia akan menjadi hijab (penutup) hati kita, untuk kemudian pancaran hati kita juga akan buram. Persis ketika kita berdiri di depan cermin. Taburilah cermin itu dengan debu sehingga cermin menjadi buram. Lalu kita ambil sebuah senter, atau lampu. Kemudian kita arahkan sinarnya ke cermin. Maka pantulan sinar yang mengarah pada muka kita juga akan buram, sebagaimana cermin yang sebelumnya memang buram oleh debu yang kita taburkan. Begitulah cerminan hati dan pikiran kita melihat niat Gayus.

Pun Gayus juga begitu. Mengapa niat Gayus harus dinilai negatif ketika ada dia ingin menjadi manusia bermoral seperti Nabi. Kalau ada tawaran pilihan pertanyaan; lebih baik mantan kiai atau mantan preman? Lebih baik mantan gadis berjilbab, atau mantan pekerja seks komersil? Lebih baik mantan ruhaniwan atau mantan koruptor? Logikanya, kalau mantan kiai akan menjelma menjadi preman. Kalau mantan gadis berjilbab bisa menjelma menjadi pekerja seks komersil? Kalau mantan ruhaniwan bisa menjelma menjadi koruptor. Sebaliknya, mantan preman tidak sedikit jadi kiai. Mantan pekerja seks komersil bisa menjadi perempuan berjilbab. Mantan koruptor bisa menjelma menjadi rohaniwan. Lantas berapa fakta di negeri ini orang yang selama ini kita anggap bermoral, tetapi pada kenyataannya kampanye kebaikan yang ditebarkan itu hanya lips service (buah bibir) atau kamuflase saja?

Penialain terhadap niat Gayus sangat relatif. Tergantung dari mana kita akan menilai dan memandangnya. Kita sudah sedemikian tidak percaya para realitas kebaikan yang pada kenyataaannya sering dimanipulasi. Atau kita juga sudah seperti besi karat tebal yang sangat sulit dibersihkan, karena sudah terlalu lama kita menyimpan karat prangsa buruk dalam lintasan batin dan logika kita. Akibatnya, muatan negatif dalam syaraf kita lebih mendominasi jalan pikiran, sehingga yang melintasi otak dan hati kita sering memilih melihat sesuatu dari sisi negatif dari pada positif.

Tetapi dalam soal ini, perlu kemudian kita juga mempertanyakan kembali, sebenarnya yang menolak niat baik Gayus itu karena hati kita yang buram oleh debu prasangka buruk, atau karena kita tidak ingin kasus besar pidana korupsi di negeri ini akan terbongkar oleh Gayus? Sebab disebut anggota DPR-RI, bukan tidak mungkin, ketika kasus Gayus ini diungkap akan banyak sejumlah orang kuat di negeri ini yang terlibat, baik dalam konteks politik dan ekonomi.

Kalau Gayus duduk sebagai staf ahli KPK dan Polri, akan sangat banyak kasus korupsi yang melibatkan sejumlah pejabat negara juga ikut terbongkar. Ungkapan Gayus yang ingin membongkar kasus korupsi kelas kakap dan kelas paus, sudah pasti membuat sejumlah petinggi negeri ini menjadi kalang kabut. Sebab Gayus adalah saksi kunci, siapa-siapa saja perusahaan dan pejabat negara yang selama ini menggunakan jasa Gayus dalam mengemplang pajak.

Sehingga argumentasi dalam dimensi moralitas yang digembar-gemborkan oleh para pejabat negara menolak Gayus menjadi staf ahli KPK dan Polri, tak lebih bentuk politik ketakutan para pejabat negara dan pengusaha agar Gayus tidak menyebut nama-nama koruptor kelas kakap dan kelas paus.

Argumentasi moralitas menolak Gayus, hanya sebuah politik pembelaan para pejabat negara dan pengusaha, agar mereka tetap selamat dari jeratan hukum terkait kasus korupsi yang mereka lakukan. Para pejabat negara sangat mengetahui iklim pikiran bangsa ini, sehingga hanya politik moralitas yang bisa menjadi benteng penolakan Gayus menjadi staf ahli KPK dan Polri. Hanya dengan kampanye atas nama moralitaslah sejumlah tokoh akan ikut menolak Gayus menjadi staf ahli KPK dan Polri.

Penolakan ini sama halnya ketika kaum kafir Quraisy menolak kedatangan Nabi Muhammad Saw di Mekkah. Penolakan mereka bukan pada dimensi ideologi Islam, melainkan karena Nabi Muhammad Saw akan mengganggu stabilitas penindasan, perbudakan dan kapitalisme yang selama ini dilakukan Kafi Quraisy di Kota Mekkah. Argumentasi penolakan atas dasar Islam tidak masuk akal bagi ajaran nenek moyang mereka, hanya rekayasa sejumlah penguasa Mekkah (Kafir-Quraisy) yang ketika itu tidak ingin diganggu kemapanan kekuasaannya menjadi pememerataan hak dan kewajiaban antar sesama, sebagaimana ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Jadi penilakan meraka bukan karena Islamnya, tetapi karena ajaran Nabi Muhamad Saw yang bertentangan dengan iklim hukum pendindasan yang sudah lebih dulu mereka terapkan.

