Minggu, 21 Maret 2010

PEREMPUAN YANG MENIKAH DENGAN ANJING



Cerpen Imron Supriyadi

Cik Pay. Begitu orang banyak memanggil perempuan itu. Wajahnya putih. Rambutnya mayang mengurai. Dagunya seperti lebah bergantung. Jalannya seperti harimau lapar; gemulai. Alisnya nanggal sepisan; seperti semut berbaris yang mendapat aba-aba Nabi Sulaiman. Sorot matanya bak rembulan terang di malam lima belas purnama. Setiap lelaki yang menatapnya akan tertunduk oleh keteduhan pandangannya. Ucapannya bisa meluluhlantakkan gemuruh dan emosi yang menggumpal. Itulah Cik Pay yang kukenal di kampung kami.
Cik, adalah panggilan bagi warga keturunan rumpun melayu. Bagi marga Besemah Sumatra Selatan, Cik menjadi panggilan bagi bibi, tante atau paman. Tetapi di kampung kami, panggilan Cik bagi perempuan itu tak punya sejarah dengan rumpun melayu. Hanya karena kebiasaan warga saja sehingga setiap perempuan dewasa yang belum dikenal namanya sering di panggil Cik. Ini sama halnya warga suku jawa yang memanggil mbak bagi perempuan yang baru dikenalnya. Sementara di kampung kami, Pay adalah nama belakang anjing yang enam bulan lalu patah kaki akibat tergilas sebuah mobil. Anjing itu terguling-guling di aspal. Tetapi mobil terus melaju tak pandang kasihan terhadap penderitaan Pay.
“Kaing! Kaing!” lolongan anjing itu menembus ruang-ruang kosong diantara suara derum mesin mobil di jalan Sudirman Palembang. Ada jeritan yang menyayat akibat menahan rasa sakit. Suaranya nyaring mengabarkan akan datangnya kematian. Tetapi tak sesiapa yang kemudian menolong, ketika kemudian anjing itu tergelepar di bawah trotoar. Perempuan yang kemudian dipanggil Cik Pay secara tiba-tiba muncul dari kerumunan orang. Cik Pay adalah salah satu pelacur yang tinggal di kampung kami. Tak ada beban sedikit pun ketika Cik Pay kemudian mengambil anjing itu dan dibawanya ke rumah. Sejak perempuan itu merawat dan memelihara anjing, akhirnya warga banyak memanggil perempuan itu dengan Cik Pay, alias bibi-nya anjing Pay. Tapi anehnya, julukan itu disambut dengan senyum. Tak ada rona yang menggambarkan dirinya dihempas keterhinaan dengan sebutan; bibi anjing.
Ulah aneh Cik Pay ini kontan saja menjadi perbincangan warga di kampung kami. Tak urung juga, keanehan Cik Pay yang membawa anjing ke rumahnya di dengar para tokoh masyarakat, agama dan unsur pemerintah. Bahkan kampung sebelah juga turut memperbincangkan Cik Pay. Satu hari setelah kejadian, warga merangsek ke rumah kepala lingkungan di kampung kami.
”Saudara, saudara! Kelakuan Cik Pay di kampung ini menjadi pertanda, bahwa di kampung kita akan segera datang musibah besar. Oleh sebab itu, saya selaku kepala lingkungan akan segera memberi teguran kepada Cik Pay, sebagaimana permintaan warga,” ujar War, berpidato di hadapan warga, menanggapi perilaku Cik pay.
Di kampung kami, anjing dianggap binatang najis. Oleh sebab itu, tak ada anjing yang bisa keluar dengan selamat dari kampung kami. Sudah pasti, setiap anjing yang masuk akan menjadi bangkai. Sampai saat ini tak banyak warga yang mengetahui latarbelakang, mengapa anjing begitu dibenci di kampung kami. Tetapi sebagian warga mengatakan, kebencian warga terhadap anjing di kampung kami, dilatari oleh sejarah pertikaian anjing dan kucing. Sebagian tokoh agama menyebut, kucing adalah mahluk yang sangat dikasihi nabi. Sementara dalam sejarah, hampir tidak ada cerita damai antara anjing dan kucing. Keduanya selalu berkelahi. Dengan sejarah itu, kemudian sebagian warga menterjemahkan; membiarkan anjing di kampung kami, sama halnya memelihara musuh kucing yang sangat dikasihi nabi.
Protes warga di kampung kami memang terasa aneh. Di saat Cik Pay memelihara dan merawat anjing yang cacat, mendapat hujatan warga. Tetapi warga di kampung kami tidak pernah protes terhadap film Tom and Jerry, yang mempertontonkan kucing yang selalu menjadi bulan-bulanan sekelompok tikus. Padahal penghinaan kucing dalam film ini lebih ideologis ketimbang sekedar protes pada Cik Pay. Tetapi aku kemudian cukup maklum.
Sebab, meskipun dalam otak manusia berisi angka, huruf dan simbol, tetapi hanya 20 persen sebagian manusia yang bisa menangkap simbol-simbol, apakah kehinaan dan simbol keagungan. Sehingga simbol kehinaan kucing dalam film Tom and Jerry tak juga menjadi perhatian warga.
Kebanyakan warga di kampung kami lebih melihat sesuatu dari satu sudut pandang, sehingga yang muncul bukan makna dibalik simbol, tetapi hanya angka dan huruf. Oleh sebab itu, ketika melihat Cik Pay memelihara anjing yang sakit, kontan saja menimbulkan sinisme warga. Masalahnya sederhana, sebagian warga di kampung kami hanya melihat dari kenyataan yang didepan mata. Tak pernah diantara warga kampung kami mencoba melihat dai sudut pandang yang berbeda, apalagi harus menggunakan teori berpikir memutar, melihat dibalik simbol dari Cik Pay dan anjingnya.
Hanya tiga hari Cik Pay berhasil mempertahankan anjing di rumahnya. Setelah itu Cik Pay tak kuasa menahan desakan warga yang meminta agar anjing piaraannya harus segera dibuang. Sebagian warga meminta agar Pay segera dibunuh. Tetapi Cik Pay keberatan.
“Sekarang pilih, anjing itu harus kami bunuh, atau kamu berdua yang keluar dari kampung kami!” ujar warga setengah mengusir.
“Kamu tetap boleh tinggal di kampung kami, tetapi Pay harus mati!” kata lainnya.
Perilaku warga di kampung kami terhadap Cik Pay, mengingatkan aku pada persitiwa serupa ketika aku masih tinggal di India. Tepatnya di Distrik Jaipur, India Timur. Bedanya, kalau di kampung kami sekarang, anjing dan perempuan yang merawatnya diperlakukan hina. Tetapi di negara bagian Orissa, India Timur itu justru terjadi pernikahan antara Sagula, bayi laki-laki berumur 2 tahun dan Jyoti, seekor anjing lokal. Yang aku tahu, pernikahan Sagula dan Jyori adalah bagian tradisi dari adat Suku Munda. Menurut tradisi mereka, pernikahan Sagula dengan anjing, kelak ketika Sagula dewasa akan terlindungi dari serangan binatang liar, seperti harimau dan sejenisnya. Tapi meski sudah menikah dengan Jyoti, Sagula tetap akan bisa menikah dengan perempuan yang dicintainya tanpa harus bercerai dengan Jyoti. Dengan pernikahan ini, penampilan Sagula diyakini akan membuat binatang liar, seperti harimau, takut menyerangnya. Para dewa dari suku juga akan memberkati dan melindungi Sagula roh jahat.
”Kami melakukan perkawinan ini untuk menghalau segala kutukan yang menimpanya dan kami,” ujar Sanarumala Munda, ayah Sagula. Bayi yang baru tumbuh gigi ini digiring ke sebuah kuil desa, di sana seorang pemuka agama mengawinkannya dengan Jyoti, anjing milik tetangga pengantin laki-laki.
Peristiwa serupa terjadi pula ketika aku berkunjung ke Dhanbad. Masih di India. Seorang gadis berusia 7 tahun warga kota pertambangan Dhanbad, Negara Bagian Bihar, India Timur, menikah dengan seekor anjing liar. Ini adalah bagian dari ritual untuk melenyapkan pengaruh buruk yang ada dalam dirinya. Adanya ciri-ciri khusus pada susunan geligi Shivam Munda, bocah perempuan itu. Dianggap oleh orang-orang suku Santhal, sebagai pertanda buruk. Kundan Munda, ibu Shivam mengatakan, anaknya menikah dengan anjing hanya untuk menghilangkan kekuatan jahat yang bisa menyebabkan kesialan. Ritual menikah dengan anjing harus dilakukan agar kelak ia bisa menikah dengan seorang laki-laki. Seperti pernikahan biasa, antarwarga suku Santhal, perkawinan Shivam Munda dengan seekor anjing geladak juga berlangsung sampai 3 hari-3 malam dan dihadiri segenap kerabat, teman dan handai taulan.
Terhadap Cik Pay, aku tidak tahu persisnya apakah dia juga akan menjalani ritual yang sama dengan Sagula dan Shivam Munda atau tidak. Tetapi, yang aku lihat, kedekatan Cik dan Pay sudah mirip kasih sayang antara suami dan isteri. Seolah keduanya saling membutuhkan. Cik Pay tak sedikitpun menghiraukan umpatan warga yang melihat jijik dengan ulah Cik Pay. Sampai warga menghujatnya, Cik Pay masih tetap dalam pendiriannya; mengasihi dan menyanyangi Pay, anjingnya.
Pay masih dalam gendongan Cik Pay. Beberapa kali Cik Pay mengelus bulu-bulu anjing itu. Elusan tangan Cik Pay, seperti jelmaan tangan Tuhan yang selalu menebar Rahman dan Rahim terhadap hamba-Nya. Tetapi itu tak tampak diantara detak jantung emosi warga. Justru pancaran kasih sayang Cik dan anjingnya terbinar di antara kegersangan batin di sebagian warga.
“Kalian tidak pernah berpikir, seandainya kalian bernasib seperti Pay sekarang?” Cik Pay mulai bicara.
“Kalian berniat membunuh Pay, padahal sebenarnya kalian tidak punya hak sedikitpun untuk mencabut nyawa setiap mahluk, walau seekor nyamuk sekalipun!”
“Alaaah, kamu itu lonthe, tidak usah ceramah! Kamu dan anjing sama saja!”
”Sudah, sekarang lemparkan anjing itu, dan kamu bisa tidur nyenyak, supaya nanti malam kamu bisa melayani banyak laki-laki,” tukas warga lainnya, ditingkahi gelak tawa secara spontan.
Cik Pay beranjak masuk. Warga terdiam sesaat. Tak lama, Cik Pay keluar membawa sebuah, tas, kardus dan plastik pelindung hujan. Beberapa warga berbisik. Sebagian warga menganggap Cik Pay sudah gila oleh anjing peliharaannya, sampai akhirnya sanggup berkorban hanya untuk seekor anjing.
“Mau kau apakan, anjing itu?”
”Bukankah kalian yang meminta agar aku dan anjingku ini keluar dari kampung ini? Aku akan turuti keinginan kalian, tapi dengan satu syarat, kalian tidak boleh membunuh anjing ini,” kata Cik Pay, sambil melangkah pergi meninggalkan kerumunan.
”Dasar perempuan sinting! Anjing dipelihara!”
Sejak Cik Pay pergi, warga kampung sedikit reda. Ada sekitar satu pekan warga kampung kami tidak lagi meributkan Cik Pay. Tetapi masuk dua pekan, kabar tentang perilaku Cik Pay terdengar lagi oleh sebagian warga. Cik Pay menyembunyikan anjingnya di pojok gerobak bekas pedagang bakso yang sudah rusak. Dengan penuh kasih dan sayang, Cik Pay merawat anjingnya. Menurut warga yang melihat, setiap malam, siang dan sore Cik Pay selalu mengunjungi Pay dan mengantar makanan. Warga di kampung kami makin heran dengan ulah Cik Pay.
“Kelakuannya makin yang tak masuk akal!”
“Jangan-jangan, Cik Pay sudah benar-benar gila!”
“Mungkin karena anjingnya lai-laki, gantinya suami ya anjing itu!”
Banyak nada ejekan dan hinaan yang menimpa Cik Pay. Tapi Cik Pay tetap keukeh merawat anjingnya. Tak peduli dengan cercaan warga. Toh, di mata Cik Pay, warga kampong kami tidak mengetahui ungkapan hatinya. Inilah kelemahan sebagian warga kampong kami. Melihat kenyataan sosial hanya dari pandangan lahir. Tidak pernah membaca dan menggali data-data ghoib atas kejadian di alam dan sekitarnua.
Memasuki bukan kedua, Cik Pay kembali ke kampung kami. Kali ini Pay tidak dibawa. Cik Pay tahu persis, kalau anjing peliharaannya dibawa akan kembali mengundang reaksi warga. Tetapi setiap ba’da maghrib, Cik Pay selalu keluar rumah. Ada bungkusan plastik hitam ditangannya. Sebongkah nasi dan sepotong ikan asin ia sediakan untuk anjingnya.
Tak urung juga warga kian hari penasaran terhadap ulah Cik Pay. Sebagian warga membuntuti dari belakang. Mereka ingin membuktikan cerita tak masuk akal tentang Cik Pay. Sebagian warga kampung kami kian hari justru kian sakit dengan dirinya sendiri. Sibuk mengurusi pekerjaan Cik Pay, sementara dirinya tidak pernah diurusi. Mencari-cari kelemahan Cik Pay yang kemudian mereka anggap merawat anjing yang terkena musibah dianggap sebuah tindakan yang hina.
Hanya dari jarak yang dekat, sebagian warga kampung kami melihat langsung bagaimana Cik Pay membelai anjingnya. Persis seperti ketika Cik Pay dihadapan warga satu bulan sebelumnya. Ia belai anjingnya dengan kasih sayang. Melihat kejadian itu, warga makin bingung. Tetapi Cik Pay tidak ambil pusing. Sejak Pay terhempas oleh sebuah mobil, kini Cik Pay kemudian punya dua pekerjaan. Selain menjadi pelacur, ia kini menjelma menjadi pemelihara anjing, seklaigus ibunya, yang setiap saat dengan setia memberi makan dan memandikannya.
Cik Pay melihat langit mendung malam itu. Ini tak baik bagi Pay. Diam-diam, Cik Pay membawa anjingnya pulang. Tak salah memang. Sesampai di rumah, hujan deras mengguyur kampung. Angin begitu kencang menerpa. Sesekali suara gemuruh terdengar, bersaamaan dengan riuh redamnya jutaan tetesan air dari langit. Pay dalam pelukan Cik Pay.
Selembar kain ia bentangkan di tubuh Pay. Dengan penuh kasih dan saying, Cik memeluk anjing itu. Persis seperti seorang ibu yang tidak ingin anaknya masuk angina karena kedinginan.
Pagi harinya, warga berkerumun. Ada beberapa pohon tumbang akibat terpaan angin kencang tadi malam. Tak ada korban. Tetapi rumah beberapa warga sempat porak poranda. Sebagian warga ingatannya kembali pada Cik Pay dan anjingnya.
“Benar yang pernah dikatakan Pak War! Selama Cik Pay dan najingnya masih hidup, kampung ini tidak akan tenang. Sekarang hujan dan angin, besok mungkin banjir!” kata warga emosi.
“Tidak ada pilihan lain, Cik Pay kita usir dan anjingnya harus kita bunuh!”
Warga kampung kami secara serentak mendatangi rumah Cik Pay. Tak di sangka, Cik Pay sudah di depan rumah. Seolah ia mengetahui tentang rencana warga pagi itu. Cik Pay dengan kasih sayang masih menggendong Pay. Bulunya mulai halus. Kakinya mulai pulih walau harus berjalan pincang.
”Hei, bibi anjing! Sebenarnya apa maumu?!”
”Mestinya kamu pelihara laki-laki jadi suamimu, dari pada memelihara anjing kurap seperti Pay?!
Cik Pay hanya memandangi beberapa warga secara bergantian. Tak ada emosi yang terpancar dari wajahnya. Bahkan kecerahan tersemburat di wajah Cik Pay pagi itu. Beberapa warga saling pandang. Mereka heran dengan Cik Pay. Seperti tak ada rasa takut sedikitpun dengan ancaman warga.
“Dengar semuanya,” Cik Pay berdiri.
“Aku memelihara anjing ini seperti halnya kalian menyanyangi dan mencintai anak dan isteri,” katanya rendah.
”Hei! Jangan kamu samakan anjing dengan anak dan isteri kami!” protes warga.
”Aku, kalian, anjing ini, anak dan isteri kalian sama. Artinya sama-sama mahluk ciptaan Tuhan. Jadi, sesama mahluk kita tak punya hak untuk saling menyakiti, apalagi membunuh. Menyakiti mahluk di muka bumi, sama halnya kalian telah menyakiti yang menciptakan mahluk. Kalian membenci anjing ini, sama halnya kalian telah membenci yang menciptakan anjing. Alasanku memelihara dan merawat anjing ini hanya satu...” ucapan Cik Pay terhenti.
Sebagian warga hanya saling pandang. Mereka masih menunggu kalimat lanjutan dari mulut Cik Pay.
”Aku merawat anjing ini, karena aku cinta dengan yang menciptakan anjing. Aku memelihara anjing ini, karena aku cinta dengan yang menciptakan mahluk. Aku tidak ingin melihat anjing ini kesakitan. Membiarkan anjing ini kesakitan, sama halnya kita telah menyakiti yang menciptakan anjing. Aku tidak membalas amarah kalian, karena kalau aku membalasnya, itu sama saja aku sedang menghujat yang menciptakan kalian! Sama halnya aku telah menebar amarah terhadap yang menciptakan kalian!” kalimat Cik Pay tak bisa terbendung lagi. Ucapannya menggelontor bagai Dam air yang jebol. Suara Cik Pay terus membanjiri relung-relung kegersangan batin warga.
Warga termangu. Suasana menjadi hening. Tak ada amarah. Tak ada hinaan. Ada kerinduan dan cinta yang kemudian menyeruak di setiap batin warga. Sementara Cik Pay dan anjingnya sudah hilang di balik pintu rumahnya. Warga kemudian bergegas ingin masuk. Tetapi sampai di dalam rumah, tak dijumpai lagi Cik Pay dan anjingnya. Warga tak tahu kemana Cik Pay dan anjingnya pergi. Ia hilang ditelan bumi.(*)