Gayus memang bukan Nabi atau Rasul. Tetapi saat ini Gayus sedang menjadi manusia pilihan Tuhan yang sedang diundang Tuhan melalui sejumlah kasus yang melingkupinnya. Gayus memang ditugaskan Tuhan untuk membuka sejumlah kasus korupsi. Gayus juga seperti iblis yang membantu kita untuk mengantar banyak manusia masuk sorga, meski dia harus berkorban menyiapkan diri masuk neraka. Sama seperti lilin yang setia menerangi kegelapan, tetapi dirinya siap leleh dan terbakar.

Gayus, seperti juga Ahmad Mushodieq yang mengaku nabi. Datang dan lahir saat ini untuk membuka ruang pikiran dan batin kita. Tanpa Mushodieq mungkin bangsa ini tidak pernah akan ada perbincangan serius para pejabat negara tentang agama. Karena Mushodiq, sejumlah pejabat negara kemudian duduk satu meja, antara Polri, Kemendagri, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah tokoh agama membahas kehidupan agama.
Sedemikian parahnya bangsa ini yang telah meinggalkan nilai-nilai kerohanian, segingga Tuhan harus memaksa sejumlah pejabat negara untuk membicarakan agama dengan mengutus Nabi palsu Ahmad Mushodieq. Demikian juga dengan Gayus. Oleh karena sedemikian parahnya tingkat korupsi di negeri ini, sehingga Tuhan harus mengurus Gayus untuk menjadi tersangka. Gayus diundang Tuhan agar segera kembali pada-Nya. Sebab dalam kurun waktu tertentu ketika Gayus memanipulasi laporan pajak, sudah pasti Gayus sedang terlupa pada nilai-nilai kebaikan. Dan sekarang, Gayus tertangkap, ditugasi Tuhan untuk membantu pembongkaran kasus korupsi yang lebih besar di negeri ini.

Sekarang tinggal bagaimana sikap bangsa ini. Apakah akan menempatkan Gayus sebagai iblis yang tetap menjerumuskan manusia, atau merubah pikiran kita, untuk kemudian memposisikan Gayus sebagai iblis yang ingin bertaubat dan membantu bangsa ini untuk membongkar kasus korupsi di negeri ini? Pintu menuju kebaikan dari langit sudah dibuka melalui tertangkapnya Gayus. Sekarang tinggal para pejabat negara, mau atau tidak memulainya untuk membongkar kasus Gayus lain yang lebih besar lagi? [*]

Palembang, 13 Januari 2011

Penulis adalah, Pelaku Sastra, Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Kota Palembang, bekerja pada Dapunta.com

Sumber Tulisan : http://www.dapunta.com/ketika-gayus-ingin-menjadi-%E2%80%98nabi%E2%80%99.html

Senin, 27 Desember 2010

SAKIT ITU NIKMAT


Oleh Imron Supriyadi
Pada suatu sore, Annisa (5 tahun), putri sulung saya jatuh terjerembab. Lutut kakinya lecet tergesek aspal. Tangannya juga bernasib serupa. Kulit arinya terkelupas. Ada bercak darah yang seketika mengembun dari pori-porinya. Tidak terlalu parah memang. Tetapi luka lecet di kedua lutut anak saya cukup beralasan jika dia harus menangis karena menahan rasa sakit. Untuk ukuran orang tua, luka itu memang tak seberapa. Tetapi bagi sebagian anak seusia anak saya sangat mungkin hal demikian itu memaksanya harus menangis.
Tangisnya kian meledak saat saya kemudian keluar menyambutnya. Dia menganggap saya akan langsung memanjakan dan menggendongnnya. Tangannya menjuntai ke arah saya. Tetapi saya tidak langsung menerima permintaan itu. Kian meraunglah suara tangis anak saya.
“Sakit, kan?! Itulah hasilnya kalau jalan tidak hati-hati. Siapa yang salah?” tanya saya memancing argumentasi anak saya, untuk tidak menyalahkan orang lain ketika dia terjatuh.
“Ca..caa…,” katanya terbata-bata menyebut nama panggilan akrabnya.
Selesai saya obati, anak saya terlelap bersama rasa nyeri lutut dan tangannya. Saya kemudian meninggalkan anak saya di dalam kamar sendirian, setelah sebelumnya saya mencium keningnya.
Demikian indah rasa sakit itu, ketika kemudian mengantarkan anak saya bisa tidur siang. Jika tanpa ada kejatuhan, anak saya akan menolak untuk diperintah tidur siang. Jatuhnya anak saya adalah bahasa langit yang kemudian menyadarkan saya, betapa keinginan baik dari orang tua yang ditolak mentah-mentah oleh anak, kemudian diambil alih kewenangannya oleh Tuhan, dengan cara “sakit dan jatuh” lebih dulu, baru kemudian anak saya bersedia berbaring dan terlelap.
Dalam skenario langit, Tuhan telah sedemikian banyak menciptakan jutaan rasa sakit yang acap kali kita anggap cobaan, teguran atau bahkan laknat. Tetapi sedemikian sombongkah kita jika kemudian menganggap rasa sakit yang menimpa kita sebut sebagai cobaan. Sudah berapa banyakkah kita berlaku adil atas karunia-Nya, sehingga kita menganggap rasa sakit itu sebagai cobaan? Seberapa taatkah kita? Lalu teguran. Seberapa salah yang telah kita lakukan sehingga kita menganggap rasa sakit yang kita derita sebagai teguran? Pernahkah kita kemudian melakukan perhitungan (muhasabah diri) atas segala kelalaian kita yang telah melakukan dosa ritual, dosa sosial dan dosa struktural dalam system tatanegaraan kita, jika kemudian kita menyebut rasa sakit itu sebagai teguran? Lalu laknat. Bukankah Tuhan Maha Pengampun? Pantaskah Tuhan melakukan laknat terhadap mahluk ciptaan-Nya sendiri hanya lantaran kesalahan yang sebenarnya kesalahan itu sendiri adalah bagian proses untuk mengantarkan mahluk-Nya menemukan kebenaran?
Apapun julukan kita terhadap rasa sakit, tetap saja akan menjadi indah ketika rasa sakit itu bukan dijadikan sebagai keluhan, penderitaan apalagi halangan untuk tetap saya berterima kasih atas semua “bonus gratis” dalam hidup, yang Tuhan sendiri memerintahkan kita hanya untuk “mengabdi” tak ada lain. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk mengeluh, mengumpat apalagi menghujat terhadap rasa sakit. Sebab dengan rasa sakit kita akan sangat paham betapa nikmatnya sehat. Dengan rasa sakit kita makin banyak tahu tentang sakit-sakit lain yang mungkin selama ini diderita oleh banyak orang, sementara kita memilih mentertawakannya. Dengan rasa sakit itu, Tuhan sedang memanusiakan kita, agar kita tersadar kalau sebenarnya kita ternyata hanya bisa mengeluh saat ditimpa rasa sakit, dan akan tertawa, bahkan terjerumus dalam kelalaian saat kita sehat. Maka nikmatilah rasa sakit itu, sehingga dengan sakit itu kita akan lebih memahami Tuhan sedang menyapa kita, meski sapaan itu dengan rasa sakit. Demikian pula, sore itu, ketika anak saya jatuh sebenarnya bukan sedang melukai anak saya, tetapi sebaliknya Tuhan sedang mengasihi anak saya, memaksa anak saya untuk lelap sebentar demi keberlangsungan tenaganya di esok hari.**