BTN Krg.Asam,
Tanjung Enim, 5 Desember 2008

Foto : http://anitasoraya.wordpress.com

Senin, 11 Januari 2010

Ketika Iblis Membentangkan Sajadah

Cerpen Imron Supriyadi

Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum’at. Saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk. Ia masuk dari segala penjuru. Masuk lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lobang pembuangan air. Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga. Masuk ke dalam syaraf mata. Masuk ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah.
“Hai, Blis!”, Panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu.
Iblis merasa terusik.
“Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!”, Jawab Iblis Ketus.
“Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci. Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!”, Kiai mencoba mengusir.
“Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru”.
Kiai tercenung.
“Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu”.
“Dengan apa?”
“Dengan sajadah!”.
“Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?”
“Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!”
“Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru, Blis”.
“Bukan itu saja Kiai”.
“Lalu?”
“Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar”.
“Untuk apa?”
“Supaya, Saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai!”
“Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar, maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam ke-renganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah.
Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus.
Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar, seenaknya saja membentangkan sajadahnya. Tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang.
Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil, membentangkan saja sajadahnya. Sehingga, sebagian sajadah yang lebar, tertutupi sepertiganya. Keduanya masih melakukan sholat sunnah.
“Nah, lihat itu Kiai!”, Iblis memulai dialog lagi.
“Yang mana?”
“Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka”.
Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan membuktikan apa yang dikatakan Iblis.
Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya, diatas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil, kembali berada di bawahnya.
Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi diatas, ketimbang menerima dibawah. Diatas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas. Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat, harus lebih diatas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah, yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa. Diatas sajadah, Iblis telah mengajari orang selalu menguasai orang lain.
“Astaghfirullahal ‘adziiiim”, Ujar Kiai pelan.
**
Ba’da Subuh. Orang-orang sudah beranjak dari Masjid. Mereka menuju ke rumahnya masing-masing. Dan beberapa menit, atau beberapa jam kemudian, masing-masing orang sudah disibukkan oleh pekerjaan keseharian. Apalagi kalau bukan untuk mempertahankan hidup. Masjid menjadi lengang dari jamaah. Sementara, Iblis tetap duduk bersimpuh di depan mihrab. Ia begitu khusyuk. Seolah, Iblis sedang bertaqorrub kepada Tuhan. Dalam keheningan, isak tangis Iblis terdengar samar. Sesekali, Iblis menyeka air matanya yang ber-urai.
Tak lama kemudian, Kiai datang. Iblis tak menghiraukan kedatangan Kiai. Sesaat, ia memperhatikan Iblis itu. Tetapi kemudian, Kiai mengalihkan pandangannya ke hadapan sajadah, dan melakukan sholat sunnah.
Usai sholat, Kiai kembali memperhatikan gerak-gerik Iblis, yang masih tetap khusyuk. Dan tidak berapa lama, Iblis mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya. Ia baru selesai melakukan ritual ke-agamaan. Matanya masih sembab. Karena sejak pagi tadi, Iblis itu menangis.
“Blis, Aku ini heran”, Kata Kiai setelah duduk di sebelah Iblis.
“Kenapa, Kiai?”
“Kau ini aneh. Kau kan mahluk yang diusir dari Sorga oleh Tuhan. Tetapi, hari ini, Kau menangis sejadi-jadinya di hadapan Tuhan”.
Mata Iblis berbinar. Ia merasa berhasil menarik perhatian Kiai.
“Saya hanya berusaha, Kiai. Siapa tahu, dengan tangisan ini, saya dan kawan-kawan bisa mendapat pengampunan”.
“Tetapi, bagaimana bisa Kau menangis, sementara, selama ini Kau sudah menanam kebencian terhadap Tuhan?”
“Ah, Kiai bisa saja. Tangisan ini kan konsekuensi dari pangakuan dosa saya”.
Kiai tercenung sesaat.
“Tapi, Blis. Selama ini, saya tidak pernah bisa menangis dalam beribadah?”
“Ya, mungkin, anda belum khsusyuk”.
Kiai tersentak.
Selama ini, orang desa selalu meng-elu-elukan beribadahnya Kiai. Tetapi, hari itu, Kiai dikatakan oleh Iblis, Kiai tidak khusyuk beribadah. Ini pukulan berat bagi Kiai. Tetapi, sekalipun dadanya sesak, Kiai tetap mencoba bijak.
“Kalau boleh tahu, kenapa kau bisa menangis?”, Kata Kiai mengatur emosi.
“Ya, karena saya pernah melakukan dosa”, Jawab Iblis enteng.
“Dosa yang bagaimana?”
“Dosa apa saja. Bisa membunuh, minum-minuman keras, atau juga berzina”.
Kiai kembali tersentak.
Sebab, seumur hidup-nya, Kiai ini belum pernah melakukan dosa yang disebut Iblis.
“Apakah, kalau saya belum pernah melakukan dosa yang kau sebut tadi, kemudian, saya tidak bisa menangis setiap sehabis sholat?”
“Wah, ya jelas. Kalau sudah melakukan dosa, kan ada penyesalan. Nah, baru kemudian, Kiai bisa menangis pada saat beribadah atau setiap sehabis sholat”, Kata Iblis mulai membuat jebakan.
“Tapi, saya tidak berani berzina. Itu larangan Tuhan. Itu dosa besar?”
“Membunuh!”, Iblis memberi alternatif.
“Wah, apalagi membunuh! Saya ini penakut!”
“Ya, kalau begitu, minum-minuman keras saja. Ini yang paling ringan”.
Kiai tercenung lagi.
“Bagaimana? kalau Kiai setuju, nanti malam, saya akan jemput Kiai. Saya akan tunjukkan bagaimana, Kiai harus mulai melakukan dosa, agar nanti, kalau Kiai sholat, Kiai bisa menangis seperti saya”.
**
Waktu Isyak berlalu. Iblis dan Kiai keluar dari Masjid. Orang-orang sekitar hanya menatap heran, ketika ada warga baru yang sudah demikian akrab dengan Kiai mereka. Tapi, tak seorang pun yang berani melarang. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Sementara, Iblis sudah membawa Kiai menembus malam.
Pada sebuah Kedai, agak jauh dari perdusunan, tempat Kiai tinggal. Banyak Laki-laki dan perempuan berkumpul di situ. Kata-kata kotor, dan suara manja perempuan kampung yang siap melayani para lelaki, makin jelas terdengar. Bermacam botol minuman keras tersedia di Kedai itu.
“Bagaimana Kiai?”
“Aduh, gila Kau, Blis!”
“Mau minum apa?”, Tanya Iblis ketika keduanya sudah duduk.
“E…e….”
“Tidak perlu gugup Kiai. Nanti juga terbiasa!”
Dua buah botol dipesan. Iblis menatap Kiai. Kiai tampak ragu. Sementara, Iblis sudah menuangkan minuman ke dalam gelas, yang ada di hadapan Kiai.
“Ayolah, Kiai. Setelah minum ini, saya yakin, Kiai bisa lebih khusyuk, dan bisa menangis, ketika nanti Kiai sholat”.
Sedikit demi sedikit, Kiai terkena rayuan Iblis. Tak berapa lama, Kiai sudah mabuk berat. Iblis beri kode pada salah satu perempuan. Salah satu perempuan, kemudian membawa Kiai ke satu rumah, tepat di belakang Kedai.
Langit gelap. Mata Kiai juga menjadi gelap. Sementara, desah napas Kiai dan perempuan itu menjadi satu gerakan erotis yang menegangkan. Keringat bercucuran. Detak jantung keduanya berdegup kencang. Petikan ayat, hadits dan mutiara hikmah, tak lagi mampu membentengi hasrat Kiai. Yang ada hanya napas yang memburu.
Sepertiga malam terakhir, Kiai terbangun. Di sebelahnya, ada perempuan tergolek tanpa busana. Kiai terkejut. Ia jadi blingsatan. Ia coba ucapkan kata Istighfar, tetapi, lidahnya kelu. Beberapa kali, Kiai mencoba sebut nama Tuhan. Tapi ia gagal. Ada ketakutan yang tiba-tiba menyusup. Kiai tak sempat lagi, mengingat rentetan kejadian, yang telah membawanya ke tempat itu.
Matanya menjadi gelap. Hatinya juga tersumbat. Sebuah pisau pemotong buah di atas meja ia hunjamkan ke perut perempuan itu. Seketika, jeritan dan lengkingan kesakitan perempuan itu membangunkan warga sekitar. Warga sudah berbondong-bondong. Menggedor dan berkerumun mengitari tempat Kiai dan perempuan itu tidur.
Pagi tiba. Kiai sudah berada di tiang gantungan. Sementara, dari kejauhan, Iblis tertawa lebar.
“Kurang ajar kau Iblis. Kau telah menipuku!” Teriak Kiai protes.
“Kiai, tak ada gunanya kau memprotes. Kau sudah masuk dalam jeratanku. Kau harus menjalani hukuman berat”.
“Coba Kau selamatkan aku dari tiang gantungan ini, Blis!”
Iblis tertawa. Kali ini lebih lebar.
“Kalau Kiai ingin selamat dari tiang gantungan itu, bersaksilah atas namaku. Lalu tundukkan muka pada ku. Itu sebagai pengakuan Kiai, bahwa Kiai telah mau dan rela menjadi hambaku!”
“Aku adalah hamba Tuhan! Aku bukan hambamu!”
“Tapi pada posisi seperti sekarang, yang dibutuhkan Kiai bukan Tuhan, tetapi aku, yang telah membawa Kiai ke tiang gantungan. Maka segeralah tundukkan muka dan bersaksilah atas namaku!”
Kiai terdiam. Kepalanya tertunduk.
Tetapi, iblis tetap Iblis. Ia tak pernah menyelamatkan Kiai dari tiang gantungan. Iblis lenyap. Kembali pada alam-nya. Ia berlari membawa kemenangan. Dan besok atau lusa, Iblis akan kembali membentangkan sajadah**

lpm ukhuwah-iain rf-Palembang,
30 November 2001


T U M O R

Cerpen Imron Supriyadi

Tumor ganas yang kini menjalar di kepala saya, memaksa saya harus tetap terbaring. Lima tahun kuarang satu minggu, penyakit yang konon telah banyak menelan korban itu terasa maikin menyayat sel – sel otak di kepala saya. Ia seakan mengiris – ngiris kepala saya sedikit demi sedikit. Ada berjuta mahluk mengerokan yang kini menancapkan taring – taringnya, unutk kemudian menguras daya tahan tubuh saya. Tak jarang saya terpaksa menjerit menahan sakit, sembari memegangi kepal saya yang kian hari makin membesar. Saat saya merintih dan mengaduh, mahluk – mahluk kecil yang tak pernah saya kenal sebelumnya itu justru makin mengaduk – ngaduk luka menganga yang ada di kepala saya. Ketiak saya terlelap, sebentar kemudian, jutaan mahluk aneh itu membuat bara api dikepala saya, lantas bersorak – sorak, membuat pesta besar, menunggu jeritan saya yang sekian kalinya. Dengan beragam cara mereka terus mengusik ketenangan saya. Seperti ada segumpal dendam yang tersirat dari sorot jutaan mahluk itu. Setiap kali mata say terpenjam, setiap kali itu pula mereka menancapkan ketajaman kuku, yang sengaja dipersiapkan untuk mengoyak jaringan otak di kepala saya.

Sesekali, sipembawa virus tumor di kepala saya itu menendang, menggigit, mencabik – cabik dan melakukan apa saja yang dapat menambah rasa sakit yang tak kunjung reda. Hampir tak diberinya kesempatan saya untuk tenang, atau beristirahat barang sebntar. Ketika kebencian saya samapi diubun – ubun melihat tingkah dan ulah mereka, justru membangkitkan semangat mereka untuk terus - menerus memacu kerjanya dalam penyiksaan di setiap urat di kepala. Tak jenuh - jenuhnya mereka senantiasa melobangi, memperlebar areal penyiksaan yang sebelumnya sudah terluka. Tak ada daya lagi yang tersisa di tubuh saya ketika mereka mengisap dan meneguk darah saya, lalu mengubahnya menjadi nanah yang menjijikkan.
Dari gumpalan nanah yang sedikit demi sedikit berrubah menjadi bulatan - bulatan kecil itu, secara perlahan - lahan mengeluarkan ratusan, bahkan jutaan akar yang kemudian menyebar disetiap sudut kepala saya. Akibatnya, besok, lusa dan seterusnya kepala saya mengalami pembengkakan. Kali itu saya benar - benar merasakan tengah menjadi orang yang besar kepala, sehingga tak kuasa lagi saya bangkit dari pembaringan, atau tak mampu turun saat saya sudah diatas kursi dan menyandarkan kepala di dinding kamar.
Malam terpejam. Rembulanpun telah enggan tersenyum menerangi atap dan sekitar rumah saya. Ia seperti tengah membuat kegelapan sendiri di kawasan kekuasaannya. Tapi di ujung gang seperti sinar dewi malam itu masih rela menerangi beberapa bocah dusun yang asyik bermain go back to door. Ternyata hanya kepada saya sinar itu enggan bersahabat. Sesaat, saya mencoba meraihnya kembali, tapi cepat - cepat tumor ganas itu mencegahnya, agar saya terbiar dalam kegelapan panjang.
"Tumor!" Saya mulai protes." Kenapa kau terus - menerus menindasku, menyiksaku dengan taring - taringmu!? Apa salahku sehingga kaubegitu kejam terhadapku!?
" Apa yang kau rasakan saat ini, belum seberapa jika dibandingkan penderitaan rakyat kecil di pinggir perdusunan yang harus menanggung beban hidup akibat kekotoran pikiranmu, selama kau menjadi lurah di sini!" Satu per satu gumpalan tumor itu menjelaskan alasan mereka, mengapa mereka tetap suntuk bersemayam di kepala saya.
" Kalau memang aku kotor! Aku tidak amanah dalam mengemban kepercayaan rakyat, lantas apa kesalahanku!?.
" Dengar mantan lurah yang kini terbaring! Melihat kesalahan sendiri itu memang jauh lebih sulit dari pada melihat kesalahan orang lain. Yang terpikir dalam otakmu selama ini, bahwa kaulah yang selalu benar, selalu pintar, selalu berkuasa, sehingga dengan kekotoran pikiranmu itu, rakyat kecil tidak selalu salah, rakyat kecil yang buta huruf , rakyat kecil yang hanya tahu keperluan makan hari ini, rakyat kecil yang terlalu banyak menelan kepahitan hidup, rakyat kecil yang selalu di hinggapi kekhawatiran dan ketakutan, hanya kau jadikan simbol pemerataan. Hanya kau jadikan tumbal kepintaranmu, lantas kau sulap mereka menjadi bih di lautan, hingga mereka makin kesulitan untuk menentukan masa depan, kebingungan untuk bersikap, ketakutan untuk bersuara, lalu hanya menjerit dalam kepasrahan, menunggu datangnya pagi tiba".
Begitu banyak tumor itu mengingatkan kelalaian saya selama ini.
Meski rasa nyeri di kepala saya belum reda, saya mencoba untuk mengingat masa lalu yang tiba - tiba tenggelam begitu saja. Kruek! Kruek! Gerombolan tumor itu beraksi lagi. Saya menggeliat kesakitan. Tapi itu tak menghentikan aktivitas mereka.
" Jangan harap aku menerima kebisuan dan lamunanmu setelah kau mendengar penjelasan tentang kekotran pikiranmu". Salah satu dari tumor itukembali bersuara.
" Baik! Aku tidak akan hanya membisu dan melamun." Saya menurut keinginan mereka. " Tapi maaf, aku masih bingung untuk mengembalikan akal sehatku, sehingga aku masih sulit memahami tentang ucapanmu itu". Lantas apa maumu?" Tumor itu seakan memberi peluang saya untuk mengajukan permohonan. Saya memang harus menipu mahluk itu agar gerombolan tumor itu segera enyah dari kepala saya, bisik hati saya.
Begini, aku minta, untuk beberapa saat tolong kau dan teman - temanmu itu pergi dari saluran darah di kepalaku. Dengan begitu, mungkin akan memudahkanku untuk emikirkan dan menghayati apa yang telah kau katakan. Sebab, kalau kau dan teman - temanmu masih bersemayam diotakku, aku akan menemui kesulitan untuk menyadari kekotoran pikiranku itu, kata saya menyusun permainan dengan para tumor itu, dengan harapan, melalui akal bulus itu, saya akan segera terbebas adri cengkeraman keganasan tumor.
" Jangan kau anggap aku dan teman - teman itu mahluk yang bodoh. Meskipun anggotaku hanya terdiri dari nyawa yang kecil, tapi jumlah kami melebihi jumlah manusia di alam ini. Jangan kau anggap bahwa mahluk kecil itu selamanya akan kecil. Kau harus ingat, munculnya kebesaran itu juga berangkat dari adanya yang kecil. Dulu kepalamu kecil, tapi karena jumlah kami banyak, akhirnya kami berhasil memperbesar dan membuat bengkak seluruh bagian kepalamu. Oleh sebab itu jangan harap kami yang jutaan ini akan termakan tipu dayamu. Sufah terlampau banyak aku dan teman - teman mengetahui sikap manusia sepertimu ketika tertimpa penderitaan seperti sekarang. Hanya sesaat mereka teringat dengan kelalaiannya. Setelah mahluk seperti kami meninggalkan tubuh manusia, maka saat itu pula kau dan sebangsanya itu kembali pada kealpaan yang sering mengorbankan orang banyak demi kemakmuran sepihak".
Ternyata, saya harus mengaku kalah malam itu. Meski hanya mahluk kecil, tapi memang tidak salah jika mulai hari ini dan seterusnya saya mau dan menerima ucapan dan kritik mereka terhadap ketamakan, kerakusan dan perbuatan buruk yang pernah saya lakukan. Tapi hingga saya terbaring di sini, saya masih belum ingat keburukan - keburukan apa yang telah banyak makan korban itu.
" Tumor!" Saya kembali membuka pembicaraan." Setelah aku mendengar ucapanmu , kini aku sadar bahwa setiap kita, mahluk yang melata di alam ini punya hak yang sama terhadap kenikmatanNya. Tapi ada satu hal, kau harus buktikan keburukan yang bagaimana sehingga dengan keras kau menuduhku telah banyak mengorbankan rakyat kecil yang semestinya kuayomi itu?!"
" Sulit aku sebutkan satu per satu,'' ucap salah satu wakil tumor sembari terus mengerogoti syaraf di kepala saya. " Mungkin dalam satu minggu, kelalaian manusia itu belum habis aku ceritakan. Apalagi masa pengabdianmu sampai berdarsawarsa, sehingga masyarakat yang kau pimpin dulu kini sudah beralih generasi baru yang belum banyak tahu tentang seluk beluk desa yang pernah kau pimpin. Kalupun mereka tahu , paling - paling hanya dapat menggangguk, menggeleng, lantas pergi membawa tanda tanya besar yang masih menunggu jawaban. Mereka juga tetap akan diselimuti dengan ketakutan seperti ketakuanmu ketika kau berselingkuh dengan Winarsih, sekretarismu, yang kemudian kau harus membayar seseorang untuk segera mengawinnya dan meninggalkan desa yang keu pimpin, demi menjaga reputasimu sebagai lurah".
Dua kosong untuk kemenangan tumor dan gerombolannya. Hati saya semakin terisak dalam kepiluan saat para tumor itu membongkar aib yang pernah saya lakukan dulu. Tuhan, seberat inikah siksa yang mesti saya terima? Hingga kau mesti meneurunkan penyakit tumor di otakku? Masih ada harapankah saya untuk hidup, lalu kembali pada jalan-Mu? Perbuatan baik apa dan bagaimana yang dapat menebus dosa - dosa yang telah lalu?.
Hanya angin malam yang kemudian mengabarkan penderitaan saya itu kepada seluruh warga. Sementara tumor ganas yang berselubung di kepala saya makin menguras daya tahan hidup saya. Tak ada lagi protes yang dapat saya lakukan, baik, terhadap tumor atau pada siapapun yang telah menjerumuskan saya, hingga saya harsu menerima penyakit menakutkan itu. Terbersit sebuah penyesalan yang teramat sangat. Tapi semuanya sudah terlambat.
Sampai sudah nafas saya di tenggorokan. Alunan surat Yasin pun tak lagi saya dengar. Semuanya jadi gelap. Sangat gelap, hanya tanah dan kain kafan yang menyertai saya dalam kegelapan itu. Na'udzubillahi min Dzalik!.

Sriwijya Post, Minggu 16 Agustus 1998.