Palembang, 5 Agustus 2010

Rabu, 15 Desember 2010

AYAM MATI DI MEJA PRESIDEN



Oleh Imron Supriyadi

“Salah satu tugas pokok Nabi Muhammad SAW di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak (makarimal akhlaq),” itulah secuil kalimat awal yang sempat saya kutip dari Kiai Gombloh, salah satu guru ngaji saya di Tanjung Enim. Tetapi, untuk melakukan penyempurnaan akhlak, Muhammad tidak kemudian merubah sifat dasar manusia, yang cenderung menyerupai hewan.
“Lho, kok menyerupai hewan,?” tanya saya heran.
“Manusia punya rasa haus dan lapar, hewan juga punya. Manusia punya nafsu, hewan juga punya. Manusia punya rasa kantuk, hewan juga punya. Apakah itu sifat hewan yang sama dengan manusia?” Kiai Gombloh bertanya sambil meyakinkan saya ketika itu.
Tetapi menurutnya, yang disempurnakan Muhammad bukan sifat dasar manusia ini. Bukan juga fisik. Sebab kalau fisik, pada dasarnya manusia ini mahuk yang kotor.
“Tetapi, manusia kan diciptakan dengan sempurna? Kenapa kiai katakan manusia itu kotor?” sergah saya penasaran.
“Hidung yang mancung ini, isinya cuma tai hidung. Kalau pilek yang keluar ingus. Kemudian mata kita yang bersinar ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan tai mata, rembes atau belek. Mulut kita yang indah ini, kalau bangun tidur hanya mengeluarkan iler, yang baunya sangat tidak enak. Dan dubur (anus) kita yang setiap hari kita bersihkan hanya mengeluarkan tinja. Dan kalau kamu mau sadar, kita ini juga lahir dari tempat pembuangan kotoran,” jelas Kiai.
Matanya mengamati saya untuk meyakinkan kalau saya benar-benar paham dengan ucapannya. Saya mangut-mangut.
Bermula dari inilah, menurut Kiai Gombloh, Muhammad diutus ke bumi untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak adalah pakaian. Akhlak adalah ruh dalam diri manusia, yang menjadi penentu, apakah manusia akan menjadi mahluk mulia atau sebaliknya terjerumus dalam kubangan dosa dan kehinaan.
“Akhlak itu pakaian,?” tanya saya lirih. Kiai mendengar keraguan batin saya.
“Kalau kamu tidak percaya, sekarang kamu keluar dari ruangan ini, dan berdiri di tempat orang ramai dengan tidak memakai baju selembar pun. Maka saat itulah kamu akan sadar, kalau saat itu kamu akan tahu perbedaan manusia dengan hewan. Dan kamu akan tahu kalau akhlak adalah sama dengan pakaianmu,” tegasnya.
Tetapi, ketika manusia berusaha menyempurnakan akhlaknya, selalu dihadapkan pada dua pilihan, antara halal dan haram, dan berbagai rayuan dunia yang menggiurkan syahwat kebintangan. Tidak jarang, sebagian manusia yang kemudian terjerembab dan jatuh ke dalamnya. Jadilah manusia kembali pada kehinaan. (asfalasaa filin)
“Supaya manusia kembali pada kemuliaan, bagaimana?”
“Ya, itu tadi, manusia harus dipoles dengan akhlak Al-Quran, supaya manusia ini bisa kembali kepada fitrahnya manusia yang pada awalnya suci dan bersih!”
“Untuk berjuang mempertahankan kemuliaan ini, kamu harus banyak belajar dengan ayam yang bisa naik ke meja presiden,” kata Kiai Gombloh sambil tertawa.
Saya sedikit bingung dengan ucapannya. Sebab dari awal berbincang soal akhlak, tiba-tiba Kiai Gombloh menyuruh saya belajar dengan ayam.
“Ayam kiai?” tanya saya makin penasaran.
Ia hanya mengangguk.
“Perjuangan ayam untuk bisa naik ke meja presiden, sangat panjang perjalannya. Tetapi itu dilakukan untuk memposisikan dirinya agar menjadi mahluk yang mulia di mata presiden,” kata kiai tanpa membaca pikiran saya yang makin bingung.
“Sama seperti kita. Untuk mempertahankan akhlak dan kemuliaan di hadapan Allah, kita juga memerlukan perjuangan yang tidak mudah. Perlu kesabaran. Siap dilempar-lemparkan kesana kemari. Bersedia menerima kenikmatan dan musibah. Sanggup menahan diri dari godaan duniawi. Siap menaggung kepedihan, kesengsaraan hidup dan lain sebagainya,” katanya.
“Sekali saja kita terjerumus dalam gelimang tipuan duniawi, dan tidak sabar terhadap kebijakan dari langit, kita akan kembali menjadi mahluk yang kotor tadi,” tegasnya.
“Ayam juga begitu. Untuk menjadi mahluk yang mulia di mata presiden, ayam itu sanggup ditangkap oleh tukang ayam. Kemudian kakinya diikat. Setelah tiba waktunya, ayam itu juga harus siap disembelih. Pedih. Sakit dan berdarah-darah”
“Tidak cukup sampai disitu. Setelah disembelih, dimasukkan dalam air panas. Kemudian dicabuti bulu-bulunya. Ditelanjangi habis, persis ketika ayam itu baru menetas dari telurnya. Ia juga seperti manusia ketika lahir, tidak ada sesuatu apapun yang menempel di badannya, kecuali kesucian!”
Saya menunggu lanjutan kalimatnya. Belum jelas kemana hubungan antara perjuangan kemuliaan ayam dan kemuliaan manusia.
“????”
Saya terdiam sesaat. Saya masih terus menunggu kesimpulan dari akhir cerita ayam dari Kiai Gobloh.
“Setelah semua dilucuti, ayam juga harus siap dipotong-potong. Perutnya dibelah. Semua organ tubuhnya dikeluarkan. Disayat dan dibersihkan. Sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian, ayam juga harus bersedia dilumuri dengan bumbu. Ada garam, lada, ketumbar, bawang merah, bawang putih dan sedikit cabe. Kamu bisa bayangkan, kalau kita luka kecil saja, bila dilumuri garam akan sangat pedih, lalu bagaimana dengan ayam yang dilumat habis dalam wajan dengan bumbu dapur?”
Saya merenung sejenak, sambil membayangkan bagaimana pedihnya luka di tubuh ayam yang harus dilumuri garam dan cabe.
“Tidak sampai disitu perjuangan ayam. Setelah dilumuri bumbu dapur, ayam harus menjalani proses akhir sebelum sampai pada kemuliaannya. Ayam harus digoreng dengan minyak panas, atau juga direbus dengan air mendidih, sampai dagingnya empuk.”
“Setelah perjuangan yang pedih ini selesai, barulah ayam diletakkan di tempat yang bersih, untuk kemudian disajikan di meja presiden. Sampailah ayam pada posisi yang mulia, meskipun harus ditebus dengan kematian. Tetapi, kalau ayam tidak berjuang keras, kemudian saat dia hidup melompat ke meja presiden, bukan kemuliaan yang ia dapat tetapi justeru pengusiran dari meja presiden. Kenapa? Karena ayam itu dianggap kurang ajar dan merusak citra presiden,” Kiai Gombloh kembai tertawa.
“Tetapi dengan tebusan kematian, ayam itu demikian puas karena perjuangannya telah sampai pada kemuliaan. Selain sampai di meja presiden, ayam itu bisa dinikmati oleh siapa saja, kemudian mengajarkan pada kita untuk bersyukur karena tubuh kita mendapat tambahan protein hewani dari perjuangan kematian ayam yang sampai di meja presiden atau di meja makan kita”
Bila ayam saja siap berkorban sampai pada titik kematian untuk menjadikan dirinya sebagai mahluk yang mulia, lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita juga sudah sudah menyiapkan diri untuk berjuang keras mempertahankan akhlaq demi sebuah kemuliaan di mata Sang Pencipta, sebagaimana ayam yang berjuang menuju meja presiden?

BTN Krg. Asam
Tanjung Enim, 9 April 2009




Senin, 11 Januari 2010

KEBERSIHAN STRUKTURAL

Oleh Imron Supriyadi

Suatu ketika, saya dan kawan-kawan mengadakan siaran langsung (off air) lomba mewarnai gambar dan peragaan busana daerah tingkat TK dan SD di Lapangan Segitiga. Lapangan Segitiga ini, secara kebetulan berada di komplek perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia, yang berdekatan dengan ruang utama direksi perusahaan itu.
Sudah tentu, hampir setiap karyawan dan petinggi perusahaan tambang ini, akan melewati jalan yang persis ada di sebelah kanannya. Seperti biasa, setiap kali menggelar off air, puluhan pedagang kakilima dari berbagai jenisnya, muncul secara berangsur. Persis, seperti semut, yang kemudian mengerumuni gula, saat ada satu butir gula jatuh ke lantai. Tidak berbeda pada acara ini. Ratusan, anak dari berbagai penjuru di wilayah Kabupaten Muara Enim, beserta orang tuanya, tumplek bleg di lapangan segitiga, ditambah lagi dengan pendukung lainnya.