Surat Untuk Saeri

Cerpen Imron Supriyadi

Sore selepas ashar, saya masih duduk di bangku panjang, di depan rumah kontrakan saya, dimana dulu saya dan Saeri, teman akrab saya bidup bersama, senasib sepenanggungan. Namun karena roda waktu yang demikian cepat, tak terasa bahwa sebenarnya teman karib saya itu sudah empat tahun meninggalkan saya disini. Mungkin karena keterbatasan daya penglihatan saya, sehingga jarak pandang saya dan Saeri harus terhalang oleh puluhan perkampungan, ratusan tembok tinggi, jutaan rerumputan, atau mungkin terlalu panjangnya kelokan jalan antara lahat dan Kotabumi. Saya tidak tahu persisnya, tiba – tiba Saeri sudah menjadi seorang Bapak. Ya, bapak yang sudah seharusnya menanggung amanat untuk tidak merelakan anaknya terjerumus kedalam jurang kebiadaban zaman. Bagaimana lucu dan mungilnya buah hati Saeri , sampai saya kembali terduduk di atas bangku panjang ini. seperti ketika kami masih bersama, semuanya hanya terlintas dalam bayang. Tak dapat saya gambarkan , jika nanti saya juga mendapat titipan Tuhan yang sama; anak.
Sampai adzan Mahgrib menggema, kerinduan untuk kembali bercengkeramah dengan Saeri masih bergelayut menembusi setiap batin saya, yang kian hari kian ditempa beragam bentuk kenyataan. Mungkin saatnya saya harus mengobati rindu ini, meski hanya mengarungi lautan tinta, bersama desau angin yang mudah – mudahan dapat menyampaikan salam saya kepada Saeri dan keluarganya di Kotabumi.
Saeri , satu kata tertulis diatas kertas folio mengawali surat itu, Entah apa yang harus saya katakan kepada Tuhan, jika nanti tiba – tiba Tuhan bertanya ; bentuk musibah apalagi yang masih kuat kau terima? Ataukah daerah mana lagi yang kuberi pelajaran dengan kerusuhan.
Sungguh ! Ri, mungkin saya gelagapan untuk menjawab jika nanti pertanyaan itu sampai kepada saya. Sebab kenyataan pahit dari perjalanan hidup saya sudah cukup menyayat. Bahkan, jika berwujud pisau, sudah merobek jantung saya, mengobrak abrik usus dan lambung saya. Tapi, Ri, setiap malam saya terus bertafakur bertaqrrub kepada-Nya, meminta, agar kenyataan - kenyataan pahit segera usai. Dalam setiap kesempatan itu pula, saya selalu memohon, agar jangan dulu Tuhan mencabut nafas saya. Sebab, saya sadar, Ri, mungkin segala sesuatu yang telah atau akan menimpa saya, lebih merupakan teguran dari pada cobaan buat saya. Alangkah sombongnya saya, jika kenyataan pahit itu sebagai cobaan. Toh, sudah pasti belum mampu membayar hutang saya terhadap jasa – jasa Tuhan. Ini bukan pesimis, Ri! Tapi sebuah kesadaran dari batin saya yang paling dalam, bahwa saya telah banyak mempermainkan Tuhan. Kenapa tidak? Hari ini saya minta pengampunan dosa, tapi besok, lusa saya kembali membuat dosa baru, yang kadang - kadang nilai dosanya lebih besar ketimbang sebelumnya. Tapi, Ri, bagaimanpun jauh dan lamanya kita berpisah, saya masih ingat dengan keyakinan terhadap ampunan Tuhan , seperti yang pernah kamu katakan kepada saya empat tahun silam. Menjelang tidur, saya sering mengutip ceramah yang pernah kamu sampaikan di masjid Wathoiniyah Telatang Lahat : Hidup harus optimis ! jangan takut gagal, jika kegagalan itu justru akan lebih mendewasakan dalam menyikapi hidup.
Beragam kata yang pernah teruntai dalam kultum itu, sedikit banyak telah memberikan kekuatan tersendiri buat saya. Buat kejiwaan saya. Nurani saya. Atau bahkan sikap hidup saya, ketika saya harus kehilangan semuanya. Mungkin ratusan, bahkan ribuan turut menyaksikan peristiwa duka yang menimpa saya, ketika oktober lalu rumah kontrakan saya habis terbakar. Hanya bangku panjang yang tengah saya duduki ini saya sempat saya selamatkan. Paling tidak, bangku ini menjadi saksi bahwa saya dulu pernah mempunyai teman karib yang bernama Saeri, yang dengan papan – papan bekas telah sanggup menarik orang sekitar kontrakan untuk beberapa saat duduk, sembari menikmati gandum goreng dirumah kita. Kalaupun saya harus mengatakan rumah kontrakan ini juga rumah kita bersama, itu tidak lain karena saya masih ingat bahwa kamu paling suka mencari rumah kontrakan yang murah, sama seperti yang kutempati sekarang.
Ri, satu hal yang makin saya merasa terhempas, adalah munculnya berbagai kebohongan, maraknya ketidak jelasan hidup didalam negeri ini, atau hilanganya seuntai bunga yang pernah saya siram sepanjang hari, bahkan sepanjang tahun. Terbakarnya rumah kontrakan, ternyata melulu lantakkan semua kejujuran, semua cita dan cinta yang pernah bersemai. Semuanya hilang bersama pengapnya negeri, bersama banyaknya slogan dan verbalitas yang mungkin terus memanjang.
Belum sempat saya melanjutkan goresan itu, seseorang mengetuk pintu. Saya kenal betul dengan desah suara itu, Santi sepupu pemilik kontrakan.
“ Kak Im, minta uang listrik dan air”, Santi menagih pajak rutin PLN dan PAM. Sudah saya duga sebelumnya , Santi tidak ada kepentingan lain untuk datang kecuali sekedar menagih iuran bulanan itu.
“ Besok pagi ,Dik. Akan saya antar kerumah”, saya menjawab sekenanya, sembari berpikir akan kemana mencari uang pinjaman, sebatas melunasi kewajiban saya sebagai penghuni kontrakan. Sengaja pintu depan tidak saya tutup rapat, dengan harapan ada saja teman yang mampir seperti biasanya. Kesempatan itu, mudah - mudahan dapat sedikit memperoleh pinjaman atau bantuan sekedarnya.
Denting gitar para remaja tetangga rumah kontrakan tak begitu saya hiraukan. Toh mereka juga tidak tahu jika ketika itu saya memotar otak untuk mencari jalan keluar untuk memenuhi kewajiban pada tuan rumah. Prek! Masa bodoh ! paling – paling selepas isak akan ditegur Pak Er Te. Saya kembali ke kamar, menjumpai kembali pena dan kertas yang sempat saya tinggal.
….Ri, saya kembali menulis. Yang sampai sekarang saya tidak mengerti ada maksud apa Tuhan menyampaikan pesan pada saya harus dengan beragam kegetiran yang berlarut – larut. Saya tahu, Ri, kalau pengalaman batin seperti saya alami ini tak pernah didapat dibangku kuliah perguruan tinggi manapun. Bahkan jika saya diperbolehkan mengadakan tawar – menawar dengan Tuhan sebelum saya lahir, akan saya katakan ; Tuhan! Mungkin dulu lebih baik kau jadikan saya ini menjadi sebuah bukit atau tanah saja, sehingga saya tidak akan merasakan kepahitan hidup seperti manusia! Atau kau jadikan saya ini sebagai angin, agar saya banyak berjasa pada setiap bentuk kehidupan!.
Ini mustahil, Ri! Mustahil! Toh Tuhan sudah bicara lain terhadap perputaran sejarah hidup saya. Meskipun saya tahu persis, bahwa Tuhan Maha Demokratis. Maha Pemberi kebebasan terhadap setiap hamba. Tapi bagaimanapun, saya memang harus kembali menelanjangi diri, bahwa sebenarnya sayalah yang harus terus - menerus mengenali jalan saya, lantas berbenah diri, untk kemudian menerima ketentuan Tuhan, setelah sebelumnya saya harus menempuh jalan, sebagai tanda ikhtiar seorang mahluk lemah semacam saya.
Ri, kalaupun saya harus menuangkan segala bentuk kenyataan ini pada kamu, bukan berarti saya bermaksud mengeluh dengan kebijakan Tuhan terhadap nasib saya. Tapi melalui surat yang saya kirim ini, saya mencoba kembali untuk membaca diri saya , bercermin pada muara batin, tempat dimana semua keputusan akan saya lakukan, tanpa harus merugikan saya, juga para tetangga saya, selain itu, saya tidak bermaksud mengganggu aktivitas kamu, yang sudah pasti disibukkan oleh berbagai watak dan sifat para murid sekolah. Paling tidak, saya hanya ingin kamu mengerti, bahwa saya tidak ingin menambah berbagai kepedihan di tengah zaman yang sudah terkoyak oleh bermacam kerusuhan atau fluktuasi ekonomi yang belum jelas ujungnya. Sungguh! Saya hanya berkeinginan berbagi rasa dan mengabarkan, sebelum negeri ini pengap dan basah oleh ratusan tetesan darah di berbagai daerah, jauh sebelumnya, saya teman karib yang pernah hidup bersama kamu, sudah lebih dulu merasakan kepenatan hidup, memeras darah untuk sebuah kejujuran, meskipun banyak orang menilai bahwa kenyataan itu terlalu pribadi. Itu bukan urusan saya, Ri. Terserah bagaimana orang akan menilai. Namun yang pasti, saya telah merasakan runtutan kebohongan, ketidak mampuan manusia untuk lebih bersikap rendah hati ditengah keangkuhan diri. Dan korbannya adalah saya, atau bahkan orang orang lain yang sebelumnya telah sengaja dikorbankan untuk sebuah kebohongan.
Terakhir, saya sampaikan bahwa saya sama sekali bukan sedang menyalahkan satu pihak, atau mengkambing hitamkan seseorang yang sidah hitam, atau punya keinginan mencela. Toh saya dan kamu punya cermin kecil di bilik jantung. Yaitu nurani. Hanya itulah yang mudah – mudahan dapat mengantarkan saya atau siapapun orangnya pada kejernihan batin. Dari kejernihan inilah, Ri, saya kemudian menemukan kembali satu bunga yang bersemi dari sebuah muara. Muara itu adalah air jernih, yang mata airnya dari alam pedesaan, lalu mengalirkan sidar kejujuran, ketulusan dan ketidak engganan untuk selalu mengalir pada sebuah tangan tergadah. (*)

Telatang lahat,2 Januari 1999 Sumek, Jumat, 26 maret 1999

BANGKAI

Cerpen Imron Supriyadi

Aku masih tertunduk di depan cermin, menekuri tentang diri yang telah beralih rupa. Wajahku bukan lagi simbol dari sebuah kewibawaan, seperti ketika aku masih bertengger sebagai Presiden di pabrik terbesar. Saat itu, kekuasaanku sampai keluar lintas batas darat Sabang sampai Merauke. Senyum khas yang kumiliki, kini bukan lagi sebagai keramahan, yang setiap orang berjumpa, di situlah mereka harus sedikit menundukkan badan sebagai penghormatan terhadapku. Tuan Firjaw, begitu banyak orang memanggilku. Keluasan wilayah kekuasaanku, kini justru membenamkan aku ke dalam air comberan.
Petuahku yang dalam kurun waktu puluhan tahun sebagai ucapan ‘dewa kebenaran “, kini tak lagi mampu menjadi pengharum setiap perkampungan dunia. Malah sebaliknya, semua ucapanku, sudah menjadi barang busuk, yang setiap orang akan segera menutupi telinga dan hidung, agar tak mendengar dan mencium hawa mulut atau cipratan ludah yang keluar dari lipatan bibirku. Seluruh penghuni perdusunan, sepertinya memang benar – benar muntah setelah sebelumnya perutnya mual dalam beberapa menit ketika wajahku dipampang oleh wartawan di surat kabar dan televisi.
Sore kemarin, kucoba untuk berhias diri. Kubeli kosmetik ternama dengan harga miliaran rupiah hasil tunjanganku. Dari parfum kelas ratusan ribu sampai seharga se-unting daun kemangi yang harganya turut melonjak, ikut menjadi ramuan. Aku ingin kembali menjadi Tuan Firjaw yang dulu menjadi pewangi bagi setiap penghuni, yang dulu selalu di-elu-elukan jasa dan pengabdianku.
Sembari melumuri dan memandikan diri dengan perasaan daun kemangi, dalam batin, aku hanya berucap;
“Tuhan, seandainya aku tahu, kekuasaanku akan membawa petaka dalam perjalanan hidupku, aku akan memilih kemiskinan sebagai tiang dalam rumahku. Kalau saja aku mengetahui semua ini akan menimpaku, aku akan menjadi tanah atau gunung, yang hanya akan patuh dan tunduk dengan semua perintah dan kekuasaan-Mu”
Aku bersimpuh, menatap kembali cermin kecil yang berada dibalik nuraniku. Sesaat aku tersadar, bahwa ruang kecil, tempat berkumpulnya nurani itu telah lama tidak kusinggahi. Padahal, dari sanalah seharusnya semua kebijakan itu diputuskan. Semestinya, memang tempat itu yang menjadi sumber atau mata air dari semua kebijaksanaanku. Tapi begitu lama aku meninggalkan ruang kecil itu.
“Oh, hati nurani, kini memang aku harus kembali menyusuri dari awal untuk memasuki wilayah itu. Meskipun aku, sekujur tubuhku, keringatku, darahku telah berlumur air air got yang berbau”.
Sekali lagi aku bersimpuh. Aku tak mampu lagi menterjemahkan air mata yang tiba – tiba masih mau keluar dari muara kecil di mukaku yang makin keriput. Sulit kupilah, mana air mata penyesalan, mana air mata kepedihan dan air mata taubat. Semuanya berkumpul menjadi satu genangan, yang setiap penghuni negeri ini tak mau lagi kena cipratannya, meskipun para pengikutku masih ada sebagian yang menunggu kehadiranku kembali, meski aku harus menjelma dan menyulusup dalam tubuh lain.
Beberapa bulan kucoba untuk tetap bertahan diatas penghinaan dan cercaan massa yang tak kunjung pudar. Kukumpulkan kembali gumpalan daging yang sempat tercecer. Ada yang di permukaan air comberan. Ada yang menjadi satu dengan tumpukan sampah. Dengan susah payah kerenggut seluruh kekuatanku yang masih tersisa. Daging dan serat-serat tubuhku yang berserakan, kembali kurangkai. Lalu, kusewa darah para preman untuk membantu dalam menebar keharuman, sehingga kebusukan itu akan segera beralih pada muara yang lain.