Adalah sebuah konsekuensi, jika kemudian akibat kerumunan itu, selain membawa cerita masing-masing orang tua wali, juga meninggalkan onggokan sampah diluar batas kebiasaan, ketika Lapangan Segitiga tidak dipakai untuk acara tertentu. Tumpukan sampah, sudah pasti siapapun enggan melihatnya, apalagi sampah itu bertumpuk, tepat di kawasan kantor besar sebuah perusahan elit. Bagi perusahaan, ini adalah noda. Apalagi kalau tiba-tiba ada tamu dari luar kota. Tapi karena kebetulan hari itu adalah hari libur, saya dan panitia tidak terlalu dikejar oleh jam kerja.

Kami selesai membereskan barang-barang keras, sekitar pukul 14. 00 WIB. Semua peralatan elektronik, panggung, tenda, kursi, sudah beres, diangkat ke kantor, tempat kami berkerja. Barang yang pinjaman juga sudah diangkut yang punya, seperti organ tunggal dan sound sistem-nya. Sebelum kami bubar, saya dan kawan-kawan sempat makan bersama, diatas terpal yang didaulat sementara menjadi tikar darurat. Asyik memang, sekalipun agak gatal. Tapi, karena keadaan lelah dan lapar, rasa gatal dan kumuh tak membuat kami harus beranjak pergi. Semua berjalan sebagaimana biasa ketika kawan-kawan makan diatas meja makan. Usai makan, muncul lagi persoalan. Apalagi kalau bukan sampah. Di hadapan kami, selain bekas bungkus nasi, masih terserak berbagai jenis sampah ringan. Koran bekas, bekas kemasan minuman mineral, plastik bekas bungkus permen, kue kering atau hanya air minum energi yang tak sempat dihabiskan, karena keburu anaknya minta pulang.

Sampah. Ini yang kemudian kami tinggalkan satu malam, usai kegiatan. Kami berpikir, besok pukul 06. 00 WIB, seerti biasa ada petugas kebersihan yang sigap membersihkan segala sampah di Lapangan Segitiga. Tapi apa yang kami perkirakan salah. Pukul. 07. 00 WIB, saya masuk kantor. Dan ternyata, saya masih melihat sampah kemarin masih menghampar di Lapangan Segitiga. “Waduh, gawat”, Pikir saya spontan. Ini pasti akan mengundang reaksi keras dari direksi perusahaan tersebut, atau minimal bagian kebersihan lingkugan. Belum, sempat saya pikiran saya mengendap, seorang petugas datang ke kantor saya. Mukanya sudah menunjukkan sikap yang kurang sedap. Tapi karena saya harus meng-handl berita pagi, saya tak sempat bicara dengan petugas itu. Hanya Heru, teman saya yang diajak bicara soal sampah. Sudah pasti, akan terjadi ketegangan Heru dengan petugas.

Saya baru tahu dari Heru, kalau untuk membersihkan Lapangan Segitiga, harus ada “uang rokoK” sebagai tambahan insentif.
“Lho, itu kan tugas mereka?” Tanya saya spontan.
“Iya, Mas, tapi kebersihan ini kan sidah ditekel CV, diluar perusahaan ini”.
“Nah, apalagi CV, itu artinya yang bekerja sudah kontrak kerja, kalau mereka harus mebersihkan sampah, dilingkungan kantor utama”.
“Justeru CV-nya yang minta tambahan insentif.”

Belum lagi saya selesai berbincang dengan Heru, saya sudah melihat “pasukan bersapu”, berbondong-bondong datang ke Lapangan Segitiga. Ada seorang pengawas di sekitar lapangan itu.
“gara-gara sampah, saya jadi kena marah direksi”, pengawas itu menggerutu, yang mungkin hanya didengar oleh dirinya sendiri.
“Kenapa kamu yang harus nyapu, kan bukan giliran CV-mu?” tanya saya pada salah satu petugas kebersihan.
“Kena marah direksi Mas, kalau tidak dibersihkan”. Jawabnya pendek.
“Oooo, berarti, kalau tidak dimarahi Direksi, atau direksi kebetulan tidak meihat, walau satu tahun, sampah ini tetap akan di Lapangan Segitiga. Ironis”.

**
Peristiwa diatas, hanya sekelumit realitas, yang sering terjadi di masyarakat kita. Membersihkan sampah, sering berdasar pada ke-inginan untuk dipuji, dilatari oleh uang seseran, takut dipecat, takut dimarahi direksi, atau karena ada kunjungan seorang pejabat. Ini sama halnya, ketika suatu kampus Perguruan Tinggi di Palembang, akan kedatangan Menteri Agama RI. Ketika Tarmizi Taher. Karena kebetulan, jalan masuk ke kampus yang berjarak 400 meter itu, disesaki oleh pedagang kakilima. Maka satu hari sebelum Mentri datang, semua diusir, dipaksa pindah, untuk sesaat saja, sampai Pak Mentri pulang ke Jakarta. Persis dengan membersihkan sampah, karena takut dengan direksi.
Ini adalah potret nyata, sikap bersih kita terhadap lingkungan, yang tidak langsung berhbungan dengan kita, hanya kebersihan yang dilatari oleh kesadaran palsu (kamuflase). Yang terjadi kemudian adalah, kebersihan bukan berjalan secara kultural (bermula dari kesadaran diri terhadap pentingnya kebersihan bagi manusia dan lingkungan), melainkan menjadi kebersihan struktural. Semua menunggu perintah bos. Selagi tidak ada perintah atau risiko yang akan menghilangkan “pendapatan” keseharian, sampah tetap akan terbiar begitu saja.