“Brooooot!” Kuberaki Banyuwangi dengan darah dukun santet. Mayat terkapar. Ratusan dukun santet menebar kebusukan baru. Anyir darah diatas aspal Banyuwangi tercium ke setiap sudut perdusunan. Aku terkekeh girang. Tanpa sadar, sebenarnya aku telah kembali meninggalkan kemuliaan muara nurani. Sebuah pertikaian baru segera bermula. Para penghuni negeri memendam beragam kebencian, meskipun mereka juga bingung tentang siapa yang mesti dibenci. Permainan kembali mencuat, terangkat di surat kabar dan kamera elektronik, menyebar keseluruh pelosok negeri.
Aku makin tertawa lebar saat pengikutku berhasil mengumpulkan puluhan orang gila yang sudah berlumur darah kambing hitam. Sedikit banyak, bau busukku lambat laun mulai reda, berpindah pada bau anyir darah dari Banyuwangi. Percekcokan antar bagian mulai terlihat. Sebuah pemandangan apik jika ini terus berkelanjutan, harapku dilubuk hati kelam.
Pergolakan darah dukun santet makin merambah kebeberapa kota. Sehingga aku punya waktu istirahat untuk memoles diri dengan cairan perasaan air kemangi, atau istirahat mandi pagi dengan parfum yang kubeli dengan harga miliaran itu. Sembari menyaksikan peperangan antar bagian, di setiap canel teve, kuundang seorang mantan kepala sekolah untuk segera menyusun administrasi baru sebagai kelanjutan dari permainan Banyuwangi.
Sore kian beranjak malam. Orang – orang sekitar terus sibuk dengan persoalannya masing – masing, sambil membersihkan puing – puing kerusuhan yang beberapa waktu lalu terjadi. Perlahan, bau busuk nafasku sedikit reda. Kali itu, rasanya ingin kuucapkan terima kasih pada sekumpulan orang gila yang telah menutupi bau busukku dengan darah kambing hitam. Mereka cukup berjasa dalam permainan ini. Tapi sayang, aku tak lagi berwenang memberi penghargaan putra terbaik bangsa dengan piagam bintang maha putera. Biarlah, toh mereka juga orang gila. Bagaimanapun piagam penghargaan juga tak akan menyembuhkan kegilaan mereka. Justru akan berbahaya jika mereka sadar bahwa mereka aku pecundangi. Jika ini terjadi sangat mungkin bau keringatku akan semakin busuk dari bulan sebelumnya.
Luka menganga telah merobek sudut negeri. Bau anyir darah, sepertinya tak mungkin aku akhiri sampai disini. Semuanya harus berlanjut sampai bau air comberan di tubuhku bisa kembali bau harum, meskipun hanya sebatas harumnya ketek WTS kelas teri.
Dari atap rumahku, kupantau kejadian – kejadian disetiap ujung gang, perkampungan, sampai di depan rumahku, yang ternyata masih terkepung oleh penjaga setia, meskipun aku tak tahu persisnya apakah mereka juga merasakan bau busuk keringatku atau tidak.
“Tuan Firjaw !”, mantan kepala sekolah itu tiba – tiba muncul tepat berada di bawah saat aku bertengger di atas rumah.
“Tuan jangan dulu memunculkan diri. Kondisi seperti sekarang belum cukup aman untuk memunculkan strategi baru. Turunlah! Istirahatlah kembali!.
“Istirahat itu urusan gampang! Apa yang kau katakan tentang genangan darah di Banyuwangi beberapa waktu yang lalu?.
“Beres Tuan! Semua sudah saya sampaikan kepada para wartawan bahwa kejadian itu hanya kriminal biasa. Tenang saja, Tuan! Semuanya sudah berjalan sesuai dengan skenario!”.
“Lantas apa rencanamu sekarang?” Aku menagih janji pada mantan kepala sekolah itu, setelah aku turun dari atap rumah.
“Saya memiliki beberapa pasukan ninja. Dan mereka bisa kita berdayakan, untuk permainan baru”.
Aku tenang sesaat.
“Bagus! Ternyata idemu tetap cermelang meskipun kau hanya mantan kepala sekolah”, Kataku memuji ide jitu yang dilontarkan orang terdekatku itu.








Pasukan ninjapun bergentayangan. Mereka membuat permainan baru di tengah kecemasan para penghuni negeri terhadap kondisi yang belum tenang. Kabar teror, telepon gelap terhadap para kiai memulai operasi ninja. Sehingga hampir seluruh perkampungan dilanda ketidaktenangan yang berkepanjangan. Satu - persatu gerakan ninja menumpahkan anyir darah. Lagi, mayat terkapat tanpa identitas. Cras! Cras! Pedang menyambar, darah tercurah, keringat telah menjadi darah.
Aku makin lupa diri dengan permainan ini. Ini harus berkelanjutan! Sebab, permainan ini, akan memancing surat kabar, sehingga mereka akan tersumbat, tidak lagi mencium bau busuk darah dan keringatku lagi.
Satu menit baru saja aku menarik nafas lega. Sebuah guncangan kembali menggegerkan pagar di sekitar rumahku. Aku terkesiap. Aku bangkit, menyingkap horden jendela. Tak kuduga, sekelompok orang masih tetap mencium bau busuk darah dan keringatku. Aku jadi nanar. Keringat dingin mengucur. Ia membasahi setiap lekuk tubuhku. Sesekali kuusap. Lalu kusemprot dengan parfum sekujur tubuh. Tapi bau busuk tetap saja menyengat keluar rumah. Tak ada jalan lain, mereka pasti kembali membenamkan aku ke air comberan.
“Ah, ternyata, daging dan sekujur tubuhku memang benar – benar telah membusuk! Ucapku, sembari berlari menuju kamar kecil.
Mungkin di sini, aku akan lebih aman. Mudah – mudahan mereka akan kesulitan membedakan bau busuk keringatku dengan bau busuk tinja”, Kataku sambil melumuri badan dengan tinja – tinja yang tersisa. Kini, orang akan susah membedakan aku dengan warna dan bau tinja. (*)

Rumah Kontrakan di Jl. Letnan Yasin - Palembang, 25 Mei 1998
(Tiga hari setelah Jatuhnya Rezim Soeharto 21 Mei 1998)










Surat Untuk Ayah

Cerpen Imron Supriyadi

Malam kian kelam. Aku terbaring diatas balai bambu, menerawang menatapi diri yang makin termakan usia. Tiba – tiba kamar terasa sumpek, panas, dan beraroma kurang sedap. Desiran angin menembus kamarku hanya membawa kabar yang sulit diterka. Aku menangis ketika kamarku dicabik,cubit atau digilas oleh realita. Kucoba menagabarkan pada orang sekitar, tetapi mereka hanya menggelang, meninggalakan tapak tak berbekas. Kadang mereka menatapku sinis, lalu pergi tanpa ucapan maaf. Mungkin, saatnya aku harus mengabarkan ini pada ayah, pikirku. Aku bangkit, dan merapikan kamar.
“Ayah,’’ tulisku mengawali surat itu. Meski kau akan menangis setelah membaca surat ini, tapi segeralah kau usap air mata itu. Jangan kau biarkan air mata berurai dipipimu. Aku malu jika ayah hanya bisa menangis tanpa suara, dan berbisik tanpa kata. Ayah, anakmu kini sedang dalam keprihatinan, bertarung dengan masa depan, berlindung di bawah buramnya cahaya malam.
Cahaya lampu 100 watt yang ayah belikan dulu, sepertinya tak mampu memancarkan suasana baru dalam kamarku. Bahkan Ayah, kamarku kini pengap disusupi oleh cerobong asap pabri, udara kendaraan bermotor atau angin penderitaan, yang datangnya dari pinggir trotoar.
Aku berhenti menulis ketika ratih, istriku menerobos masuk kamar. Ia pun duduk dan menatapku dalam diam. Aku hanya melirik ketika ia memunguti dan mengumpulkan kertas – kertas yang berserakan dilantai kamar. Ratih yang ceria, kini bias karena keadaan. Sapa mesranya yang dulu menggiurkan setiap lelaki, kini hanya sebatas senyum hambar yang tak bermakna. Aku sendiri kadang sulit menerjemahkan, gerangan apa yang sedang dirasakannya.
“ Mas im”, Ratih membuka kebisuan. Aku hanya menoleh. Tubuh semampai itu kuamati dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kubiarkan saja ketika Ratih duduk merapat dan membaca surat yang belum sempat selesai kutulis.
“Sebaiknya, Mas Im tak menulis surat untuk Ayah. Keadaan kamar kontrakan kita yang makin dilalaikan tuan rumahnya, tak semestinya diketahui Ayah. Toh, surat – surat yang sudah terkirim, sampai tak ada yang dibalas. Mungkin, sekarang Ayah lebih sibuk dengan tugas adan aktivitasnya sendiri, ketimbang memikirkan kondisi kamar kita yang dibanjiri air mata ini,” katanya.
Aku tercenung mendengar ucapan Ratih. Namun batinku terus bergolak.” Ratih, tolong simpan kata – katamu”, ucapku coba memberi pengertian. Ratih kemudian memandangku tajam. Ia pun hanya diam saat aku melanjutkan pembicaraan.
“Aku tahu, kesibukan Ayah telah banyak menyita kepedulian terhadap kita. Namun, bergantinya struktur desa dan dengan jabatan kepala dusun dipegang Ayah, adalah peluang kita mengabarkan, bagaimana naisb kita dikamar ini kelak”, kataku optimis.
‘’Tapi, Mas,” sergah Ratih pelan.” Aku belum yakin benar jika surat ini akan mengubah sikap Ayah. Sebab, digantinya aparat desa, belum menjamin kemandirian Ayah untuk bersikap. Apalagi, kepergian kita ke kamar ini sudah di latar belakangi, dengan pertentangan dengan Ayah. Sulit rasanya…”
“Ratih,” potongku tiba – tiba. “ Kegetiran masa lalu membuat kita berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu hari ini. Tapi, masa lalu membuat kita bijak, meskipun kita kesulitan menerjemahkan kebijaksanaan itu sendiri. Sebenarnya Ayah bukan manusia yang tak pernah memikirkan nasib anaknya. Tapi, dia telah masuk lingkaran struktural, jadi apapun yang dikerjakannnya, tentu tidak lepas dari kepentingan itu,” kataku.
Batinku terus bergejolak. Suasana makin menghimpit. Dadaku tersengal sesak ketika tiba – tiba kepulan asap mengitari sekeliling kamar. Kucoba menghalaunya. Namun aku tersingkir kebawah meja. Hanya sobekan kertas dan pena yang sempat kepegang. Besok atau lusa, surat ini harus segera kukirim pada Ayah pikirku.
Aku hanya menurut saja, saat Ratih muncul dan memapahku ke pembaringan. Seberkas kekhawatiran tergambar diwajah Ratih. Isak tangis Ratih yang selama ini kurindukan tiba – tiba menyeruak ketelinga. Sebongkah kebahagiaan seketika menyusup dalam kalbuku. Ratih kini telah menyuarakan penderitaannya yang sekian lama terpendam.
“Ratih, aku tidak apa – apa,” ucapku menenangkan perasaannya. Dengan pandangan sedikit kabut, kutatap wajah Ratih yang lusuh. Namun hanya kepedihan yang tersemburat di sana. Dada kiriku terasa sesak, namun kucoba terus bertahan. Ratih memandangiku dengan kepedihan dalam, dan isak tangisnya menggema keluar ventilasi kamar, kesetiap telinga tetangga.
“Ratih, berhentilah kau menangis. Tak perlu mereka tah, kita sedang menderita di kamar ini. Kalaupun mereka mendengar, itu hanya menambah beban mereka. Sementara nasib mereka tidak berbeda dengan kita,” kataku meredam gejolak batin Ratih sore itu. Tangis Ratih pun reda.
Azan Magrib menggema, membangkitkanku dari pembaringan dan Ratih pun mengikuti. Aku melangkah, lalu menundukkan diri kehadapan Sang Khalik. Dalam penghambaanku malam itu, kutuangkan segala do’a untuk Ayah, pribadi, dan istriku.
“Ya Allah, semoga Ayah kami di kampung terkuak kejernihan pikirannya memandang seluruh isi kamar ini, demikian desa kami yang sedang dalam genggamannya, serta dalam manapat diri dia sendiri.”
“Ya Allah, anugerahkanlah kami khusnul khatimah kepada Ayah kami. Taburkanlah rezeki rohani kedalam ubun – ubunnya, sehingga peran yang diambilnya adalah peran yang sesungguhnya nyepuhi, bukan fungsi fighter.
Segala beban batin kutuangkan di atas sajadah malam ini, semoga hati Ayah untuk membalas surat – surat kami.*

Dimuat
di Harian Umum Sriwijaya Pos. Minggu 1997

Negeri Kelelawar

Cerpen Imron Supriyadi

Lepas Ashar, setiap kali aku duduk di serambi masjid, aku selalu menyaksikan puluhan, bahkan ratusan Kelelawar. Maklum, di depan masjid itu, ada sebatang pohon beringin yang cukup besar. Dan diatasnya, bergelantungan buah kecil-kecil, yang sepertinya memang disukai oleh Burung dan Kelelawar. Sehingga wajar saja, jika tiap sore menjelang, hampir semua kelelawar, burung, berkumpul, dan beterbangan, dari dahan ke dahan, dari ranting ke ranting. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk memetik rubuan buah pohon beringin, yang tampak ranum. Kalau saja, aku seekor kelelawar, mungkin aku juga akan ikut berebutan seperti mereka. Mereka datang berbondong-bondong, saling sikat , saling sikut, untuk mendapat buah incarannya.
Menjelang maghrib, jumlah kelelawar makin banyak. Sementara, puluhan burung, malah sebaliknya. Satu persatu, burung-burung yang sebelumnya ikut berebut buah, justeru mulai lenyap.
Besoknya, lepas dluhur, aku masih duduk di serambi masjid. Kali ini, aku tidak lagi menjumpai ratusan kelelawar. Tetapi, di bawah pohon, muncul puluhan binatang lain. Ada Kambing, Kancil, dan beberap binatang darat , binatang melata dan mamalia lainnya.
Sepertinya, tujuan mereka sama. Mereka datang untuk mengais sisa buah pohon beringin yang berserakan di bawah pohon. Sebenarnya, mereka punya keinginan untuk mendapat buah aslinya, dan bukan buah sisa. Tetapi, apa boleh buat, mereka tak punya sayap sebagaimana burung dan kelelawar. Dan mau tidak mau, mereka harus menerima sisa dan makan buah bekas gigitan kelelawar dan puluhan burung.
Untuk beberapa bulan, ratusan binatang darat ini, masih saja menerima, ketika mereka harus makan sisa dari kelelawar dan burung. Tetapi, lama-lama, mereka juga jenuh dan bosan, jika sepanjang hidupnya, harus makan sisa dari kelelawar dan burung. Mungkin bukan saja kambing, kancil, aku juga tidak mau jika harus makan bekas orang. Apalagi, kalau makan sisa kelelawar.
Ketidakpuasan ini, akhinrya dilaporkan ke raja hutan.
“Lapor Sang Raja”, Ujar Kancil di depan Singa.
“Ada apa Kancil?”
“Anu, Sing…E, …”.
“Kenapa kau gugup?”
“Ah, enggak kok. Saya hanya mau laporan. Sebenarnya, ini bukan kemauan saya, tetapi, kemauan semua binatang darat di hutan ini?’
“Maksudmu?”
“Yaaa, ini usulan dari binatang yang tidak bisa terbang macam kita”.
“Hmmm….apa keinginan kalian dan kawan-kawan?”
“Kita ini kan punya hak yang sama, Sing. Jadi, di hutan ini, siapapun juga, setiap binatang, juga memiliki wewenang yang sama untuk memilki keaslian, seperti buah phon beringin yang ada di depan masjid itu”.
“To the point saja, Cil, aku tak punya banyak waktu”.
“Apakah akan selamanya , binatang macam kita, hanya akan makan buah pohon beringin, sisa dari kelelawar dan burung?”.
“Lalu?”
“Ya, keinginan saya dan kawan-kawan sih, bagaimana kalau Singa si raja hutan, bisa memperjuangkan hak-hak kami, yang selama ini, hanya dapat makanan sisa. Ini kan diskriminatif. Sementara, kita sering bicara pemerataan dan persamaan hak”.
Sejenak, Singa garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Raja hutan ini, tampak mulai berpikir.

“Bagaimana Sing?” Sela Kancil tidak sabar.
“Cil, sebenarnya, aku sih mau-mau saja memperjuangkan
keinginan kawan-kawan. Tapi, semua ini mesti dirapatkan dulu dengan majelis hutan. Tidak bisa usulanmu ini, selesai dalam satu hari. Belum lagi, para pengawal kerajaan hutan ini, juga harus berkirim surat ke beberapa pejabat terkait, untuk diajak musyawarah tentang hal ini”.
“Ya, nggak apa-apa. Tapi jangan lama-lama”.
“Tapi semua ini perlu birokrasi, Cil”.
“Lha, birokrasi itu kan diciptakan untuk memudahkan, bukan untuk menyulitkan?”
“Ah, kau ini makin pintar saja, Cil?”
Kancil jadi kikuk.
“Tapi, Sing, kawan-kawan sudah tidak betah lagi, makan sisa-sisa kelelawar dan burung”.
Paginya, Singa menggelar rapat khusus. Rapat dipimpin oleh Harimau.
“Saudara-saudaraku, para binatang darat, melata dan mamalia, yang kami hormati”, Harimau membuka rapat.
“Dalam surat edaran yang kami kirim satu hari lalu, tentu saudara, sudah mengetahui, apa tujuan kita di sini berkumpul. Yaitu membahas usulan Kancil dan kawannya, agar binatang sebangsa kita, tidak selalu makan buah sisa dari kelelawar. Dan pagi ini, rapat saya buka. Dan silakan, saudara memberi masukan atas gagasan ini”.
“Mohon bicara pimpinan sidang”, Srigala membuka pembicaraan.
“Apa usulmu, Sri?”
“Saya bukan usul, tapi keberatan!”
Majelis sejenak diam. Mata para binatang tertuju pada Srigala.
“Bagi saya, usulan agar binatang sebangsa kita tidak lagi mendapat sisa dari kelawar, itu tuntutan yang tidak masuk akal. Kita ini kan tidak punya sayap. Lagi pula, saya juga tidak pernah doyan yang namanya buah pohon beringin, saya ini makan daging kerbau, daging banteng…”
“Interupsi pimpinan sidang!”, Kambing menyela pembicaraan.
“Interupsi diterima, silakan, mBing!”
“Pernyataan Srigala itu terlalu pribadi. Apa yang dikatakan itu, tidak lebih hanya menyangkut kepentingan individu, karena Srigala tidak pernah makan buah,! atau jangan-jangan, Srigala sudah melakukan konspirasi dengan para kelelawar dan burung…!”
“ Itu tuduhan yang mengada-ada!” Srigala Protes.
“Tenang..tenang…”, Pimpinan sidang menenangkan suasana rapat yang mulai tegang.
“Ada usulan lain?”
“Kalau saya begini”, Kucing hutan mencoba memberi gagasan. “Persoalan makan sisa dari kelelawar ini kan sudah lama. Kalau kita akan protes, kenapa kita tidak protes dengan Tuhan saja, kenapa kita diciptakan tanpa sayap”.
“Konret! Konret…”. Teriak binatang yang lain.
“Ya, maksud saya, kenapa kita tidak nyatakan perang saja, dengan bangsa burung dengan kelelawar. Siapa yang menang, nanti bisa menguasai pohon beringin, sekaligus bisa memiliki buahnya”.
“Mohon bicara pimpinan sidang!” Kancil angkat bicara. “Usulan Kucing hutan terlalu ekstrim. Kenapa kita tidak lebih dulu melakukan pendekatan kultural saja. Yang perlu dilakukan pendekatan ersuasif, bukan represif. Sebab, kalau kita menyatakan perang, ini sama artinya, kita akan saling bunuh, sesama kita. Yang jadi korban, mungkin bukan para pejabat di ruang sidang ini, tetapi, binatang kecil, yang mungkin mereka tidak bersalah. Saya tidak setuju! Ini sama saja kita melakukan pembinasaan hak masyarakat kelelawar dan burung. Sekali lagi, perang hanya dimililki oleh militer. Dan kita bukan militer!”

Perdebatan terus berlangsung seru. Ketegangan, adu argumen dan beragam kepentingan muncul dalam ruang sidang pansus. Tetapi, keputusan, akhirnya diambil dengan cara voting. Dan gagasan Kucing hutan, lebih mendominasi. Dengan sendirinya, keputusan akhir adalah melakukan perang dengan bangsa kelelawar dan burung.
“Payah, kucing hutan, terlalu banyak bergaul dengan para buaya, anak-anak singa dan anak harimau. Makanya dia usulannya ya represif”. Ujar Kancil menggerutu.
“Ya wajar kan, kucing hutan dengan singa, harimau, itu kan punya selera yang sama. Belum lagi, kucing hutan kan sering mencarikan daging buat singa, harimau dan buaya. Ya sudah tentu, dalam rapat tadi, bangsa kita yang kecil kalah. Saya tadi kan sudah bilang, sidang ini jangan diputuskan dengan voting. Kalau voting pasti kita kalah. Konspirasi mereka terlalu kuat”, Ujar kambing hutan yang juga kecewa.

Tapi apa boleh buat. Semua sudah menjadi keputusan sidang pansus. Mau tidak mau, semua binatang harus menerima. Sementara, semut, kadal, ulat, hanya ancang-ancang mencari tempat bersembuyi, kalau-kalau saja, perang benar-benar terjadi.
Di balik itu, ternyata, masyarakat kelelawar dan burung sudah dapat bocoran. Merekapun melakukan rapat singkat, mengatur strategi.
“Kenapa tidak kita tolak saja. Ini pasti akan banyak membawa korban”. Kata Burung Jalak keberatan dengan istilah perang.
“Ya tidak bisa. Ini sudah keputusan mereka. Kita harus hadapi”, Ujar Gagak seakan sudah siap berperang dengan binatang darat.

Mereka pun mengatur taktik sedemikian rupa. Dan mulai hari itu, mulai di data, semua binatang yang bakal masuk dalam pasukan perang. Kelompok binatang tebang, dipimpin oleh Burung Elang. Sementara, dari pihak binatang darat, melata dan mamalia dipimpin langsung oleh Harimau.

Pendaftaran dimulai. Di balik kesibukan panitia menerima pendaftaran. Pimpinan Kelelawar menyusup ke kawasan binatang darat.
“Saya kelelawar, ingin mendaftarkan diri, bergabung dengan kalian”, Ujar Kelelawar di hadaoan Harimau.
“Lho, ya tidak bisa. Kau kan masuk dalam binatang yang terbang”.
“Tapi, saya punya kesamaan dengan kalian. Saya ini kan beranak. Jadi sekalipun saya binatang terbang macam burung, tetapi, saya binatang mamalia juga. Sama seperti kalian”.
Harimau berpikir sejenak. Ia berbisik dengan panitia yang lain.
“Tapi bagaimana di kelompokmu? Apa tidak akan di protes?”
“Ah, itu kan urusan saya. Tenang saja, mereka tidak bakal tahu, kalau saya ikut bergabung di sini”.

Sementara, di kelompok bangsa burung, kelelawar, juga didaftar sebagai pasukan inti. Dan bangsa burung pun tidak protes. Sebab, kelelawar memang masuk dalam binatang yang terbang.

Tepat hari jadi berperang, masing-masing kelompok belum masuk ke arena perang. Keduanya masih menunggu kedatangan satu pasukan. Apalagi kalau bukan kelompok kelelawar.

Kegelisahan ini, mendorong Harimau mengutus Kancil untuk menunda perang, karena masih menunggu pasukan kelelawar.
“Maaf, saya utusan dari bangsa binatang darat, meminta agar perang ini ditunda sesaat. Sebab kami masih menunggu, pasukan kelelawar”.
“Ha!” Semua binatang bangsa burung terkejut.
“Kenapa?” Tanya Kancil heran.
“Kami juga sedang menunggu pasukan kelelawar”.
Mendengar laporan itu, baik kelompok Elang dan kelompok Harimau menjadi geram. Keduanya merasa dipermainkan oleh kelelawar. Sebab, sampai dua hari, meraka kemudian harus mencari kelelawar. Kedua kelompok ini, tidak kurang kalah pintar. Mereka menghadang, di tempat biasa kelelawar mengambil makanan. Dimana lagi kalau bukan di kawasan pohon beringin.