Kalau mau jujur, Kultur Kebersihan struktural ini, bukan saja pada kasus off air diatas tadi, tapi jauh lebih dari itu, masih banyak lagi contoh kasus yang secara tidak kita sadari, sudah menjebak kita, dalam sikap hidup yang selalu menjaga kebersihan karena struktural tadi.

Dalam konteks yang lebih besar lagi, mislanya ; Gerakan Jumat Bersih (GJB) di kampung-kampung, juga menunggu SK Walikota. Membersihkan got dan mengecat pagar, menunggu lomba kebersihan lingkungan, atau membersihkan kursi dan memperbaiki perabotan rumah, menunggu lebaran tiba dan lain sebagainya. Pun demikian halnya, pernah terjadi di sebuah radio ternama di Palembang, ketika seorang Jendral (Purn) Wiranto, akan talkshow . Bukan Klarifikasi tentang dugaan keterlibatannya dalam kasus pelanggaran HAM di Indoensia, melainkan sosialisasi album baru Wiranto.

Tiga hari sebelum Wiranto datang, semua divisi diberi warning oleh menejemen, agar menjaga kebersihan. “Jangan memalukan. Ini yang datang Wiranto, mantan pejabatr negara. Semua harus rapi dan bersih. Teman-teman yang biasa pakai kaos, harus tampil rapi pakai kemeja”.
“Wah, lebih-lebih menyambut kedatangan malaikat. Banyak orang, mengahadap Tuhan, pakai pakaian ala kadarnya, sementara menyambut Wiranto, harus perfect, tidak boleh ada yang kurang. Ini Tuhan, Malaikat atau siapa? “ Pikir saya bersoloroh, menyimpan kekesalan.
Dua jam sebelum kedatangan Wiranto, semua sigap siaga di posisinya masing-masing. Hanya saya, yang memang bertugas melakukan liputan keluar. Kebetulan, ini adalah kesempatan saya, untuk tidak menjadikan Jendral (Purn) Wiranto sebagai “Tuhan”.
Masyarakat kita, ternyata hanya mempunyai dalil : bersih itu sehat, Jagalah kebersihan, atau bahasa agamanya : Kebersihan sebagian dari iman”. Bulshit! Sebab, kenyataannya, semboyan itu, hanya sebatas slogan. Sama artinya, seseorang boleh saja hafal ayat kursi, tetapi setelah berdiri dan mempunyai otoritas di sebuah lembaga, hanya kursinya yang di bawa, sementara ayat-ayatnya ditinggal begitu saja. Dan kita, semua kembali atau sedang terjebak dalam kebersihan struktural. Dan besok, mungkin kita perlu berlari menuju Tuhan, dan mengusulkan, untuk membuat doa kebersihan sekaligus kutukan ketidakbersihan. (*)