Tepat, kelelawar sedang pesta pora, memakan buah pohon beringin yang sedang dipersengketakan.
“Turun kau kelelawar!” Bentak Gagak hitam geram.
Semua kelelawar ketakutan. Perlahan, meraka turun.
“Kurang ajar Kau kelelawar! Kau sudah menangguk keuntungan, di tengah kericuhan ini. Kau sudah menodai bangsa binatang yang terbang. Kau mau enak sendiri. Dan membiarkan kami perang! Cuih!”
“Sekarang begini, kawan-kawan!” Elang, mencoba memberi penjelasan ke semua bangsa binatang. “Kali ini, Kelelawar telah melakukan kesalahan. Sekalipun dia menyelamatkan kita dari peperangan, sekarang kita tahu, watak kelelawar. Ternyata, kelelawar, hanya akan mencari keuntungan, di balik perseteruan kita. Ideologi kelelawar, yang mau cari keuntungan dari kerusuhan ini, harus dibunuh. Ini mentalitas yang sama sekali tidak bisa diterima oleh siapapun. Sebab, siapa saja yang bermental seperti kelelawar, pasti akan membuat keonaran, tetapi di balik semua itu, dia akan mengambil keuntungan, demi kepentingan pribadi dan kelompoknya”.
“Yang terpenting adalah, kita bagun kesadaran universal, dan bukan kesadaran sektarian kayak kelelawar”, Teriak Kancil.
“Lalu hukuman apa yang akan ditimpakan kepada kelelawar?”, Tanya Kambing hutan.
“Nah, karena kita ada dua kelompok, hukuman ini bisa diberikan dari kedua belah pihak”, Harimau memberi jalan keluar.
“Oke, sekarang dari pihak binatang darat dulu”.
“Baik, kalau begitu, kami sepakat, menghukum kelelawar, tidak boleh keluar siang. Dia hanya boleh keluar malam saja”, Ujar Singa mewakili binatang darat, melata dan mamalia.
“Dari kami, hukumannya, kelelawar, harus tidur tergantung dengan kaki diatas”, Ujar Elang mewakili bangsa burung dan biantang yang terbang.
Mulai hari itulah, Kelelawar, hingga sekarang, hanya keluar malam, dan setiap tidur, dia harus bergantung dengan kaki diatas.
Tetapi, sepertinya, hukuman ini, tak memudarkan bangsa kelelawar, untuk menyebar ideologinya. Hingga sekarang, negeri ini, masih banyak dihuni oleh manusia-manusia yang punya ideologi kelelawar. Mencari keuntungan dari kerusuhan dan konflik sesama, demi keuntungan pribadi. Dasar negeri kelelawar. Mestinya, mereka juga harus dihukum seperti kelelawar. (*)

DL.Daun – Palembang, akhir Juni 2002

YANG TERHORMAT HAJI FEODAL

Cerpen Imron Supriyadi

Harga kopi merangkak naik. Warga Desa Sukaningrat bersuka ria. Sebagian warga ada yang mengadakan acara khusus di rumahnya dengan membaca Suroh Yasin sebagai bentuk syukur mereka kepada Yang Maha Kuasa. Gelak tawa dan suka cita ini sekaligus mengembalikan semangat warga Desa Sukaningrat untuk kembali merawat kebun kopi yang beberapa tahun mereka lakukan tanpa harapan.

Raut wajah sumringah dan menebar senyum petani kopi Desa Sukaningrat telah menghibur mereka, setelah dalam kurun waktu 10 tahun mereka didera oleh anjloknya harga kopi. Pasca kepemimpinan Presiden Habibie harga kopi sempat terpuruk hingga Tiga Ribu Rupiah per kilogramnya.

Banyak warga Desa Sukaningrat yang kemudian harus banting setir menyulap kebunnya dengan menanami Palawija. Tetapi keuntungannya tidak sebanding dengan hasil kopi. Mereka akhirnya hanya hidup segan mati tak mau.


Derai air mata petani kopi kini telah usai. Mereka pantas tersenyum lega. Setiap warga bisa menikmati hasil antara 15 juta dalam setiap satu hektarnya. Sementara, warga Desa Sukaningrat mayoritas memiliki lahan kopi lebih dari 3 hektar. Sungguh, ini menjadi jawaban kesabaran yang mereka tahan selama bertahun-tahun.


Dari hasil kopi, ada sekitar 40 warga yang kemudian menunaikan ibadah haji ke Kota Makkah Mukarromah. Ritual keagamaan mereka lakukan saat mereka pulang kembali ke Desa Sukaningrat. Tidak disangka, dalam waktu relatif singkat, di Desa Sukaningrat yang dikenal rawan kriminalitas kini berubah menjadi “Desa Santri” Betapa tidak? Adanya 40 orang yang kemudian menulis di depan namanya dengan “haji” menjadi simbol ketokohan seseorang, terutama dalam bidang agama. Mereka merasa banga dengan gelar itu.
“Apa? Ketokohan?! Penguasaan ilmu agama?!” Abah mencibir pada gelar itu. “Saya tidak akan menggunakan gelar haji, meskipun saya sudah 2 kali pergi ke Makkah, jauh sebelum 40 orang itu berangkat ke Makkah,” Abahku protes keras
dengan rencana pertemuan 40 haji yang baru saja pulang di Balai Desa.

“Lim, coba kamu pikir! Gelar haji itu bukan gelar istimewa. Pergi ke Makkah bukan hanya sekedar ingin mendapat gelar haji setelah pulang ke Indonesia! Tapi gelar haji sebuah pertanggungjawaban moral, bagaimana sikap muslim dalam menyikapi hidup ini dengan lebih bijak, lebih arif dan lebih manusiawi setelah mereka pulang!” suara Abah makin meninggi. 

Wajahnya menunjukkan kekecewaan terhadap sebagian haji yang hanya bangga dengan gelarnya. Dadanya serasa penuh. Kalau sampai meledak, mungkin dapat menghempaskan semua isi rumah. Tangannya mengepal menekan permukaan meja. Emosinya seperti menyalur kebeberapa sudut meja. Air teh tadi sore juga ikut bergetar. Abah seperti seperti dendam Ikan Paus terhadap Ikan Hiu yang memakan anaknya. Dalam posisi itu, sebaiknya aku harus menjauh. Tapi kalau itu aku lakukan aku bisa menjadi sasaran amarahnya.


“Kalau setiap orang pulang dari Makkah digelari haji, kenapa jutaan orang muslim yang syahadat, shalat, zakat, puasa tidak disebut Bapak Syahadat, Tuan Shalat Hasan! Yang terhormat Bapak Zakat Hasan dan Bapak Puasa Hasan! Yang ada Haji Hasan! Kenapa hanya haji yang mereka letakkan di depan nama mereka?!"


“Mungkin karena Haji harus mengeluarkan uang banyak, sehingga mereka…!”
“Brak!” Abah menggebrak meja. Aku terkejut. Aku jadi sasaran kali itu.
“Lim, dengar oleh kamu. Uang yang diserahkan itu untuk biaya transportasi dan keperluan di Makkah, bukan untuk membeli haji!” Abah menatapku tajam.
“Abah mau minum air putih?” kataku meredakan emosinya. Abah tak menolak saat kemudian aku menuangkan air putih dan menyodorkan di hadapannya. Syukur Alhamdulillah, Abah kemudian menenggak air putih sampai tak tersisa setetespun. Melihat caranya minum, Abah seperti orang yang baru saja menahan puasa tiga hari tiga malam. Untung gelas yang dipegang tidak remuk oleh getaran emosinya.
“Astaghfirullahaladziiim,” beberapa kali Abah mengucap istighfar, mohon ampunan kepada Tuhan. Ia sadar kalau emosinya telah mengundang syetan di ballik jantungnya. Ia menengadahkan kedua tangannya keatas. Aia setengah menyesal.


Ia sodorkan lagi gelas kosong padaku. Kutuangkan lagi. Untuk kali kedua, Abah menenggak air putih sampai tak tersisa. Ia menghela napas. Aku lega. Air putih itu ternyata telah sedikit mengurangi ketegangan otot syaraf di kepala Abah. Mungkin tidak salah jika aku mulai lagi dengan perdebatan yang lebih dingin. Kucoba mencari kalimat rendah, agar emosi Abah tak naik lagi.
“Bah, menurutku, kita tidak mungkin bisa merubah tradisi itu, Bah,” kataku pelan. Aku berharap dengan kalimat ini tidak menaikkan spaning. “Bukan di kampung ini saja, Bah. Tetapi di semua pelosok tanah air Indonesia ini, gelar haji seakan menjadi gelar istimewa. Setiap haji kemudian diberi hak untuk memimpin kegiatan keagamaan, walaupun sebenarnya mereka tidak menguasai. Dari menjadi imam shalat, berdoa, sampai menjadi khotib jumat,” kataku setengah mengamini pendapat Abah.


“Nah, itu yang Abah maksud, Lim,” pancinganku kena kali ini. Abah tak pula terlalu emosi. Kali ini bicaranya lebih dingin dari sebelumnya. Nadanya rendah. Kecerdasan emosional Abah baru mulai tampak. Detak jantungku juga reda.


“Penguasaan ilmu agama, alim atau tidak alim itu bukan diukur dari gelar haji. Sebab mereka berangkat ke Makkah untuk memenuhi panggilan Allah, bukan untuk mendapat gelar haji. Setelah pulang, bukan berarti kemudian mereka harus diangung-agungkan. Tapi itulah Lim, bisa kau lihat sendiri, kan? Saat ini masih banyak orang menyandang gelar haji, tapi masih juga korupsi. di Makkah, mereka melempar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap syetan. Tetapi setelah pulang ke Indonesia, mereka berkawan lagi dengan syetan,” Abah seperti ustadz sedang berceramah di masjid.
“Tapi kenapa gelar haji di Indonesia ini seperti sesuatu yang sakral, Bah,” aku memperlebar pembicaraan.
“Belanda sudah lama meninggalkan kita. Jadi negeri ini tidak perlu mewarisi tinggalan Belanda itu!,” kalimat Abah melenceng jauh dari pertanyaanku. Aku bertanya soal haji, mengapa Abah bercerita tentang Belanda. Sesaat aku diam. Abah menatapku. Ia kemudian tertawa lebar. Aku makin tidak mengerti. Abah tahu persis kalau aku sedang bingung kali itu.
“Belanda?!” aku bertanya pelan. Aku masih menunggu ucapan lanjutan dari mulut Abah. Kali kedua Abah tertawa lebar. Mulutnya masih mengepulkan asap rokok. Ia bangkit. Kali ini Abah duduk lebih dekat. Ia raih bahu kiriku. Seperti ada pesan serius yang akan ia sampaikan. Mataku mengikuti gerakan Abah, sampai ia duduk di dekatku.
“Lim, berapa lama Belanda menjajah kita?”
“Kalau menurut sejarah di buku 350 tahun,” jawabu pendek.
“Lalu berapa lama negeri ini dijajah oleh bangsa asing?”
“Maksud Abah?” aku makin penasaran.
“Belanda, Jepang menjajah kita dihitung oleh sejarah dengan bilangan angka. Tetapi penjajahan bangsa asing setelah itu tak terhitung dengan urutan matematika,” aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan Abah.
“Penjajahan 350 tahun dan Jepang 3 tahun. Itu penjajahan yang berbentuk fisik. Mortir, bom dan mesiu, dor..dor..tembak!, itu yang 350 tahun, Lim,” Abah menjelaskan dengan gaya teaterikal. Ia peragakan bagaimana para pejuang menembak mati Belanda. Abah seperti sedang kembali pada masa lalunya, saat bergerilya bersama Panglima Jenderal Sudirman melawan Kolonial Belanda dan Jepang.
“Lantas apa hubungannya haji dengan Balanda, Bah?” aku mengembalikan tema pembicaraan yang menurutku melenceng jauh.
“Walaupun kata orang kita sudah lepas dari penjajah, tapi sebenarnya sampai saat ini kita masih terjajah, Lim. Penjajahan sekarang tidak bisa dihitung dengan angka-angka,” Abah masih menceritakan penjajah. Lantas bagaimana hubugannya dengan haji? Aku berpikir keras untuk mencari titik temu antara haji dan Belanda.
“Penjajahan pemikiran dan ideologi, sampai saat ini masih begitu mengakar. Kita lepas dari mortir, bom Belandadan Jepang! Tapi perilaku, pola pikir dan cara pandang, tata budaya kita masih seperti Belanda. Dan salah satu warisan itu bernama, Haji!” Abah bicara sangat dekat dengan telingaku. Ia seakan menekankan kalimat “haji” sebagai inti pokok persoalan yang ingin ia sampaikan padaku.
“Haji!?” aku masih penasaran.
“Yap! gelar haji adalah warisan feodalis Belanda,” tegas Abah tanpa ragu.
“Jutaan orang Islam pergi ke Kota Makkah menunaikan ibadah haji. Tetapi hanya Indonesia saja yang kemudian digelari haji oleh masyarakat. Di Negara lain, mana ada gelar haji, Lim!” Abah melebarkan bibirnya hingga tampak sebagian giginya yang hitam kuning-kuningan akibat terlalu lama Abah mengisap nikotin.
“Abah kok jadi ngelantur?”
“Masyarakat kita yang ngelantur, akhirnya salah kaprah dengan gelar haji,” kata Abah ringan. Aku menunggu argumentasi Abah tentang tuduhan haji sebagai warisan Belanda. Tapi Abah masih diam memandangku. Abah makin mengaduk-aduk otakku kali itu. Aku masih penasaran.
“Pendapat Abah ini bisa membuat orang marah, Bah. Sebab sampai saat ini hampir tidak ada yang tahu kalau haji itu warisan Belanda,” aku memancing argumentasi Abah. Ingin aku segera mendegar penjelasan Abah. Sebab ini adalah kabar baru yang tak pernah kudapat sebelumnya.
“Itulah pentingnya belajar sejarah, Lim. Tapi berapa banyak masyarakat kita yang peduli dengan sejarah? Malah sebaliknya, sebagian orang sedang berusaha membunuh dan memutarbalikkan sejarah. Soeharto dengan penumpasan PKI, sedang membunuh sejarah perjuangan Soekarno, dengan tuduhan Soekarno terlibat PKI. Bagaimana mungkin Soekarno melakukan kudeta terhadap dirinya sendiri, sementara dia sedang dalam posisi sebagai presiden seumur hidup? Kalau mau, Soekarno kan bisa saja memecat para jenderal yang tidak satu jalan dengan dia, tidak mesti dibunuh! PKI yang dituduh sebagai otak pemberontakan, mengapa dia tidak siap saat dilakukan penangkapan oelh Soeharto!? Mestinya, dengan jumlah 3 juta anggotanya, PKI bisa melakukan perlawanan. Tapi ini tidak, Lim!?” kalimat Abah makin tidak fokus. Abah makin liar. Kalau dibiarkan, akan menaikkan spaning Abah. Wajahnya sudah mulai serius. Sebentar lagi Abah akan kembali ke masa lalunya. Dendam terhadap Belanda itu bisa meledak di rumah ini seketika. Gawat!
“Bah, Abah tu cuma minum teh dan air putih. Tapi kenapa Abah jadi seperti orang mabuk. Sampai-sampai cerita PKI-lah, Sorekarno-lah. Yang kita bahas ini Haji! Haji, Bah!” aku makin kesal dengan Abah yang makin tidak jelas. Tapi dengan kalimat ini aku ingin mengambalikan ingatan Abah.
“E, iya. Sori. Abah terlalu ngelantur. Tadi apa? Haji?”
“Iya Haji itu warisan Belanda. Jadi Belanda sengaja menerapkan strategi politik struktural feodalistik dengan gelar-gelar ningrat dan gelar haji,” Abah kembali pada kesadarannya.
“Kenapa Belanda melakukan itu, Bah?”
“Ini untuk memudahkan Belanda dalam memetakan para tokoh, siapa tokoh-tokoh yang berpengaruh. Kalau diantara mereka melakukan pembelotan bersama rakyat terhadap pemerintah Kolonial Belanda, dengan mudah Belanda menciduk dan mengasingkan mereka. Makanya, beberapa tokoh agama di negeri ini yang menggali ilmu ke Mesir, Kairo dan sempat menunaikan ibadah haji ke Makkah, setelah pulang disambut oleh Belanda dengan penobatan gelar haji. Anehnya, masyarakat kita menerima saja. Mereka tidak berpikir kalau gelar ini adalah perangkap Balanda. Ya, sama dengan gelar ningrat. Siapa yang mendapat gelar haji atau gelar ningrat, dalam setiap pertemuan akan menjadi tamu kehormatan. Keturunan mereka diberi hak untuk ikut sekolah Belanda. Setiap bulan mereka mandapat semacam gaji bulanan sebagai bentuk penghargaan. Ini kata mereka!” api kebencian terhadap Belanda itu mulai meranjak ke ubun-ubun Abah. Mata Abah mulai membulat seperti purnama. Tapi sinarnya tidak terang kekuning-kuningan. Ia memerah seperti matahari yang hendak tenggelam diufuk barat.
“Bah! Abah!” seseorang memanggil dari luar. Aku bersyukur. Suara itu kemudian membuyarkan api dendam yang hampir membara.
“Nanti malam, Abah diminta mengukuhkan haji di Balai Desa,” Udin bicara tak melihat suasana emosi Abah.
Abah memandang Udin serius. Udin jadi kikuk. Bibirnya gagap seperti tersangka sedang diperbal polisi. Bola matanya melompat-lompat kearah Abah dan kearahku secara bergantian. Udin menunggu jawaban Abah. Tak ada suara dari bibirnya. Abah melangkah lebar meninggalkan kami. Aku dan Udin hanya saling pandang. Kami tidak mengerti dengan sikap Abah. Sesaat kami berbincang seadanya mengisi suasana yang gagu. Tak lama Abah kembali. Selembar kertas diserahkan pada Udin. Ada tulisan besar di atasnya; “Atas nama kebencian terhadap Belanda, saya gelari anda sebagai Haji Feodal!” (*)