Tanjung Enim, 26 September 2005

Kamis, 15 Oktober 2009

DE-SAKRALISASI CELANA DALAM


Oleh Imron Supriyadi

Celana dalam, bagi saya, atau juga bagi anda merupakan bagian atribut kebudayaan yang sangat privacy. Sebab, hampir semua orang, jangankan untuk memperlihatkan, untuk menjemur dan membawa dari kamar ke kamar mandi saja, harus sembunyi-sembunyi. Atau paling tidak, diselipkan diantara pakaian lain, sehingga secara kasat mata, atribut yang bentuknya segitiga ini, tidak diketahui oleh banyak orang.
Persoalannya bukan karena celana dalam itu barang curian, tetapi karena atribut ini adalah bagian “simbol kepribadian” yang memang harus dijaga, sejak dari pembungkusnya sampai yang dibungkus.
Atribut yang ‘sakral’
Disisi lain, celana dalam, bagi saya merupakan sesuatu yang amat ‘sakral’. Sebab, selain atribut ini memiliki beberapa rambu-rambu tidak tertulis, tetapi harus ditaati. Pertama, celana dalam berposisi sebagai alat pelindung dari organ tubuh kita yang ‘paling dalam’, sehingga tidak siapapun boleh membuka secara sembarangan, kecuali sudah ada ‘aqad’ yang sah, secara agama dan hukum. Bahkan, seorang dokter-pun harus mengatakan “maaf” terlebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan terhadap seorang pasien, yang secara kebetulan memiliki penyakit di kawasan itu. Dengan realitas ini, celana dalam adalah salah satu produk kebudayaan, yang pada kenyataannya, bukan saja mengajarkan tentang nilai, tetapi juga menyodorkan sebuah pesan moralitas sosial, sehingga orang tidak bisa sembarangan melihat, memperlihatkan atau membukanya.
Kekejaman Celana dalam
Di zaman Renaisans, celana dalam merupakan atribut, yang digunakan untuk menjaga seorang isteri, agar tidak melakukan perselingkuhan. Pada zaman ini, celana dalam dibuat dari logam, kemudian menempel ketat, sehingga seorang perempuan akan sulit bergerak, sekalipun untuk buang air. Ketika itu, celana dalam, dikenal juga dengan sebutan korset besi, badong dan Pita Venus Pelindung perempuan. Badong pengaman milik wanita yang dikenal sebagai Ratu Prancis ini, terbuat dari ujung gading gajah, yang dikaitkan pada lingkar gelang besi oleh sebuah gesper. Untuk memperketat atau memperlonggarkannya, digunakan semacam penahan bergigi. Lingkar besi itu dibungkus dengan bahan sutera, agar tidak menimbulkan lecet. Lengkung ujung gading itu mengikuti kontur anatomis dan posisinya menutupi bagian kemaluan. Bagian ujung depan yang bercelah dan bergerigi dari alat "penyiksa" itu kini masih bisa disaksikan di Museum de Cluny di Paris.
Inilah realitas, betapa kejamnya pria-pria di zaman Renaisans dan Barock yang memaksa istri-istri mereka memakai pelindung mengerikan itu adalah celana dalam milik Katharina von Medici (1519 -1589). Makna dan tujuan peralatan ini dipakai, hanya untuk menjaga “kehormatan” setiap isteri ketika itu. Dengan kata lain, seorang isteri memang ditempatkan pada posisi yang sangat privacy, sehingga, hanya suaminya saja, yang boleh menyentuh istrinya, karena istri dianggap sebagai "benda" milik pribadi suami. Itulah sebabnya perempuan yang dinikahi sah saja "disimpan" dalam pelindung yang terbuat dari besi.
Kasus ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat biasa. Para kalangan atas juga tidak bebas dari celana dalam kejam ini. Charlotte Aglae, putri Herzog von Orleans, yang terkenal sebagai wanita tercantik di zamannya, datang ke Italia untuk menikah dengan Herzog von Modena. Dia harus tunduk pada peraturan setempat, sehingga harus juga mengenakan pelindung seram itu. (intisari : 1998)
Ternyata, celana dalam logam ini, bukan saja ada pada zaman renaisans. Sebab zaman jahiliyah, celana dalam logam juga memiliki peran yang sama, yaitu untuk melindungi perempuan dari jamahan laki-laki. Sebab, zaman jahiliyah para perempuan banyak yang ditinggal perang, sehingga untuk melindungi mereka dari ulah para laki-laki zaman itu, celana dalam logam dipakai oleh hampir setiap perempuan.
Celana dalam versi Mbah Rowo
Sementara itu, realitas lain menyebutkan, di ujung desa, di puncak sebuah gunung, celana dalam justeru dijadikan sebagai alat penglaris dalam jual beli soto ayam. Inilah yang dilakukan oleh Mbah Rowo, salah satu tokoh supranatural di kepulauan Jawa Tengah.

**

Jika melihat realitas tentang celana dalam (G-string) pada saat ini, ada semacam de-sakraliasi terhadap celana dalam. Di awal tulisan, saya sebut celana dalam merupakan atribut yang sangat privacy. Tidak semua orang bisa melihat dan tidak sembarang orang bisa membukanya. Tetapi pada akhir-akhir ini, saya atau juga anda, tidak akan terlalu sulit untuk melihat atribut yang sebelumnya saya sebut sangat privacy itu. Betapa tidak? Belakangan, diantara sekian banyak perempuan justru sedang merasa tidak gaul, kalau tidak memakai stelan rok / celana ketat dan kaos oblong minim yang memang pas-pasan, sehingga jika badan menunduk sedikit, maka akan terlihatlah warna celana dalam yang sedang dikenakannya. Trend ini bukan saja melanda di kalangan remaja, tetapi juga menimpa di kalangan perempuan setengah baya. Yang lebih ironis lagi, ada beberapa perempuan yang notabene sudah menutupi diri dengan jilbab, tetapi masih juga mengenakan kaos oblong yang minim. Akibatnya, nasib celana dalam yang berjilbab, sama saja dengan yang tidak berjilbab.
Anehnya lagi, hampir setiap perempuan yang mengenakan pakaian minim ini, selalu berusaha menutupi pinggangnya dengan menarik-narik kaos oblongnya, agar celana dalamnya tidak terlihat. Tetapi logika apa yang kemudian terbersit dari rumah? Kalau memang tidak ingin celana dalamnya terlihat atau sengaja diperlihatkan, kenapa mesti memakai kaos dan rok yang minim? Apakah ini juga bagian dari proses menjual celana dalam, sebagaimana difungsikan sebagai penglaris “Soto Ayam” seperti Mbah Rowo?
Realitas ini, sebagai bukti adanya pergeseran pemahaman nilai sakral terhadap celana dalam. Di satu sisi, celana dalam adalah symbol dari ‘kehormatan’ perempuan dan laki-laki. Tetapi disisi lain, ada de-sakralisasi celana dalam. Ini terlihat, disaat celana dalam sudah bukan lagi menjadi atribut yang mesti dilindungi dari penglihatan orang banyak, justeru sebaliknya. Ingin dilihat banyak orang. Kata Orang, datang tampak pusat, pergi tampak celana dalam, begitulah sekarang orang membuat sebuah idiom terhadap “murahnya celana dalam”.
Potret kebudayaan diatas, menggambarkan adanya sikap yang bertentangan (paradok), antara tuntutan penghargaan terhadap perempuan dan realitas penampilan perempuan. Pada bagian lain, sekelompok perempuan mengkampayekan soal hak-hak perempuan. Tetapi dibagian lain, ada sekelompok perempuan, yang sepertinya melihat celana dalam sudah bukan lagi menjadi barang atau atribut yang harus ditutup-tutupi, malah sebaliknya, celana dalam menjadi atribut yang memang layak dilihat oleh semua orang.
Bagi Agus Romdani, Ketua Litbang UKMBS Universitas Lampung, realitas ini, sebenarnya bagian dari akibat berbagai macam perubahan, baik konflik vertikal maupun horizontal yang meliputi persaingan elit, friksi-friksi, konflik antar lembaga politik maupun kerusuhan-kerusuhan yang mengguncang Indonesia. Sehingga, megakibatkan adanya pergeseran nilai, norma sebagai patokan dalam berfikir, bertindak dan berprilaku. Sebab, menurut Romdani, penurunan standar nilai dalam berprilaku tentu akan bermuara pada perubahan karakter, sifat, watak bangsa. Konsekuensinya, ketika sekelompok perempuan, sudah menanamkan sifat semau gue, maka selanjutnya yang akan mengemuka adalah bagaimana kelompoknya bisa tampil beda dengan yang lain.
Namun yang pasti, realitas celana dalam, menurut saya bukan satu akibat dari struktur sosial yang diwariskan, namun sebagai sikap keresahan secara psikologis, sehingga secara sadar atau tidak, telah ada usaha untuk memunculkan pola budaya baru, sekalipun itu merusak mentalitas dan moralitas bangsa. Dan celakanya kadang perubahan budaya itu tiada disadari berjalan, mengalir, bergerak tanpa arah yang jelas, carut marut dan akhirnya membawa sampah- sampah busuk dan luka-luka yang parah. **