BTN Krg. Asam - Tanjung Enim,
21 September 2008 M
21 Ramadhan 1429 H

Seekor Belut

Cerpen Imron Supriyadi

Seekor belut. Kata orang, aku ini seperti ular. Badanku panjang. Bedanya, kalau ular, memiliki kulit yang bervariasi. Sedang aku, lebih didominasi oleh warna cokelat tua. Dan sisi paling bawah dari badanku agak kekuning-kuningan. Kepalaku seperti peluncur dalam permainan catur. Kata John, orang sebelahku, mahluk seperti aku sulit yang sulit dipegang, apalgi ditangkap. Bukan apa-apa. Sebab, sekujur tubuhku memang mengandung lendir yang sangat licin. Dengan lendir di sekujur tubuhku, aku bisa leluasa untuk berkelit. Memutar badan, ke kanan dan ke kiri. Atau memutar, sehingga aku bisa lepas dari jeratan apapun. Sehingga, tidak semua orang bisa menangkapku. Selihai seorang pawang binatang, mungkin, tidak akan semudah itu bisa menjeratku. Sekalipun, sesekali, aku ditangkap, lalu dibantai lalu digoreng.
Bahkan di Magelang atau di Yogyakarta, aku sudah menjadi komoditi non migas. Dijual di berbagai toko. Dibungkus sedemikian rupa. Lalu ditempel dengan harga bersaing. Tetapi, sekali lagi. Aku tetap saja seekor belut.
Sampai kini, aku juga masih menjadi belut. Tak tahu persisnya, kapan aku mulai berada di Indonesia. Konon, aku berasal dari negeri cina. Bahkan, menurut teman-temanku, di negeri Tionghoa ini, aku dibudidayakan. Diternakkan, dan diperjual belikan. Hingga akhirnya, aku sampai di Indonesia. Di negeri Pancasila ini, aku ditumbuh kembangkan di wilayah Yogyakarta, Magelang dan sekitarnya. Di dua kota ini, aku kemudian berkembang di setiap kawasan sawah. Bagi para pembajak sawah, akan selalu bertemu dengan aku. Dan pada malam hari, tidak jarang, para warga sekitar, sering mencari dan memburuku untuk lauk di meja makan. Kata, salah satu pakar belut, aku ini punya gizi tinggi. Sekalipun, aku masih kalah dengan gizi sapi atau ayam.
Di dua kota ini, aku sudah masuk di super market atau pasar swalayan. Kadang aku dibuat keripik, atau semacam peyek. Dan tidak jarang, aku juga banyak dijumpai di hotel-hotel kawasan Yogyakarta dan Magelang. Bahkan, aku kini sudah menjadi komoditi ekspor non migas. Tetapi, di kota lain, seperti Palembang. Aku justeru menjadi mahluk yang kurang digemari. Sebab, pamorku masih kalah dengan ikan seluang, Betok, ataupun ikan Patin. Tetapi, kurang gemarnya warga palembang untuk menjadikanku sebagai bahan tambahan ekonomi Sumsel, tidak membuatku merasa terusir dari Palembang. Teman-teman sebangsaku di air dan di lumpur, cukup toleran dengan kehadiranku. Kami tak kenal pembedaan perlakuan. Kalau pun harus bertengkar, itu hanya sebagai warna hidup dalam komunitas kami.
Aku hanya seekor belut. Aku hidup dalam ketergantungan cuaca. Pada musim hujan tiba, aku sering muncul di pojok-pojok selokan. Atau muncul di permukaan sawah. Bahkan tak jarang, aku muncul juga di bawah rumah panggung yang permukaanya lembab. Hadirnya aku di bawah kolong, kadang-kadang menjadi incaran para mahasiswa yang kebetulan kost, tempat aku bersembuyi. Kalau senja menjelang, para mahasiswa mengintai rumahku, lalu memasukkan kail penjerat. Untuk kemudian, aku akan dijadikan lauk pada malam harinya. Katanya sih, untuk membantu tambahan gizi. Paginya, aku sudah berubah menjadi tinja, setelah sebelumnya, aku harus bercampur aduk dengan segala makanan di perut. Tetapi, aku masih saja seekor belut, yang hanya bisa hidup di tempat-tempat basah atau sedikit lembab, mengandung air. Kalau musim kemarau tiba, aku segera membenamkan diri ke dalam perut bumi. Menyembunyikan diri, sambil menunggu musim hujan tiba. Hanya sesekali aku keluar ke permukaan. Ya, hanya sekedar membantu pernapasan, demi kelangsungan hidup di dalam tanah. Tapi celakanya, aku juga tidak jarang tertangkap oleh para pencaribelut. Sebab, di kawasan Magelang, paling tidak satu Minggu sekali, apalagi jika purnama tiba. Banyak para pencari ikan yang kemudian mengalihkan buruan. Siapa lagi kalau bukan aku yang menjadi sasaran. Tersiksa memang, tetapi itulah caraku untuk mentaati hukum alam. Karena Tuhan telah menciptakanku menjadi belut. Seperti juga kambing punya cara sendiri untuk mentaati titah Tuhan. Setiap hari raya Kurban, setiap kambing harus bersedia untuk dipotong, sebagai bentuk kedekatan manusia pada Sang Pencipta.
Aku masih tetap seekor belut. Aku hidup seperti mahluk yang lain. Tetapi, aku tak pernah menjalani perkawinan seperti hewan lain, kecuali bekicot, atau hewan sejenisku. Kapan saja, dimana saja, aku bisa saja melakukan persenggamaan. Tak perlu harus menunggu lawan jenis untuk mendekatiku--lalu melakukan persenggamaan, seperti halnya manusia. Aku adalah hewan hermaprodit. Memiliki dua kelamin. Jadi, aku tak mesti susah-susah jika aku sedang menginginkan naluri kebinatanganku. Bagiku, hubungan badan bukan semata-mata hanya untuk mengumbar naluri hewani. Namun, bagiku, persenggemaan kewajiban. Dan ini adalah fitrah setiap mahluk hidup. Secara simbolis, Tuhan telah menciptaku dengan dua kelamin. Itu artinya, kami juga tidak kenal dengan perzinaan. Hanya manusia saja yang kadang-kadang tidak bisa menahan ekor kebinatangannya, lalu tanpa sadar, manusia sering meniru-niru caraku, atau tidak jarang mereka juga memposisikan sebagai binatang hermaprodit. Melakukan persenggamaan dengan dirinya sendiri. Ah, dasar manusia!
Aku hanya seekor belut. Sulit ditangkap. Pintar berkelit. Jika aku dalam jeratan, aku akan mengecilkan badan. Ini adalah caraku untuk lepas dari dekapan. Diatas wajan penggorengan pun, aku masih menggeliat. Aku memang pintar mencari celah untuk berlari dari ranjau. Setiap ada rencana penagkapan, akan kugunakan segala cara, untuk lepas dari perangkap. Bahkan diatas wajan penggorengan pun, aku masih mencoba menggeliat, untuk melompat dari panasnya minyak dan bara api. Memang, ini adalah pekerjaan sia-sia. Tetapi, selagi ada kemampuan untuk berlari, aku akan terus berkelit, berputar, mengecilkan badan, membelit atau juga menggigit. Kecuali, jika Tuhan sudah memintaku untuk kembali.
Aku hanya seekor belut. Bisa dikata, aku juga hewan yang mudah kompromi. Dalam air, aku bisa renang, dalam arus besar sekalipun. Apalagi dalam riak-riak yang kecil. Dalam setiap cara aku bisa bermain. Tetapi, tidak pada setiap cuaca aku bisa hidup. Sebab, sekali lagi, aku hanya hewan yang hidup di tempat yang basah. Jadinya, aku tak pernah bermain di tempat yang kering. Aku tahu, cuaca kemarau yang kering, hanya akan melemahkanku, atau bisa juga akan membunuhku. Makanya, aku memilih tempat yang basah, ya paling tidak pada tempat yang lembab, supaya aku tetap bisa survive.
Aku hanya seekor belut. Aku bisa bermain culas. Bis lebih culas dari seekor Kancil. Aku juga bisa menipu. Bisa lebih pintar dari labi-labi atau kura-kura yang sering menipu menjadi batu. Aku licin. Lebih licin dari ular, ikan, lintah atau pacet. Dalam setiap gerakan tipu, aku sulit terperangkap oleh jeratan. Sebab, aku pintar bermain. Bisa berteman dengan semua jenis ikan sungai. Kalau sudah terpojok, aku juga sering menggunting dalam lipatan, demi kelangsungan hidup di komunitasku. Itulah aku, yang kini tetap menjadi belut.
Aku hanya seekor belut. Kemarin, aku tertangkap. Dibantai. Perutku dibedah. Seluruh isi dikeluarkan. Dicuci dan digarami. Pedih!
“Boleh saja kalian membantaiku, namun, aku akan tetap ada”.
Ayah bengong mendengar suara itu.
“Siapa yang berkata barusan?”
Ayah bertanya-tanya.
“Aku!”
“Siapa?”
“Aku, belut yang ada dalam ember!”
“Tak mungkin. Tak mungkin. Kau sudah mati!”
“Ya aku memang sudah mati. Tetapi cara hidupku, dan semua kepintaranku bermain dalam arus apapun, sudah menjelma kepada setiap manusia!”
“Manusia yang mana? Aku tidak!”
“Aku ada dalam tubuh para poitisi!”
“Lalu?”
“Para ekonom, bisnisman, preman, bisa para petinggi negara dan...”
“Blek..blek!..”
Sebuah benda keras kembali memukulku. Aku mengeliat.
“Kau pukul aku? Tak ada artinya. Sebab aku tetap seekor belut”
“Blek...blek!”, Kali ini Ayah memukul lebih keras.
Aku mati. Dan mungkin, aku hanya hidup dalam setiap watak setiap mahluk. Termasuk juga manusia. Keculasan, pintar berkelit, mencuri lendir pelicin, mudah kompromi, dengan setan sekalipun. Selagi itu menguntungkan aku. Kenapa? Sebab aku seekor belut. **

Angkatan45-Palembang, Januari 2001