Palembang, 2007

TEOLOGI MATI LAMPU


Oleh Imron Supriyadi
Suatu ketika, di Er-Te saya sedang mendapat giliran mati lampu. Dan sebelumnya, PLN memang sudah memberitahu tentang giliran mati lampu ini, sekalipun, tidak jarang pemberitahuan itu melenceng dari jadwal. Nah, menurut jadwal giliran, seharusnya malam itu di Er-te saya tidak mendapat giliran mati lampu. Oleh karena meleset dari jadwal itulah, kemudian beberapa warga uring-uringan, marah-marah, kesal dan lain sebagainya.
Tetapi di sisi lain, saya juga melihat, beberapa warga keluar dari rumah, menuju warung membeli lilin, ada juga yang tandhang kerumah tetangga, dan berkumpul, sambil menunggu hidupnya lampu, sambil ngobrol dan bercengekarama.
Saya tidak tahu persis, anda masuk di bagian mana. Apakah anda masuk ke kelompok yang marah-marah dan kesal, atau masuk kelompok orang yang biasa saja menghadapi mati lampu.
Nah, kalau kita mau jujur, dari peristiwa mati lampu, sebenarnya ada nilai yang mungkin selama ini tidak pernah kita pikirkan, tetapi justeru muncul di saat mati lampu. Mungkin, selama ini kita selalu disibukkan oleh bermacam aktifitas kantor atau pekerjaan keseharian. Sehingga, sepulang dari kantor, anda tidak pernah melakukan tandhang atau silaturahmi ke para tetangga, karena sudah terlalu lelah dengan pekerjaan satu hari penuh. Demikian juga, oleh karena kita sering berbelanja di Supermarket, anda pun sangat jarang membeli lilin di warung tetangga, yang mungkin membutuhkan keuntungan dari tangan kita.
Inilah yang saya katakan, dari mati lampu, ada nilai yang mungkin selama ini kita lupakan. Sebab, dari mati lampu, dalam masing-masing warga tiba-tiba muncul semangat kebersamaan untuk berkumpul dengan tetangga, berbagi kesejahteraan dengan warung sebelah dengan membeli lilin, atau bahkan kita pun memiliki emosi yang serupa, yaitu kekesalan terhadap musuh yang sama yaitu : mati lampu.( baca; kegelapan). Kenapa di saat mati lampu kemudian kita berkumpul, mengerubungi lilin atau lampu minyak? Atau kenapa pula di saat mati lampu kita kemudian lebih memilih mencari teman ngobrol, ketimbang tidur-tiduran di dalam kamar sendirian? Apalagi alasannya, kalau bukan karena anda, saya dan kita tidak menginginkan adanya kegelapan.
Tetapi, semangat kebersamaan dan menyatu dalam satu gerakan emosi, dalam konteks mati lampu, tidak pernah kita petik, untuk tetap kita lestarikan dalam kedirian kita. Kita sering merasa, selama ini tidak menginginkan rumah kita gelap, tetapi kita sering berdiam diri di kamar masing-masing. Setelah kegelapan itu hadir di depan mata, kita baru tersadar, bahwa kita sedang berada dalam kegelapan.
Mati lampu, ternyata bukan sekedar mendorong kita untuk sebatas marah terhadap PLN, tetapi ada nilai yang mesti dikdepankan, semangat kebersamaan, untuk melawan kegelapan. Apakah kegelapan di rumah kita, kegelapan di dalam dada kita, di dalam hati nurani kita atau bahkan kegelapan dalam sistem bangsa dan ketatanegaraan kita. Mestikah kita membiarkan kegelapan, jika kita bisa membeli lilin dan mengumpulkan kayu bakar dalam satu “ikatan api” kebersamaan untuk melawan kegelapan?**

Palembang, 2002